Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Edukasi Covid-19 dari Desa

 

EDUKASI-pakai masker (dok/us)
TELAH-kita pahami bersama, bahwa penyebaran Covid-19 yang awalnya sudah landai, tiba-tiba saja meningkat. Dari yang tidak bervarian menelurkan varian baru. Dari yang hanya bertumpu di perkotaan, sudah mulai kulonuwun di pedesaan. Bila demikian, pedesaan yang kental dengan unsur gotong royong, tepo seliro, unggah ungguh, perlu untuk dilakukan edukasi masif upaya preventif penularan Covid-19. 

Edukasi di atas menjadi penting, karena jangan sampai warga pedesaan menjadi klaster tujuan Covid-19 berikutnya. Terlebih, di pedesaan warga masih minim informasi utuh tentang Covid-19 itu nyata atau tidak! 

Hadirnya gadget yang dimiliki warga pedesaan, kala penulis pulang dari Kota Semarang, ada sinyal upaya pembenturan informasi antara Covid-19 itu “rekayasa” atau “nyata”. Sehingga tidak ayal, proteksi diri melalui pemakaian masker satu contoh, belum sepenuhnya terlaksana dalam keseharian maupun komunal. Yang teranyar, ketakutan ikut vaksinpun terjadi akibat pembenturan informasi tersebut.

Fakta di atas satu sisi tidak bisa langsung disalahkan, yakni sikap warga pedesaan yang masih abai dengan disiplin prokes kala pandemi. Meminjam bahasa warga saat penulis tanya kebiasaan menggunakan masker, ia menjawab, Kene kui los dol mas, gak maskeran”. 

Apa yang disampaikan warga wajar. Warga pedesaan yang hanya berkutat antara rumah dan sawah, tentu secara logis tidak begitu banyak mobililitas dengan orang luar se-intensif warga perkotaan. Ia hanya akan fokus pada perawatan lahan pertanian dan setelah selesai akan kembali ke rumah. Di samping itu, jumlah kasus Covid-19 di pedesaan juga minim. Sehingga masyarakat menyangka, bahwa pedesaan tidak mungkin terjamah oleh penularan Covid-19. 

Jika hal di atas alasan yang faktual di pedesaan, hingga implementasi prokes tidak jalan, bagi penulis dikarenakan informasi komulatif penyebaran Covid-19 secara regional di tingkat Kabupaten/Kota tidak sampai kepada warga. 

Terlebih, tidak semua warga pedesaan itu melek teknologi. Alhasil, informasi update penyebaran Covid-19 yang telah dirilis, sebut saja instagram “pemkabbojonegoro”, atau pada website “lawankorona.bojonegorokab.go.id.” tidak terserap oleh generasi old. Data itu akan terserap oleh milenial. Celakanya, berhenti dilihat dan tidak diteruskan berwujud edukasi kepada keluarga terdekat.

Jika demikian adanya, edukasi terkait prokes perlu dilakukan seefektif mungkin agar tingkat kesadaran memakai masker, menjaga jarak kala bertemu sesama, dan mencuci tangan menjadi pembiasaan. 

Apalagi, dalam amatan penulis, masing-masing warga di pedesaan sudah diberikan bantuan ember yang ada keran airnya dari balai desa. Tujuannya, agar selepas bepergian, yang utama dilakukan warga adalah mencuci tangan sebagai langkah proteksi saat akan bercengkrama dengan anggota keluarga di rumah.

Edukator Covid-19

Perihal tanggung jawab siapa edukator (pendidik) warga pedesaan, terkait upaya preventif penularan Covid-19 berwujud terimplementasikannya prokes di pedesaan, bagi penulis dilakukan oleh:

Pertama, lurah beserta perangkatnya. Sudah seharunya, edukasi preventif Covid-19 di pedesaan menjadi tanggung jawab lurah sebagai Ketua Satgas di tingkat Desa beserta perangkatnya. Langkahnya, bisa dengan pembuatan program preventif penularan Covid-19 melalui pemberian fasilitas cuci tangan setiap warga, pemberian masker, atau media lain seperti membuat poster, mmt, spanduk, atau flayer yang berisi imbuan taat prokes. 

Adapun penempatannya, bisa ditempel atau dipasang pada lokasi warga biasa berkerumun. Sebagai misal warung kopi, cakruk (gardu), yang menjadi ciri khas tempat nongkrong di pedesaan.

Di samping itu, lurah sebagai panjang tangan dari Bupati/Walikota di tingkat pedesaan, sudah semestinya selain intensif memberi imbaun perilaku taat prokes, juga perlu menjadi contoh nyata. Artinya, kampanye prokes menjadi implementasi kebiasaan keseharian lurah beserta perangkatnya, untuk kemudian gayung-sambut ditiru oleh warganya. 

Kedua, tokoh agama. Selain lurah dan perangkat, tokoh agama di masyarakat, menjadi elemen penting  pemberi edukasi warga pedesaan terkait Covid-19. Karisma yang dimiliki tokoh agama dari keilmuan agama yang telah dimiliki, hendaknya digunakan untuk membuka cakrawala yang benar, berimbang, terkait Covid-19 dan upaya pencegahan dalam perpektif keagamaan.

Bahkan sebisa mungkin, para tokoh agama memperhatikan kemaslahatan sosial dengan ikut mempraktekkan langsung penggunaan masker saat kegiatan komunal seperti tahlil, salat jenazah, maktubah, Jumat, hari raya (Idul Fitri mapun Adha) serta aneka kegiatan berbasis sosial di pedesaan lainnya. 

Jika prakter tersebut tidak dilakukan oleh tokoh agama, dalam pandangan Prof. Dr. Muslim A. Kadir, MA. (2011:13), keilmuan yang dimiliki hanya menjadi produk rasio, tidak menempatkannya sebagai perangkat safety/ikhtiar kemanusiaan, umat, untuk tetap aman melaksanaan ubudiyah kepada Allah Swt.

Ketiga, guru, ustaz, dosen, santri, maupun alumnus PT. Kaum intelektual lintas disiplin ilmu ini tentu adalah pioner literasi terkait edukasi Covid-19 kepada warga pedesaan secara baik dan benar berikutnya. Karenanya, jangan sampai kemelekan intelektual mereka, justru menjadi contoh buruk implementasi prokes. 

Kemelekan keilmuan dan teknologi, kudu diamalkan berwujud pemberian pengetahuan dan sikap keseharian yang kemudian diteruskan oleh warga terhadap upaya preventif Covid-19 secara baik dan benar di pedesaan. 

Dengan demikian, jika komponen yang telah penulis sebut dengan kesadaran diri ikut mengedukasi warga pedesaan perihal Covid-19, utamanya pada upaya preventif, tentu penularannya bisa dicegah. Deteksi dininya bila terdapat yang suspek, segera mendapat perawatan untuk sembuh. Dan yang penting, tingkat kematian akibat Covid-19 bisa dinihilkan.  

Syaratnya, meminjam bahasa Dr. H. Ikhrom, M.Ag., selaku Kaprodi S2 PAI UIN Walisongo Semarang, adalah “Membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa”. Artinya, taat prokes sebagai upaya menangkal Covid-19 harus dibiasakan sebagai langkah yang benar, bukan malah mengabaikannya sebagai pembiasaan yang salah kaprah. 

Akhirnya, mari menjadi edukator upaya preventif Covid-19 mulai dari diri kita dengan tetap taat prokes.

Penulis:

Usman Roin adalah Pemerhati Literasi dan Sosial, Alumnus Magister PAI pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, dan Pengurus Majelis Alumni IPNU Bojonegoro.

**Tulisan ini juga tayang di media online blokbojonegoro.com dengan judul Edukasi Covid-19 Berbasis Desa

Posting Komentar untuk "Edukasi Covid-19 dari Desa"