Langsung ke konten utama

Status WA pun Bisa Jadi Buku

BICARA
-update status, setiap kepala yang faham akan gadget pasti melakukan hal itu.

Terlebih, hari ini siapa anak milenial yang luput dari bekal itu? Tentu update status menjadi bagian dari eksistensi diri mereka terhadap aneka peristiwa, kreativitas diri yang dimiliki, dunia pekerjaan yang digeluti, hingga sekadar lucu-lucuan sebagai hiburan. Entah itu karya sendiri atau cukup mengunduh hasil karya orang lain untuk kemudian dijadikan update status.

Hanya saja, jarang dari kita coba untuk membuat status khas karya kita. Kalaupun ada, kadang status yang telah diketik dan ter-update dibiarkan saja menguap. Padahal bila status yang menurut kita inspiratif tersebut, jika kemudian dikumpulkan tentu akan menjadi  buah karya yang menarik untuk dibaca.

Sebaik bukti, buku berjudul 50 Status Inspiratif karya saya ini adalah kebenaran yang tak semu, dan rugi banget jika status kita yang terupdate di WA atau media sosial lainnya dibiarkan
begitu saja pergi. Berganti dan menghilang secara otomatis.

Padahal, jika di openi akan menjadi produk buku baru karya kita yang tak hanya rajin mengumpulkan karya orang lain ke dalam almari kita. Melainkan, coba membuktikan bahwa kita juga bisa membuat karya yang serupa.

Tentu bila di dalam almari atau ruang pustaka kita ada simpanan buku karya orang lain, mengapa kita tidak membuat karya yang serupa, semampu kita, untuk kita simpan pula?

Justru, dari karya sederhana sebagaimana karya saya, murah 20 ribu saja, membuktikan bahwa membuat karya tulis (buku) itu mudah. Tidak perlu njelimet-njelimat hingga memusingkan isi kepala kita. Karena esensi menulis itu harus dimudahkan prosesnya, baru setelah selesai mau dibanti dalam ruang 'editing' silahkan alias sumonggo.

Usman Roin adalah Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jawa Tengah dan penulis buku 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020), Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remaja MAJT yang Eksis

 SETELAH-sekian lama menjadi aktivis Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT), kini dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Dulu yang masih singgel, kini sudah dobel, dan tripel (beranak satu, dua, tiga dst). Justru dari Risma -JT lah mereka semua dipertemukan. Dari yang masih lucu, imut, dan amit-amit kata om Eko Irianto yang punya ciri khas ‘Jenggot naganya.’ 

Kini, aktivis Risma-JT yang tergabung dalam Silaturrahim Alumni (Salam) tetap eksis viaon line lewat grup WhatsApp (WA) yang sudah 8 tahun dibentuk. Tepatnya 27 September 2012 silam. Hadirnya grup ini tidak lain berfungsi sebagai media silaturrahim. Selain itu juga menjadi jembatan ide, gagasan, dan masukan untuk kepengurusan Risma-JT, tidak saja hari ini, tapi dari masa ke masa. 

Hal lainnya, juga sebagai sarana up date informasi tambahan. Bilamana terdapat informasi, kegiatan, atau kajian akbar yang ingin diikuti oleh Salam Risma-JT agar keterikatan dengan masjid tetap terjaga.

Kehadiran Salam Risma-JT, …

Kisah Pilu ‘Karpet Masjid’

ADA-kisah menarik tentang karpet masjid. Tepatnya karpet masjid yang selesai dicucikan namun tidak kunjung dipasang-pasang kembali oleh marbot. Mengutip wikipedia.org, marbot masjid adalah seseorang yang bertanggung jawab mengurus keperluan masjid, utamanya yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut.

Terlebih, meminjam bahasa H. Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail dalam buku ‘Menuju Masjid Ideal’ (2001: 96) bahwa kelengkapan fasilitas masjid (Karpet, AC, ruangan-ruangan, dll) adalah bagian dari tanda langkah-langkah menuju masjid itu dikatakan ideal. Sebab, masjid telah memiliki kelengkapan fasilitas untuk memakmurkan umatnya baik terkait ubudiyah, sosial, pendidikan dan lain-lainnya.

Anehnya, melihat karpet sebagai kelengkapan fasilitas masjid yang ideal, dan tidak kunjung dipasang, tidak banyak yang coba memberi masukan. Atau justru, penulis yang terakhir memberi masukan. Entahlah, yang penting penulis coba untuk ikut mengingatkan. Padahal keberadaan karpet m…

Bahagialah yang Punya Laptop Jadul

LAPTOP-jadulku selalu menemaniku. Ia seakan seperti ‘istri kedua’. Sejak pertama kali saya beli 28 Juni 2011. Dan kali ini (tahun 2019)  sudah genap delapan tahun. Masya Allah, sungguh awet sekali di kau laptop.

Sedikit informasi, saking jadulnya laptop yang saya miliki, program Windows nya saja masih menggunakan XP atau ‘Experience,’ yang mengutip wikipedia.org merupakan penerus Windows 2000 Professional dan Windows Me, dan merupakan versi sistem operasi Windows pertama yang berorientasi konsumen yang dibangun di atas kernel dan arsitektur Windows NT . Tentu kalau sekarang sudah tidak zaman dan sulit ditemukan service komputer yang mau meng install aplikasi tersebut. 

Walau jadul, laptop yang saya punyai selalu saya rawat. Contoh kecil, bila berdebu selalu saya bersihkan dengan kanebo yang agak lembab dengan air untuk menghilangkan butiran debunya. Lalu, terhitung sudah delapan tahun sejak pembelian, laptop ini baru sekali ganti batrai. Hemat saya, walau jadul tapi tenaga masih prima. …