Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Bila Menulis Kudu Disiplin

SMART-menulis (dok/orami.co.id)

BICARA-menulis, banyak dari kita “ingin”, “ingin”, dan “ingin” menulis. Celakanya, kita lupa, bila menulis yang sebatas keinginan, itu belum berwujud action (tindakan). Itu baru sebatas angan-angan, belum riil menulis di kertas, mengetik di gadget, laptop, atau personal computer (PC). 

Pertanyaannya, jika baru lamunan, angan-angan, atau “raja penghayal” kata Dr. M. Mufti Mubarok (2011:37), “menulis” selamanya tidak akan pernah terlaksana. Niat kita pupus sebatas niat. Dan pada wilayah aplikasi, nihil bin nihil “menulis” jadi aktivitas keseharian. 

Lalu, apakah menulis perlu dipaksa?

Sekadar ilustrasi. Untuk bisa naik sepeda, tentu dimulai dari latihan naik dulu. Kemudian mengayunkan pedal, jatuh di got, menabrak tiang berkali-kali, dan itu harus dilakukan berulang-ulang bila ingin bisa bersepada.  

Contoh yang lain, untuk bisa mengendarai motor, maka dimulai naik terlebih dahulu. Kemudian memasukkan persneling (bagi: non matic), digas pelan-pelan hingga kemudian berjalan, dan perilaku tersebut harus dilakukan berkali-kali pula bila ingin lihai mengendarainya. 

Jika kemudian keinginan bersepeda atau mengendarai motor sebatas “angan-angan”, tentu keinginannya ya sebatas “angan-angan”. Tidak akan pernah sampai bisa bersepeda, atau mengendarai motor sampai kapanpun. 

Begitu pula bila kita yang ingin bisa menulis. Menulis bukan sebatas angan-angan. Menulis adalah aktivitas konkrit, nyata, merangkaikan kata demi kata, kemudian jadi kalimat, paragraf, hingga jadilah tulisan utuh.  

Jika hal di atas sudah bisa, apakah sudah cukup? 

Pertanyaan di atas menarik untuk dijawab. Begini! Menulis yang hanya dilakukan sekali seumur hidup, tentu berbeda dengan menulis yang dilakukan setiap hari. Bila menulis dilakukan sekali seumur hidup, alias jarang, kadang-kadang, langka, itu semata-mata karena terpaksa untuk menyelesaikan tanggung jawab, tugas, dan sebagainya. Namun bila menulis dilakukan setiap hari, itu karena sudah jadi pembiasaan yang wajib dilakukan.  

Berkaitan dengan pembiasaan menulis, artinya dalam sehari kita mengalokasikan  waktu satu jam, dua jam, dan seterusnya untuk fokus menulis. Lha, perilaku seperti inilah yang namanya disiplin dalam menulis, yang dalam bahasa Akbar Zainudin (2015:108), seorang penulis best seller “Man jadda wajada”, berarti  mematuhi semua target untuk menulis yang sudah direncanakan, dibuat tertulis, hingga yang sebatas terekam diangan-angan. 

Disiplin menulis sendiri, bertujuan untuk menghasilkan tulisan. Dari yang satu paragraf, bertambah dua, tiga, empat dan seterusnya. Dari yang setengah halaman, menjadi satu halaman. Dan dari satu halaman menjadi dua, tiga, empat, hingga berpuluh-puluh halaman. 

Intinya, mendisiplinkan diri setiap hari menulis, sama  dengan menambah kuantitas tabungan tulisan. Dari satu kata, kalimat, paragraf, halaman, jadilah satu tema tulisan siap saji. 

Selanjutnya, bila ada tema lain yang muncul ma-“cling” begitu, juga akan dirampungkan kepenulisannya dengan adanya disiplin menulis setiap hari. Jika demikian adanya, mengalokasikan waktu menulis setiap hari (disiplin), adalah proses merampungkan ide tulisan yang muncul, ditangkap, ditulis, ditulis, ditulis, baru kemudian diedit hingga selesai menjadi  aneka karya tulis orisinil bikinan kita. 

Lalu, kapan kita mau meluangkan waktu untuk menulis dalam sehari? 

Jawabannya, penulis kembalikan kepada pembaca untuk coba memulai detik ini, besok, lusa, tulat, tubin, bulan mendatang dan seterusnya. So, makin cepat menulis, produk karya tulis menanti lho. Makin lelet nanti, dan nanti mulai menulis; penulis yakin, pembaca lebih tahu kelanjutannya.

Penulis:

Usman Roin adalah Kolumnis Media Online dan Cetak, Peraih Anugerah Tesis Terbaik Tingkat Universitas di UIN Walisongo Semarang Tahun 2021, Wisudawan Terbaik S2 Prodi PAI pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang Tahun 2021, dan Penulis Buku 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020), Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013).

Posting Komentar untuk "Alasan Bila Menulis Kudu Disiplin"