Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadikan Group WA Sarana Menulis

GROUP-WhatsApp (WA) semua orang memiliki. Mudahnya, yang memiliki ponsel pintar dipastikan memiliki aneka group WA di dalamnya. Mulai dari yang se-hoby, satu almamater, organisasi, golongan, idiologi, kedaerahan (lokalitas), profesi, keluarga dan lain sebagainya. Hanya saja, banyak yang tidak sadar, bahwa di group WA yang kita miliki, ternyata bisa menjadi media belajar menulis.

Keberadaan WA, satu sisi memberi manfaat penyambung kembali ikatan yang putus, di sisi lain, punya fungsi menambah perkenalan baru dari kontak yang terikat dalam group. Yang sering dilakukan adalah, group WA dijadikan sarana untuk hiburan, mulai dari mengingat-ingat foto jadul, kemudian kisah perjuangan, pertemanan, perkasih-kasihan, hingga kesempitan alias masih langsing-langsing (bagi cewek) dan six pack (bagi lelaki). Tentu, sahut menyahut antara satu orang dengan yang lain, atau antar sesama teman, hakikatnya adalah fungsi dasar kita belajar menulis.

Hadirnya grup WA, bila dihubungkan dengan dunia menulis, akan mengaktifkan diri dari yang tidak aktif berkomunikasi menjadi berani. Sebagai bukti, yang ikut komen mulai dari yang pendek, hingga yang panjang ngalor-ngidul, itu hakitnya sedang belajar menulis. Hanya saja, sekarang untuk mengaktifkan komen kita kadang terwakili oleh ‘stiker’ yang bagi penulis merugikan. Oleh sebab, kita bisanya hanya copy paste, tidak belajar bagaimana mengeluarkan uneg-uneg berbentuk komen secara tertulis. Artinya, komen tertulis adalah dasar agar kita mengaktifkan imajinasi lewat tulisan.

Bisa dibayangkan, bila dalam satu android kita memiliki puluhan hingga ratusan group WA. Alhasil, semakin aktif untuk komen, tentu kebiasaan menulis kita akan terasah. Dari yang tidak bisa menyambung antar satu kata, menjadi bisa hingga enak dibaca. Dari yang komennya sedikit oleh karena tidak menguasai permasalahan, atau secara keilmuan pernah berkecimpung dalam suatu hal, tentu uraiannya akan panjang kali lebar. Apalagi dari yang sudah memiliki keterbiasaan mendayu-dayu lewat sengatan romantisme, tentu akan lebih menusuk, panjang dan memanjang dalam hal ulasannya.

Siapa yang menyangka, kalau dari group WA kita belajar menulis. Hanya saja, saat aktif komentar di group WA harus melihat-lihat kondisi. Jangan sampai yang memiliki istri, suami, hingga anak terlantar karena asyik menimpali komen antar satu dengan lainnya. Bisa jadi, ini tanda-tanda pendatang baru golongan/jemaah orang yang sakit jiwa. Jangan sampai pula, yang sudah memiliki usaha kehilangan konsentrasi. Karena bisa jadi, dari keasyikan bersaut-sautan dalam komen group WA, hasilnya mengecewakan. Hal-hal seperti inilah yang harus dihindari.

Tahap selanjutnya, menulis dari WA bisa diwujudkan dengan melakukan kesepakatan kecil antar sesama yang telah memiliki karya. Atau bagi siapa saja yang sudah terbiasa menulis, hanya saja masih belum percaya diri untuk mempublisnya. Dua kategori inilah yang sebenarnya bisa dihimpun, untuk kemudian membuat kesepakatan kecil dahulu dengan cara membangkitkan potensi diri, dan membuktikan bahwa kompetensi menulis itu bisa dimiliki oleh siapa saja. 

Hanya saja, kadang kita masih menaruh kepercayaan tinggi bahwa menulis itu gaweannya para akademisi. Padahal itu tidak. Karena salah satu akademisi yang tulisannya barusan nongol pada (14/9/20) di koran lokal Jawa Tengah menyesalkan, ternyata akademisi yang semestinya adalah orang-orang yang telah terbiasa menulis, namun menulisnya masih karena tuntutan akademik. Belum banyak karya non akademik yang dihasilkan.

Jika demikian adanya, siapapun ternyata bisa menulis. Apalagi jika diidentifikasi mendalam dari latar belakang akademik anggota group WA. Tentu variannya beragam. Ada yang lulusan SMA/MTs, D3, S1, S2, S3 dan lain sebagainya menunjukkan, seakan-akan belajarnya sudah usai. Komptensi menulisnya seakan-akan di-mandeg-kan, dan kelanjutannya tidak diasah dengan baik. 

Padahal, menulis itu harus dimulai dari hal-hal sederhana, berawal dari tema-tema ‘recehan’ (bagi yang hoby nonton televisi), hingga kejadian yang dialami diri sendiri pun bisa dijadikan bahan tulisan. Syaratnya, kita tulis, kemudian ditambah lagi tulisannya, ditambah lagi, hingga selesai tema yang ingin ditungkan dalam tulisan.

Tahap yang terakhir, masing-masing person group WA bisa membuat karya sendiri-sendiri. Sebagai misal, yang memiliki usaha pengasapan bandeng, bisa menceritakan bagaimana memproduksi bandang dengan rasa maknyus. Mulai dari proses pemilihan, memasak, hingga packing dan penjualannya. Semua bisa ditulis dan akhirnya berbuah karya buku. Kegunaannya, akan memberikan warisan usaha yang terdokumentasikan secara rapi dari generasi ke generasi. 

Bagi yang berprofesi lain, juga bisa bercerita tentang kesuksesannya untuk kemudian dituangkan menjadi buku. Alhasil, jika masing-masing group sudah memiliki gambaran tema apa yang ingin ditulis, tentu dari jumlah anggota group yang tertera, sebanyak itulah karya tulis akan dihasilkan. Syaratnya, yakinkan diri bahwa menulis itu mudah. Menulis bisa dilakukan dari sisi ruang terdekat, dan dari kemampuan terdasar apapun yang kita miliki. So, menulislah, menulislah, hingga lembar demi lembar tulisanmu terbukukan menjadi buah tulisan yang nyata.

Penulis:
Usman Roin adalah mantan Ketua Umum Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma JT) dan penulis buku 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020), Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013).

 

Posting Komentar untuk "Menjadikan Group WA Sarana Menulis"

Berlangganan via Email