Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kemanfaatan Miliki Blog

BLOG-gurunulis.com. (us/dok)
SEKIAN-lama bergelut dalam hiruk pikuk menulis, tidak elok bila tak memiliki "rumah" yang menampung tulisan sendiri. "Rumah" yang penulis maksud adalah blog yang dalam KBBI online bermakna catatan harian atau jurnal pribadi di internet yang dapat diakses oleh siapa saja.

Membuat catatan harian era kini, tidak melulu dengan menulis di buku diari. Apalagi, saat menulis di buku catatan harian, sifat privasinya lebih kental. Belum lagi bila di buku diari ada kunci kecil, sudah bisa dipastikan untuk sekadar melihat isi catatan harian tidak akan bisa.

Zaman now, berbagai jenis tulisan bisa dipublikasi. Catatannya, tidak mengandung unsur plagiasi, SARA, hingga provokasi. Tentu blog pribadi adalah sarana tepat untuk mempublis keilmuan yang kita miliki menjadi tulisan yang memiliki kemanfaat untuk orang lain. Terlebih, sudah bukan zamannya lagi karya tulis kita hanya terarsip rapi, baik di lembaran kertas, folder laptop/pc, hingga berupa angan-angan pikiran saja. 

Melalui blog, catatan keseharian bisa kita tulis, posting, dan bagikan (sharing). Melalui blog pula, ternyata  aneka skill bisa kita miliki, antara lain: 

Pertama, menulis. Yang penulis maksud, hasrat untuk menulis itu akan muncul bahkan semakin menguat. Sehingga, kebiasaan menulis kita terbentuk bukan terporal, melainkan menulis sudah menjadi napas kebutuhan sebagaimana kebutuhan dasariah manusia seperti makan, minum, dan lainnya.

Banyak cerita selalu diulang-ulang tentang bagaimana mengawali menulis. Bahkan ada yang sampai bingung menuliskan kata pertama. Justru dengan mengeblok (aktivitas membuat blog) hal itu bisa diselesaikan. Kebingungan untuk menuliskan apa yang dirasa, dilihat, didengar, bisa tersalurkan dengan baik. Apalagi, produktifitas tulisan-tulisan yang dihasilan bisa dinikmati secara langsung oleh pembaca. Bahkan, bagi yang ingin memiliki karya monumental, tulisan-tulisan yang rajin kita terbitkan di blog, suatu saat bisa dijadikan buku untuk kemudian dijual. 

Kedua, memperkaya kebahasaan. Berbahasa dan menuturkan kata di era kekinian tentu ada panduannya. Bila orang mengabaikan hal itu, salah kaprah berbahasa akan terjadi. Bahkan, bisa dibilang bahwa update perbendaharaan bahasanya minimalis, karena sudah tidak baku lagi bila disesuaikan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang disempurnakan.  

Apalagi bila menilik Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015 tentang PUEBI, bahasa itu senantiasa berubah dan berkembang sesuai dengan kehidupan masyarakat. Hal itu sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, penggunaan bahasa Indonesia dalam beragam ranah pemakaian, baik secara lisan maupun tulisan semakin luas.

Sebagai contoh, penulis memiliki teman Pemimpin Redaksi disebuah perusahaan penerbitan koran nasional. Setahu penulis, ia adalah lulusan Sarjana Hukum. Tentu kefasihan tentang ilmu hukum tidak perlu diragukan. Oleh karena bekerja sebagai jurnalis, yang menuntut kecakapan berbahasa, kekayaan berbahasanya muncul seiring dengan dikuasainya PUEBI yang hari ini bertransformasi juga via daring. 

Selain itu, KBBI online sebagai pengecek kata “baku” atau “tidak baku” juga sudah bisa dipasang di masing-masing ponsel pintar kita. Dengan demikian, keberadaan blog yang kita miliki adalah sebagai pengasah skill berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, apapun latar belakang disiplin keilmuannya.

Adapun yang ketiga, belajar sebagai penerbit. Keberadaan blog mau tidak mau menjadikan kita pemilik atau sang pembuat. Apapun nama dan jenis isi yang ditampilkan, mulai dari desain template, jenis kolom-kolom, hingga kekhasan bahasa yang digunakan bisa direncanakan. Bahkan, keberadaan blog juga sudah merambah pada keuntungan rupiah (bila dibuat dengan baik) sebagai sarana iklan produk milik sendiri atau reseller menjualkan barang milik orang lain. 

Pada poin sebagai penerbit inilah, keuletan untuk mengisi konten-konten blog dibutuhkan. Kuncinya dibutuhkan produktivitas menulis. Sehingga, dari blog mading secara manual, menjadi e-blog kekinian, bisa menjadi sarana produktif menulis dan menerbitkan tulisan kita, tanpa antrian dan seleksi ketat seketat di media massa.

Penulis:
Usman Roin adalah mantan Ketua Umum Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma JT) dan penulis buku 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020), Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013).

 

Posting Komentar untuk "Kemanfaatan Miliki Blog"

Berlangganan via Email