Langsung ke konten utama

Kamuflase Warung

SIANG-ini, penulis coba keluar dikarenakan ada kepentingan bersama teman. Udara yang panas di siang hari terasa banget. Terlebih, saat menjalani puasa dan melewati jalan demi jalan aspal selama perjalanan. 

Sesekali terlihat, minimnya aktivitas di siang hari. Apalagi saat pandemi Covid-19 yang menuntut masing-masing dari kita untuk banyak di rumah. Namun, yang agak mengherankan, masih ada warung di pinggir jalan membuka diri. Penutup mmt atau gorden bagi penulis hanya kamuflase bahwa warungnya seakan-akan tutup. Padahal di dalamnya banyak aktivitas orang yang makan. 

Adanya mmt atau gorden penutup warung, menurut penulis memang upaya bijak 'pemilik' agar orang yang tengah berpuasa tidak tergoda dengan membatalkan puasa. Melainkan 'cukup dengan melihat' sebagaimana penulis, lalu mempersilahkan kepada orang yang tidak berpuasa menikmati makan di dalam warung.

Ada yang lebih agak tragis memang. Saat penulis lewat di sebuah kampung, dengan terang benderang sekelompok orang ngopi, rokok, berkerumun secara vulgar tanpa ada aling-aling (bahasa Jawa). Apapun itu, hal yang demikian tidak sepantasnya dilakukan. Menghormati orang lain akan lebih baik, dari pada terus terang dengan kentara mengumbar aktivitas tidak puasa dimuka umum.


Hadirnya catatan remeh seperti ini bagi penulis penting. Karena puasa itu panggilan bagi orang yang beriman. Artinya, yang beriman dengan perintah puasa tentu akan mengekang untuk tidak makan. Walau itu masih masuk katergori bawah. Karena masih ada tingkatan lanjut, yakni menahan hawa nafsu. 


Jika yang terakhir ini 'kita tahan’ tentu inilah hakikat puasa sesungguhnya. Yakni, tidak hanya menahan diri dari upaya memasukkan sesuatu kedalam 'lubang', melainkan juga menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal negatif selama puasa berlangsung itu juga perlu dilakukan.

Catatan: Usman Roin
Semarang, 14 Ramadan 1441 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remaja MAJT yang Eksis

 SETELAH-sekian lama menjadi aktivis Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT), kini dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Dulu yang masih singgel, kini sudah dobel, dan tripel (beranak satu, dua, tiga dst). Justru dari Risma -JT lah mereka semua dipertemukan. Dari yang masih lucu, imut, dan amit-amit kata om Eko Irianto yang punya ciri khas ‘Jenggot naganya.’ 

Kini, aktivis Risma-JT yang tergabung dalam Silaturrahim Alumni (Salam) tetap eksis viaon line lewat grup WhatsApp (WA) yang sudah 8 tahun dibentuk. Tepatnya 27 September 2012 silam. Hadirnya grup ini tidak lain berfungsi sebagai media silaturrahim. Selain itu juga menjadi jembatan ide, gagasan, dan masukan untuk kepengurusan Risma-JT, tidak saja hari ini, tapi dari masa ke masa. 

Hal lainnya, juga sebagai sarana up date informasi tambahan. Bilamana terdapat informasi, kegiatan, atau kajian akbar yang ingin diikuti oleh Salam Risma-JT agar keterikatan dengan masjid tetap terjaga.

Kehadiran Salam Risma-JT, …

Kisah Pilu ‘Karpet Masjid’

ADA-kisah menarik tentang karpet masjid. Tepatnya karpet masjid yang selesai dicucikan namun tidak kunjung dipasang-pasang kembali oleh marbot. Mengutip wikipedia.org, marbot masjid adalah seseorang yang bertanggung jawab mengurus keperluan masjid, utamanya yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut.

Terlebih, meminjam bahasa H. Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail dalam buku ‘Menuju Masjid Ideal’ (2001: 96) bahwa kelengkapan fasilitas masjid (Karpet, AC, ruangan-ruangan, dll) adalah bagian dari tanda langkah-langkah menuju masjid itu dikatakan ideal. Sebab, masjid telah memiliki kelengkapan fasilitas untuk memakmurkan umatnya baik terkait ubudiyah, sosial, pendidikan dan lain-lainnya.

Anehnya, melihat karpet sebagai kelengkapan fasilitas masjid yang ideal, dan tidak kunjung dipasang, tidak banyak yang coba memberi masukan. Atau justru, penulis yang terakhir memberi masukan. Entahlah, yang penting penulis coba untuk ikut mengingatkan. Padahal keberadaan karpet m…

Bahagialah yang Punya Laptop Jadul

LAPTOP-jadulku selalu menemaniku. Ia seakan seperti ‘istri kedua’. Sejak pertama kali saya beli 28 Juni 2011. Dan kali ini (tahun 2019)  sudah genap delapan tahun. Masya Allah, sungguh awet sekali di kau laptop.

Sedikit informasi, saking jadulnya laptop yang saya miliki, program Windows nya saja masih menggunakan XP atau ‘Experience,’ yang mengutip wikipedia.org merupakan penerus Windows 2000 Professional dan Windows Me, dan merupakan versi sistem operasi Windows pertama yang berorientasi konsumen yang dibangun di atas kernel dan arsitektur Windows NT . Tentu kalau sekarang sudah tidak zaman dan sulit ditemukan service komputer yang mau meng install aplikasi tersebut. 

Walau jadul, laptop yang saya punyai selalu saya rawat. Contoh kecil, bila berdebu selalu saya bersihkan dengan kanebo yang agak lembab dengan air untuk menghilangkan butiran debunya. Lalu, terhitung sudah delapan tahun sejak pembelian, laptop ini baru sekali ganti batrai. Hemat saya, walau jadul tapi tenaga masih prima. …