Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jurus Menulis Tembus Media dan Jadi Buku

WEBINAR-menulis (dok/us)

“MENULIS-itu mudah. Yang susah adalah, menyingkirkan ‘tidak’ menulis”. Apa yang disampaikan oleh Anton Wayu Prihartono selaku Pemred Harian Jogja, saat “Webinar Kepenulisan” dalam rangka 2 tahun Perpusnas Press, Rabu (28/7) via zoom meeting, sungguh menginspirasi penulis. Inspirasi ini selanjutnya penulis resume untuk pembaca yang ingin belajar menulis. 

Anton, kalau boleh saya panggil, memberikan tambahan amunisi dan semangat yang pasti, bahwa kegiatan menulis itu mudah. Utamanya adalah kita yang ingin tulisannya nongol di media cetak. 

Anton memaparkan, kenapa penulis pemula banyak yang gagal menembus dapur redaksi? Sebab, ada kesalahan yang dilakukan dan belum diketahui secara komprehensif oleh mereka. Kesalahan itu diantaranya, artikel yang ditulis tidak fokus. Bahasanya, kata beliau “ngalor ngidul”, kalau boleh penulis kutip.

Kemudian, dari sisi tema tidak kontekstual. Sederhananya, tema artikel yang ditulis tidak update dengan isu-isu kekinian, alias sudah basi. 

Hal yang lain, papar Anton, artikel yang ditulis tidak orisinal idenya sendiri. Melainkan lebih banyak mengutip sana  sini (plagiat). Adapun yang terakhir, artikel yang ditulis tidak memiliki ide yang baru. Bahkan, sampai tidak memiliki kesimpulan terhadap apa yang ditulis.

Solusi Lolos

Sebagai solusi agar tulisan kita tembus media, Anton memberi jurus ampuh menulis hingga kemudian tembus dapur redaksi media.  

Pertama, tema artikel kudu aktual/update/in/new, terhadap isu-isu kekinian yang terjadi. Jika demikian, sebagai penulis, membaca isu kekinian wajib dilakukan agar kebaruan tema artikel yang dibuat selaras dengan persoalan kekinian. 

Selain aktual, kata Anton, kita sebagai penulis dapat mengulas isu dengan sudut pandang yang berbeda (kontroversial). Catatannya, penyajian harus logis dan strong secara argumentasi. 

Atau bisa juga dengan memberi tanggapan terhadap tulisan penulis yang sudah muncul. Fungsinya, kata Anton, memunculkan ruang dialogis yang lebih argumentatif.

Kedua, kudu kuat, mendalam, dari sisi argumentasi yang dibangun. Dari mana itu bisa dilihat? Dari kelogisan secara nalar. Alhasil, mohon maaf, “tukang becak” sekalipun akan paham saat membaca tulisan yang kita buat.

Ketiga, panjang artikel juga harus disesuaikan dengan ketentuan redaksi. Ketentuan itu bisa dilihat pada sudut bawah atau atas rubrik kolom baik opini, artikel atau apapun namanya yang telah ditentukan oleh redaktur. Karenanya, tulisan yang dibuat kudu padat, ringkas alias tidak bertele-tele, serta populer yang dalam KBBI online mudah dipahami orang banyak.

Terkait ukuran berapa panjang tulisan yang dibutuhkan, redaktur memiliki ciri khas tersendiri terkait jumlah, yakni karakter. Sebagai contoh, Harian Jogja mamatok 5000-6000 karakter dengan spasi. Suara Merdeka 5000 karakter dengan spasi. Tribun Jateng 5000 karater spasi rangkap.

Keempat, menggunakan struktur kalimat, bahasa, dan tanda baca yang baik dan benar. Ukurannya adalah, bisa melihat Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia untuk struktur kalimat dan tanda baca. Adapun untuk kebakuan bahasa, melihatnya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) baik cetak atau online yang bisa didownload di ponsel. 

Sebagai contoh, tulisan “sekedar” itu ejaan lama. Yang terbaru adalah “sekadar”. Kata yang lainnya, “original” sebagai ejaan lama. Ejaan yang terbaru adalah “orisinil”. Atau kata lainnya “faham” bakunya “paham”, “lembab” bakunya “lembap”, “hutang” bakunya “utang”, dan lain sebagainya.

Adapun yang kelima, buatlah judul yang memikat, kata Anton. Karena dari judul yang memikatlah, redaktur akan terpesona, tertarik untuk memilih hingga kemudian nongon di media baik cetak atau online.

Solusi menulis tembus media yang dipaparkan Anton di atas, itulah hakikat makna bahwa menulis itu mudah. Kemudahan menulis, lalu tembus media, itu karena kita sudah tahu caranya. Yang sulit adalah, langkahnya saja yang belum kita ketahui. 

So, mari singkirkan ‘tidak’ menulis, lalu disiplin menulis, agar lahir puluhan, ratusan, hingga ribuan karya tulis kita. 

Membikin Buku

Setelah kita memiliki puluhan atau ratusan karya tulis, baik artikel, cerpen, puisi dan lainnya yang sudah terpublis di media, ternyata hal itu bisa dibuat menjadi buku, kata Yanuardi Syukur, yang selain dosen, penulis buku, juga Presiden Rumah Produktif Indonesia. 

Yanuar dalam paparan menyakinkan, bahwa diantara sumber naskah hingga kemudian menjadi buku bisa didapatkan dari, status medos yang kita tulis. Mulai dari status di facebook, twitter, instagaram, WA, dan lain sebagainya. 

Atau pula bersumber dari hasil penelitian, skripsi, tesis, disertasi, atau riset jurnal. Bisa juga, kata Yanuar, dari melimpahnya tulisan kita yang tayang di media, baik cetak, online, atau bahkan blog pribadi kita.

Oleh karenanya, agar segera memiliki karya kemudian dibukukan, resepnya menurut Yanuar adalah menulis setiap hari. Artinya, kita berusaha disiplin menulis dalam sehari. Jangan lupa, topang dengan banyak membaca hal baru setiap hari. 

Sebab, semakin pikiran diperkaya dengan informasi atau temuan baru, ide-ide tulisan akan deras mengalir saat menulis. Dan yang penting, ketika muncul inspirasi menulis, segera catat agar tidak hilang. 

Terlebih untuk mencatatkan ide, ponsel yang kita miliki, selian memiliki ruang besar juga terdapat aplikasi yang memudahkan untuk menulis bahkan melakukan editing.

Dibagian akhir, setalah karya tulis kita melimpah ruah, tingga kemudian menjadikan buku. Caranya dimulai dari membaca naskah-naskah tulisan kita. Sudahkan clear atau belum dari sisi struktur kalimat, tata bahasa dan lain sebagainya. 

Jika terdapat tipo, di sinilah wilayah editing dilakukan untuk meminimalisir kesalahan kepenulisan maupun ejaan. Setelah siap, tinggal diterbitkan menjadi buku baik indie atau mayor.

Jika demikian langkahnya, sungguh mudah untuk menghasilkan karya tulis yang kemudian diteruskan menjadi buku. Mengutip H. Ikhrom selaku Kaprodi S2 PAI FITK UIN Walisongo Semarang, kuncinya adalah disiplin menulis. Yakni baca, tulis; baca, tulis; dan baca lalu tulis. Alhasil, akan lahirlah karya demi karya tulis kita. Salam menulis, dan semangat menulis.

Penulis:

Usman Roin adalah alumnus Magister PAI FITK UIN Walisongo Semarang, pengurus Pergunu Jateng, guru Jurnalistik SMP IT PAPB Semarang, penulis artikel, buku, blogger, dan pegiat literasi

** Tulisan ini juga tayang di media online jatengdaily.com dengan judul Agar Menulis Tembus Media dan Jadi Buku.

Posting Komentar untuk "Jurus Menulis Tembus Media dan Jadi Buku"