Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mandiri Belajar

RAJIN-belajar (dok/www.edumor.com)
SUDAHKAH-kita tertib belajar setiap hari? Pertanyaan kecil ini sengaja penulis pilih sebagai mukaddimah tulisan. Tujuannya, selain ingin kita coba bertanya kepada diri sendiri perihal pola belajar kita, penulis ingin meyakinkan bahwa belajar itu kudu tertib alias mandiri dan konsisten dilakukan setiap hari. 

Ide di atas penulis tulis, karena ada gejala “kebosanan” dalam belajar, dan “kerajinan” dalam memelototi gadget. 

Hasil studi Mei Mita Bella dan Luluk Widya Ratna (2018:300) menyebut, bentuk ketergantungan kepada teman dan asyik dengan gadget, menjadi penyebab internal mahasiswa malas belajar. Yang hal itu, masih ditambah dengan faktor eksternal oleh belum terciptanya lingkungan belajar yang dinamis –keluarga, kerabat, teman– untuk dijadikan protipe mahasiswa termotivasi belajar.

Melihat hasil riset di atas, mandiri dalam belajar harus kita lakukan. Mudahnya, setiap harinya, aktivitas belajar harus kita ciptakan untuk menguasai pengetahuan. 

Mengutip nadham “alala”, ta’allam falaisal maru yuladu ‘aliman. Bahwa kita senantiasa diminta untuk belajar, karena sebagai manusia kita ini tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu. 

Adapun bait selanjutnya, walaisa akhu ‘ilmin kaman huwa jahil, bahwa orang yang berilmu tidaklah sama dengan yang tidak berilmu. Penegasannya, orang yang berilmu memiliki nilai bahkan derajat yang tinggi dibandingkan yang tidak.

Sinau Saben Hari

Bait di atas memberi penegasan, bahwa kita tidak akan menguasai pengetahuan kecuali dengan belajar. Perlu diingat, ilmu bukan sesuatu yang bisa difotocopi secara instan. 

Harus ada usaha mempelajari, tekun dalam membaca, menelaah, meneliti, membuat resum, yang itu semua tidak bisa hanya “disempatkan”. Melaikan usaha, proses, aktivitas itu semua perlu “dijadwalkan”.

Belajar yang dijadwalkan setiap hari tentu memiliki paradigm berbeda dengan hanya sekadar menyempatkan belajar. Menjadwalkan belajar memiliki arti, kita betul-betul fokus belajar, membaca, menelaah, menulis, serta mengesampingkan hal-hal yang bisa mengganggu keterlaksanaannya. 

Adapun menyempatkan, lebih kepada perilaku formalitas, sekadar belajar, casingnya belaka, tanpa kesungguhan belajar, yang ending-nya pengetahuan tersebut tidak bisa menancap dalam otak kita.

Bila demikian adanya, tentu mandiri belajar yang penulis maksud adalah, kita menjadi sadar, bahwa aktivitas belajar kita munculkan setiap hari. 

Belajar harus kita jadwal menjadi rutinitas kita hingga kemudian menjadi kebiasaan yang kalau ditinggal akan “eman-eman” secara psikologis. Apalagi, hadis Nabi pun sudah jauh-jauh memerintahkan untuk senantiasa mencari ilmu mulai dari lahir sampai meninggal. 

Pengejawantahannya, rajin dan disiplin belajar setiap hari adalah pengamalan untuk menguasai pengetahuan apapun itu. Dalam dalam perpektif Prof. Made Pidarta (2013:3), bahwa dengan pendidikan kemudian menghantar kita dalam kasta kaum terdidik, adapun perihal kebudayaan melahirkan lingkungan akademik yang itu diperoleh dari ketekunan belajar. Sekali lagi, dari hasil disiplin belajar. 

Jika demikian, pilihannya hanya satu, disiplin belajar agar terbuka wawasan global, yang selanjutnya memunculkan kearifan diri untuk senantiasa dinamis dengan tuntutan masa depan. Salam mandiri belajar setiap hari.

Penulis:

Usman Roin adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro.

6 komentar untuk "Mandiri Belajar"

  1. Balasan
    1. Terima kasih pak Carik Edy., mugi2 saget yukani manfaat., 🙏

      Hapus
  2. sangat bermanfaat Pak Dosen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pak Guru, mugi2 yukani manfaat kagem sedayane pak., 🙏🙏

      Hapus