Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Abadi dengan Menulis

BELAJAR-di masa pandemi ini menyiratkan makna yang dalam. Di samping tidak bisa bertatap muka langsung dengan siswa, tingkat keseriusannya juga dipertanyakan. Saya pun hanya bisa husnuzan, bahwa anak-anak serius selama belajar di rumah.

Mengajar non tatap muka memang banyak kendala. Tidak bisa berlama-lama di layar ponsel, laptop, sebagai akibat radiasi, hingga yang tidak kalah menggoda adalah bujukan untuk bersosmed ria pasca pembelajaran. Alhasil, saya pun tidak bisa melihat, mengukur secara akurat seberapa besar kecintaan anak terhadap pelajaran yang diikuti. Padahal, hakikat belajar mapel apapun itu penting. 

Apalagi, pandemi ini tidak lantas menyurutkan semangat untuk tetap ikut belajar walau dengan jarak jauh (via daring). Tentu, semangat seperti itulah yang kudu dipelihara. Bukan malah sebaliknya, ogah-ogahan, kurang serius, atau merasa sudah bisa dan seperti agak meremehkan kegunaannya di masa mendatang.

Sebagai pendidik, penulis juga selalu belajar. Belajar memantaskan diri menjadi pendidik. Belajar mengasah skill menulis agar bertambah. Dan belajar menularkan kemampuan yang dimiliki agar lestari kepada yang lain. Menulis menjadi penting karena ia menceritakan apa yang terjadi di sekeliling. Menulis adalah aktivitas merekam agar hal yang terjadi tidak disia-siakan, apalagi mudah terlupakan. Tentu, betapa ruginya kehidupan manusia tanpa catatan. Ia tidak mengetahui hal apa yang telah ditorehkan  orang sebelumnya oleh sifat abai terhadap apa yang terjadi.

Bagi generasi milenial, menulis menjadi kebutuhan untuk membagikan konten-konten yang bermanfaat dari akun sosmed yang dimiliki. Tentu, sekadar video atau foto tanpa keterangan tulisan akanlah hampa maknanya. Maka, menulis diperlukan sebagai keterangan penjelas, penjabar uraian hingga memanjang, sistematis mendampingi video, foto, yang setiap detik terupdate di jagad sosmed.

Bagi orang tua, menulis juga tidak kalah penting. Selain untuk menampakkan kemampuan yang dimiliki menjadi ladang bisnis baru, juga sebagai sarana mengatasi kepikunan. Mengutip KBBI online bahwa pikun adalah kelainan tingkah laku (sering lupa dan sebagainya) yang biasa terjadi pada orang yang sudah berusia lanjut. Bisa juga disebut dengan linglung atau pelupa. 

Orangtua yang telah makan garam asamnya kehidupan tentu penuh dengan banyak hal yang dipikirkan. Hingga kadang ‘kepikunan’ menjadi penyakit yang muncul. Di sinilah catatan menjadi penting. Di samping untuk menutupi kelemahan ‘oleh pikun’ juga sebagai jalan satu-satunya mengaktifkan ingatan agar tetap optimal walau usia sudah menua.

Di samping itu, menulis bagi orangtua juga berguna sebagai media belajar ulang. Artinya, belajar untuk mengendalikan diri bahwa sebagai orang tua harus memantaskan diri menjadi uswatun hasanah. Alhasil, pelajaran-pelajaran berharga sebagai orang tua itu bila direkam dengan baik melalui tulisan, akan menjadi catatan yang turun-temurun sampai kapanpun. 

Tentu, akan ajib sekali bila di deretan almari buku ada karya tulis kita yang terbukukan. Hingga bila sudah purna dunia, karya kita masih bertengger, abadi, hingga bisa menjadi warisan unlimited yang muda untuk meniru hal yang sama.

Adapun bagi yang memiliki profesi, mengutip KBBI online berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu, menulis akan menjadi pencerdasan intelaktual. Artinya, keberhasilan dalam profesi yang dimiliki akan menjadi hak paten bahwa temuan teori, alat, hingga pengembangan ilmu pengetahuan di masa mendatangkan tercatatkan dalam tulisan yang berharga. 

Alhasil, walau jasadnya sudah terkubur, namun penemuannya abadi, mboten derek terkubur. Bahkan, berkembang dan dikembangkan lagi di masa mendatang. Penemuannya pun akan tercatat dari waktu ke waktu, masa ke masa, tanpa sedikitpun tertinggal, terhapuskan namanya. Jika ingin abadi, mari menulislah.

Penulis: 

Usman Roin adalah Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jawa Tengah dan penulis buku 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020), Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013).

1 komentar untuk "Abadi dengan Menulis"

Berlangganan via Email