Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jihad Menangkal Hoax

TANGKAL-Hoax (dok layar/us)
SEMBILAN
-Februari 2022 lalu, insan pers baru saja memperingati Hari Pers Nasional (HPN). HPN hadir, agar pers sebagai pilar demokrasi, bisa mengawal kebijakan public on the track, berpihak kepada rakyat, hingga menjadi sarana informatif yang mencerdaskan masyarakat. 

Tentu, hadirnya pers sebagai pemberi informasi objektif kepada masyarakat luas, harus didengungkan selalu. Dan yang tidak kalah penting, pers ikut berjuang (jihad) mengurangi kehadiran berita hoax yang hari-hari ini banyak berseliweran lewat share group WhatsApp dan medsos lainnya.

Hoax atau berita bohong, keberadaannya sungguh mencengangkan akhir-akhir ini. Peristiwa hoax yang terjadi, telah menjadi konsumsi masif jagat medsos. 

Akibat yang ditimbulkan, kegaduhan dikalangan rakyat akan berimplikasi pada luaran opini negatif (suudzon), hingga masifnya ujaran kebencian komunal. 

Yang menyedihkan bahkan, hoax seakan-akan menjadi “alat” yang sah untuk melakukan rekayasa digital dalam rangka menumbangkan orang lain demi kepentingan sesaat. 

Hoax juga digunakan (sebagai alat) untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa ditengah penguatan NKRI yang tiada henti diperkuat.

Melihat urgensi perlawanan terhadap hoax, HPN kali ini pas sebagai sarana mengedukasi masyarakat lebih cerdas, untuk tidak lantas percaya sebelum informasi itu di-check kebenarannya. 

Memang, langkah check and recheck terhadap informasi yang diterima di medsos belumlah dilakukan oleh masyarakat kita yang baru adaptif terhadap digatilisasi teknologi. 

Yang banyak justru, informasi yang ada, ditelan mentah-mentah. Hingga kemudian, melahirkan opini negatif baik individu maupun komunal terhadap aneka kebijakan pemerintah yang berujung letupan konflik horizontal grassroot.

Melihat kenyataan tersebut, seiring dengan digitalisasi informasi, bagi penulis, pers perlu selalu aktif memberikan informasi objektif, berimbang kepada masyarakat atas berita yang disajikan. 

Terlebih, kehadiran informasi bagi masyarakat itu diperlukan untuk menambah pengetahuan yang cukup tentang diri dan lingkungannya. 

Dengan pengetahuan yang cukup, menurut Rahmat Petuguran dan Saroni Asikin (2020:1-2), masyarakat akan mampu membuat keputusan secara tepat sebagaimana nilai-nilai ideal yang diyakininya dan memperjuangkan ideologisnya menjadi nyata. 

Jadi Peneduh 

Pada sisi yang lain, pers di era kekinian perlu menjadi edukator. Artinya, peran konkrit insan pers perlu selalu mengkampanyekan anti hoax berwujud komunikasi tulis yang apik kepada lapisan masyarakat harus selalu didengungkan. 

Terlebih, komunikasi tulis sendiri dalam pandangan Prof. Dr. Suherli Kusmana (2016:1-2), dapat menembus ruang dan waktu. 

Hadirnya komunikasi tulis yang dilakukan oleh insan pers, tidak terbatas pada kehadiran pembaca dalam satu ruang. Lebih dari itu, dapat dibaca pembaca pada waktu yang berbeda. Hari ini, sebulan mendatang, atau bahkan satu tahun bahkan sepuluh tahun yang akan datang, komunikasi tulis tersebut tetap bisa dibaca laluasa.

Hal itu bisa dilakukan dengan intensif mengadakan pelatihan jurnalistik ke lembaga pendidikan -dari menengah, atas, kejuruan dan PT-, kemudian organisasi kepemudaan, ormas keagamaan dan lainnya agar produk jurnalistik yang dihasilkan secara mandiri sesuai dengan kaidah jurnalistik. 

Antara lain, singkat dalam arti tidak bertela-tela, lugas atau penyampaian informasi secara langsung, hingga menggunakan pemilihan kata (diksi) yang baik dan masih banyak lainnya.

Selain itu, hadirnya insan pers pada fungsi edukatif, juga dalam rangka menelurkan informasi yang bermanfaat. Di mana, informasi dikata bermanfaat bila memenuhi tiga kriteria. 

Mulai dari benar dari sisi kualitas, cukup berkaitan dengan kuantitas dan relevan berkaitan dengan kesesuaian antara jenis berita dengan kebutuhan informasi yang diperlukan masyarakat di lokasi dan pada waktu tertentu. 

Jika hal itu dilakukan, maka portal website lokal lembaga pendidikan dan lainnya akan mampu memproduksi berita yang kaya akan makna dan nihil dari unsur hoax

Karena secara sistematika kepenulisan, sudah mendapatkan pelatihan yang luarannya menghasilkan produk-produk informasi peneduh terhadap penguatan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara berbasis lokal.

Jika insan pers sudah melakukan hal tersebut, tentu muaranya segenap komponen akan ikut berpartisipasi menangkal hoax sebagai hasil dari kemelekan bahasa jurnalistik yang disebar luaskan. 

Terlebih, generasi milenial yang memiliki kecanggihan update terhadap kemajuan teknologi, kiranya juga perlu dijadikan objek garapan kemelekan bahasa jurnalistik. 

Tujuannya, agar produktifitas yang dimiliki, ikut menangkal hoax utamanya saat menjelang pilpres, pilkada dan pemilihan-pemilihan lainnya. 

Hal itu penting, agar generasi milenial jangan sampai tutup mata, abai, atau bahkan menjadi aktor terhadap gejala hoax yang seolah-olah sudah menggurita, melainkan perlu beringan-tangan ikut menanggulanginya. 

Sebagai penutup, untuk insan pers semua, kami bangga kepadamu.

Penulis:

Usman Roin adalah Dosen Prodi PAI UNUGIRI Bojonegoro dan Mahasiswa Doktor UIN Walisongo Semarang.

2 komentar untuk "Jihad Menangkal Hoax "

  1. Terimakasih bapak atas informasi yg sangat bermanfaat ini, sbg nasihat untuk menjunjung tinggi nilai kejujuran di Medsos dan masyarakat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Najib., semangat menulis., dan mari kota perangi hoax pokonya.

      Hapus