Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Idulfitri: Baju Baru atau Terbaik?

BAJU-baru Al Fath (dok/hermawan h)

TIDAK-bisa dipungkiri, Idulfitri selalu identik dengan baju baru. Tidak ayal, sepuluh hari sebelum lebaran pusat perbelanjaan mall, pasar, hingga toko online akan ramai dikunjungi dan banyak orderan. Bahkan, malam terakhir menjelang bulan Syawal tiba, keramaian tidak akan surut, melainkan akan semakin padat untuk mencari keperluan hari raya, salah satunya adalah baju baru.

Terkait baju memeriahkan Idulfitri, Islam sudah memberi panduan gamblang terkait apakah Idulfitri harus identik dengan baju baru? Atau cukup dengan baju baik saja! Sebab jangan sampai, karena tidak memakai baju baru tidak dikata lebaran. 

Terlebih, menurut Shofwan Al Banna (25) inti Idulfitri bukanlah baju baru (new clothes), melainkan pada kebaruan diri kita (the new you). Tentu, jika harus dipaksanakan dengan “baju baru” sebagai identitas Idulfitri, pertanyaan ringannya adalah, bagaimana dengan kaum duafa yang untuk makan saja kekurangan? Akankan mereka harus menuruti membeli “baju baru” sebagai identitas “sah” lebaran!

Dalam hal baju di Idulfitri, ada ulasan menarik Ahmad Muntaha pada laman islam.nu.or.id, di mana sang penulis mengutip hadis riwayat Al-Baihaqi dan Al-Hakim dengan redaksi, bahwa Rasulullah telah memerintahkan agar pada dua hari raya memakai pakaian terbaik. 

Hadis lain yang dikutip juga dari riwayat Al-Baihaqi bahwa Ibnu Umar RA memakai baju terbaiknya didua hari raya. Dan terakhir pendapat Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm (1393:248), bahwa Imam Syafi’i senang dalam dua hari raya orang yang keluar hendaknya memakai baju terbaik yang ditemukan.

Hadis, atsar, dan ijtihad ulama di atas adalah anjuran untuk memakai baju terbaik dihari raya. Adapun penjelasan gamblang tentang “baju baik” yang dimaknai dengan “baju baru”dinyatakan oleh pakar fikih Maliki, Syekh Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi dalam kitab Al-Fawakihud Dawani (tt.:651). Meskipun begitu, alasan memakai baju baru bukan untuk dipamerkan atau untuk gagah-gagahan semata dihadapan orang lain. 

Hal itu dalam pandangan Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi (2007:295) bagian dari pamer (riya’), yakni suatu perbuatan yang penuh kepura-puraan. Bukan lagi untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt, melainkan hanya untuk memenuhi hasrat ingin dipuji orang lain. sehingga yang ia dapatkan itu lebih rendah dari yang semestinya dia dapatkan dari Allah Swt. 

Esensi Idulfitri 

Bicara esensi Idulfitri, sangat menarik jika kita bercermin pada penyampaian Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i dalam kitab Kanzu an-Najah wa as-Surur (2009:263). Abdul Hamid menuturkan, tidak disebut dengan “id” bagi siapa saja yang hanya mengenakan pakaian baru, melainkan esensi “id” itu bagi siapa saja yang bertambah ketaatan kepada Allah Swt, serta menutup potensi bermaksiat untuk dirinya pasca “id”. 

Jika demikian adanya, apa yang disampaikan Abdul Hamid bagi penulis memberikan konstruksi berpikir yang benar kepada masyarakat, bahwa cara berpikir “id” sama dengan “baju baru” itu kurang benar.  

Tentu bila kita mengamini cara berpikir seperti itu, akan sangat nelangso orang-orang yang kekurangan secara material untuk memenuhi “baju baru” sebagai identitas Idulfitri? Dan sangat diskriminatif, karena kehidupan orang itu sangat berlainan dari sisi ekonomi. 

Justru konstruk berpikir moderasi yang arif, adalah semangat ulama memotivasi siapa saja yang masih menangi datangnya Idulfitri, kemudian dia tambah ketaatannya, itulah konstruk yang sahih berlebaran. 

Sehingga, pasca lebaran Idulfitri, tidak menjadi lenyap amal ibadah yang sudah ditempa satu bulan penuh di Ramadan. Yang sangat diharapkan adalah, kebaikan-kebaikan amaliah Ramadan; mulai dari salat tepat waktu disertai jemaah, deres Al-Qur’an hingga hatam, rajin salat malam, ringan bersedekah dan sebagainya, yang senantiasa ditebarkan hingga ditingkatkan kadarnya.

Sebagai konklusi, ada ungkapan menarik bahwa puasa kita itu masuk kategori berhasil menurut Dr. H. Tarmizi Taher (2003:144), bila hasil tempaannya berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari bagi diri dan orang lain. 

Terlebih, pasca lebaran, kita bersedia (open) untuk melakukan reformasi keberagamaan yang ditandai dengan peningkatan taat kepada Allah Swt, senantiasa menyegarkan hubungan antarmanusia dengan tuntunan Agama, serta bersedia untuk menolong yang kesusahan oleh dorongan empati melihat yang kekurangan di sekitar.

Dengan demikian, mari berlebaran dengan tanpa berkecil hati bila “baju” bukan “baru”. Cukup dengan “baju” yang terbaik untuk ikut berlebaran, kita sudah sampai pada esensi makna Idulfitri, bukan sekadar simbol “baju baru” tetapi tidak pernah berubah perilakunya meski sudah ditraining dalam bulan suci Ramadan. Selamat Idulfitri untuk semua yang semangat meningkat takwanya. Amin ya rabbal ‘alamin

Penulis: 

Usman Roin adalah Alumnus Magister PAI UIN Walisongo Semarang dan aktivis PAC  ISNU Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.

Posting Komentar untuk "Idulfitri: Baju Baru atau Terbaik?"

Berlangganan via Email