Langsung ke konten utama

Bukuku Lahir dari Status WA

TAHUN
-2020, alhamdulillah lahir buku saya yang ketiga berjudul 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020). Adapun buku yang pertama, Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013), ini menjadi kado ‘souvenir’ untuk pernikahan saya. Sementara buku kedua, Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), menjadi buku antologi bersama dua guru lainnya yang suka menulis.

Ihwal buku ketiga, ini lahir dari keisengan melihat status WhatsApp (WA) yang saya buat. Namun seiring dengan waktu menghilang. Bila tidak percaya, coba lihat keterangan pada status WA yang Anda buat. Bunyinya, Pembaruan status Anda akan hilang setelah 24 jam. Munculnya status yang saya buat 100% original. Tidak mengutip, menyadur, bahkan copy paste perkataan orang lain. Di sinilah yang mahal dari conten buku saya.

Secara singkat, di buku 50 Status Inspiratif ini, saya ingin membuat ratusan status untuk kemudian saya bukukan. Namun dalam pelaksanaannya, ternyata menciptakan kata-kata ala kita sendiri itu sulitnya minta ampun. Lebih mudah mengutip ternyata. Apalagi, mencipta kata demi kata itu nilainya dobel lebih pusing dari pada meneruskan ungkapan orang lain untuk dijadikan update status yang punya nilai menginspirasi. Akhirnya setelah terkumpul, penyuntinganpun saya lakukan. Hingga kemudian saya pilih dan peras menjadi 50 status saja.

Sebagai pelengkap, meminta testimoni dari tokoh "idola menulis" itulah hal yang kemudian saya lakukan. Dari kalangan akademisi, peneliti tulen, dan guru saya, jatuh kepada Prof. Syamsul Ma’arif. Bagi saya Prof. Syamsul menginspirasi saat saya membaca tulisan yang tayang di harian Suara Merdeka. Tulisan beliau itu khas, dan berbasis riset, hingga aliran kata-kata yang dibubuhkan dari kalimat satu menyambung ke kalimat selanjutnya menarik untuk diikuti. Inilah yang kemudian memancing saya ngefans pada beliau. Utamanya, semangat menulis yang dilandasi dengan data penelitian untuk memperkuat kedalaman dan kualitas tulisan.

Hingga pada Stadium General Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, beliau tampil menjadi narasumber dan kebetulan saya menjadi salah satu yang penanya yang mengutarakan pertanyaan kepada beliau. Utamanya, bagaimana kemampuan menulis karya ilmiah populer (di Koran), apakah ada korelasinya untuk mempermudah Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tesis untuk jenjang S2?

Sebagai testimoni berikutnya, saya meminta kepada pakar Hukum Islam UIN Walisongo Semarang yang terkenal Prof. Ahmad Rofiq. Selain guru saya, beliau juga ispirasi saya dalam hal menulis sejak menjadi Ketua Umum Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah  (RISMA-JT). Saya menjadi takjub, Prof. Rofiq memiliki stamina dan istikamah yang tinggi dalam hal menulis.

Yang ajib bin ajib, tulisan-tulisan beliau setiap hari itu lahir dan diposting di laman facebook-nya. Hingga tidak sedikit media online dan cetak yang memuat tulisan beliau. Kepakarannya dalam Hukum Islam, yang kemudian tertuang melalui tulisan dengan tidak memilah-milah media itulah yang saya salut dari beliau. Justru semakin banyak media menerbitkan karya beliau, kemampuan beliau tak terbantahkan, bahkan diragukan sama sekali. Bagi saya, satu tulisan ‘dalam sekejap’ bisa beliau hasilkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Tertimoni berikutnya adalah dari GM Jawa Pos Radar Semarang Mas Iskandar. Perkenalan dengan baliau saat SMP Islam Terpadu PAPB Semarang mendapat anugerah untuk pertamakalinya yang kala itu digelar di Kota Magelang. Mas Is memang humble. Bahkan dalam diskusi di kantor, beliau sangat menghargai semangat penulis muda ‘pemula’ seperti saya. Beliau juga tidak segan-segan untuk berbagi bagaimana kiat-kiat menulis. Apalagi, beliau juga pernah menjadi ghost writer untuk tokoh yang berpengaruh sekali. Kedekatan dengan lembagaan pendidikan itulah yang menjadikan saya  sering berkomunikasi hingga memohon beliau mengasih testimoni untuk buku saya.

Adapun yang terakhir, dengan Mas Iswidodo yang sekarang menjabat sebagai News Manager Tribun Jateng. Cerita perkenalan dengan beliau, saat saya diminta sama mas Hery Nugroho ikut menangani kegiatan “Seminar Nasional dan Muswil Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Jawa Tengah” bertempat di SMA N 3 Semarang. Kebetulan beliau diminta menjadi narasumber di kegiatan seminar.

Pasca beliau menyampaikan materi itulah, kemudian saya meminta kontak beliau. Tujuannya untuk sharing perihal rahasia sukses menulis di media cetak, hingga kriteria tulisan yang disenangi oleh redaktur. Walau sudah menjadi redaktur, beliau juga tidak sungkang untuk mengasih ‘jempol’ kala saya update status. Bahkan, sampai saat ini saya masih belajar sama beliau utamanya membuat artikel tematik dengan kondisi yang terjadi kekinian.

Oleh: Usman Roin
Penulis adalah
Pengelola Abjad  gurunulis.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remaja MAJT yang Eksis

 SETELAH-sekian lama menjadi aktivis Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT), kini dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Dulu yang masih singgel, kini sudah dobel, dan tripel (beranak satu, dua, tiga dst). Justru dari Risma -JT lah mereka semua dipertemukan. Dari yang masih lucu, imut, dan amit-amit kata om Eko Irianto yang punya ciri khas ‘Jenggot naganya.’ 

Kini, aktivis Risma-JT yang tergabung dalam Silaturrahim Alumni (Salam) tetap eksis viaon line lewat grup WhatsApp (WA) yang sudah 8 tahun dibentuk. Tepatnya 27 September 2012 silam. Hadirnya grup ini tidak lain berfungsi sebagai media silaturrahim. Selain itu juga menjadi jembatan ide, gagasan, dan masukan untuk kepengurusan Risma-JT, tidak saja hari ini, tapi dari masa ke masa. 

Hal lainnya, juga sebagai sarana up date informasi tambahan. Bilamana terdapat informasi, kegiatan, atau kajian akbar yang ingin diikuti oleh Salam Risma-JT agar keterikatan dengan masjid tetap terjaga.

Kehadiran Salam Risma-JT, …

Kisah Pilu ‘Karpet Masjid’

ADA-kisah menarik tentang karpet masjid. Tepatnya karpet masjid yang selesai dicucikan namun tidak kunjung dipasang-pasang kembali oleh marbot. Mengutip wikipedia.org, marbot masjid adalah seseorang yang bertanggung jawab mengurus keperluan masjid, utamanya yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut.

Terlebih, meminjam bahasa H. Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail dalam buku ‘Menuju Masjid Ideal’ (2001: 96) bahwa kelengkapan fasilitas masjid (Karpet, AC, ruangan-ruangan, dll) adalah bagian dari tanda langkah-langkah menuju masjid itu dikatakan ideal. Sebab, masjid telah memiliki kelengkapan fasilitas untuk memakmurkan umatnya baik terkait ubudiyah, sosial, pendidikan dan lain-lainnya.

Anehnya, melihat karpet sebagai kelengkapan fasilitas masjid yang ideal, dan tidak kunjung dipasang, tidak banyak yang coba memberi masukan. Atau justru, penulis yang terakhir memberi masukan. Entahlah, yang penting penulis coba untuk ikut mengingatkan. Padahal keberadaan karpet m…

Bahagialah yang Punya Laptop Jadul

LAPTOP-jadulku selalu menemaniku. Ia seakan seperti ‘istri kedua’. Sejak pertama kali saya beli 28 Juni 2011. Dan kali ini (tahun 2019)  sudah genap delapan tahun. Masya Allah, sungguh awet sekali di kau laptop.

Sedikit informasi, saking jadulnya laptop yang saya miliki, program Windows nya saja masih menggunakan XP atau ‘Experience,’ yang mengutip wikipedia.org merupakan penerus Windows 2000 Professional dan Windows Me, dan merupakan versi sistem operasi Windows pertama yang berorientasi konsumen yang dibangun di atas kernel dan arsitektur Windows NT . Tentu kalau sekarang sudah tidak zaman dan sulit ditemukan service komputer yang mau meng install aplikasi tersebut. 

Walau jadul, laptop yang saya punyai selalu saya rawat. Contoh kecil, bila berdebu selalu saya bersihkan dengan kanebo yang agak lembab dengan air untuk menghilangkan butiran debunya. Lalu, terhitung sudah delapan tahun sejak pembelian, laptop ini baru sekali ganti batrai. Hemat saya, walau jadul tapi tenaga masih prima. …