Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Taaruf Anak Jurnalistik

FLAYER-PPDB SMP IT PAPB (dok/ig)

MENGAWALI-pembelajaran ekskul jurnalistik di SMP IT PAPB Semarang, saya sebagai pembimbing memiliki strategi off-face dahulu. Artinya, pertemuan perdana saya tidak tatap muka by virtual zoom dengan anak-anak.

Sebagai pembimbing, saya memilih menggali potensi anak-anak melalui potongan pertanyaan-pertanyaan ringan. Interaksi pertanyaan, yang feedback-nya terekam dalam jawaban “google form”, itu menjadi dasar sederhana melihat kemampuan anak cinta menulis.

Group WA anak jurnalistik, pada tahun ajaran 2021/2022, sudah dibuat oleh bu Annisa Tutut P, selaku pj Ekstrakurikuler. Walau jumlahnya sedikit, saya malah senang. Karena, selain mudah menilai, pengondisian anak-anak agar bisa memahami pembelajaran dengan baik menjadi misi saya.

Why Ekskul Jurnalistik itu Penting? 

Jawabannya sederhana. Pertama, sebagai media mengasah kemampuan menulis. Kreatifitas menulis itu akan dimiliki siapa saja. Syaratnya harus disiplin menulis, kata Akbar Zaenudin (2015:44) dalam buku “Uktub!:Panduan Lengkap Menulis Buku dalam 180 Hari”.

Bagi saya, apa yang disampaikan Akbar cucok banget. Bagaimana kita bisa punya karya cerpen, puisi, artikel, berita, bila kebiasaan menulis tidak pernah dilakukan. 

So, resep ringan dari bang Akbar tersebut cobalah kita lakukan bersama. Sehari mari sempatkan menulis. Bila tidak bisa, dua hari sekali menulis. Bila tidak bisa, seminggu sekali menulisnya, dst. Coba tulis apa saja dengan “disiplin”, agar kita segera punya karya.

Sepakat ya..!

Jawaban yang Oke

Sebagai pembimbing ekskul jurnalistik saya terkaget-kaget. Dari tujuh pertanyaan yang saya kirimkan by bit.ly/perkenalaneksjurnal, semua diisi dengan baik oleh anak-anak. Niat untuk belajar menulis mereka tinggi. Itu ditunjukkan dengan komitmen untuk mengikuti setiap tata tertib pembelajaran yang akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya. 

Yang bikin kaget berikutnya adalah, sudah ada yang ingin menjadi wartawan. Sebab, naluri ingin menginformasikan segala hal di ruang publik banyak disampaikan oleh anak jurnalistik.

Selain hal di atas, ada juga yang sudah jatuh cinta dengan jurnalistik. Sebab, di sekolah sebelumnya sudah pernah ikut. Hingga ada yang demen menganalisis sesuatu. Tentu, untuk bisa sampai pada analisa hal apapun, rumusnya punya keterampilan membaca dan menungkan kembali dalam bentuk tulisan.  

Good banget anak-anakku. 

Kedua, tangga mewujudkan cita-cita sebagai penulis. Bila di jenjang dasar, jurnalistik diperkenalkan kemudian digayung sambut jenjang menengah pertama, tangga menjadi penulis sudah diukir.

Untuk memperkuat, mutiara Islam-Arab mengatakan, atta’allum fi as sigari kannaqsi ‘alal hajari. Lihat buku “Mahfuzat” (2018:78). Artinya, belajar di waktu kecil itu bagaikan mengukir di atas batu. 

Dengan demikian, jika terdapat bekas ukiran di batu dengan belajar, tentu keterampilan menulis yang didalami, juga akan terukir menjadi skill “dewa” bila dengan sungguh-sungguh belajarnya.

Terlebih, skill menulis yang dimiliki memiliki korelasi positif untuk jenjang pendidikan selanjutnya. 

Sebagai contoh, di menengah atas/kejuruan hingga perguruan tinggi, menulis menjadi keahlian yang harus dimiliki untuk merampungkan tugas kepenulisan. Mulai dari resume buku, membuat makalah, hingga membuat tugas akhir kalau nanti menjadi mahasiswa.

Akhirnya, selamat datang di dunia menulis bersama ekskul jurnalistik SMP IT PAPB Semarang. 

Dunia ini kata M. Mufti Mubarok, dalam bukunya "7 Hari Mahir Menulis Buku Best Seller" (2011:vii), tidak akan mudah dikenali, bila nenek moyang kita tidak meninggalkan tulisan baik di candi, prasasti, lontar atau lainnya. Jika tidak ada itu semua (tulisan), susah sekali jejak sejarah kita ditelusuri.  

So, yuk belajar menulis, agar kita menjadi bagian pengukir sejarah dari tulisan yang ditorehkan.

Penulis:

Usman Roin adalah Alumnus Magister PAI pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) serta Penerima Anugerah Tesis Terbaik Tingkat UIN Walisongo Semarang Tahun 2021.

Posting Komentar untuk "Taaruf Anak Jurnalistik"