Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Songkok: Dari Identitas Ibadah dan Nusantara

SIANG-spesial saya mendapatkan kiriman songkok lukis giveaway, berukuran 8, tinggi 10, jenis AC, dari akun instagram @gresikpreneur yang diumumkan pada tanggal 14 Mei 2020. Isi dari postingan tersebut hanya diminta komen di postingan IG tersebut, sambil menuliskan nama lengkap dan tempat tugas sekolah atau madrasah serta hastaq #pergunu.

Seketika tanpa pikir terlalu lama, saya akhirnya menuliskan hal tersebut. Saya tergugah dikarenakan ada identitas Pergunu. Terlebih saya dikasih amanah untuk menjadi Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Provinsi Jawa Tengah. Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan sebagai bagian meramaikan warisan nusantara yakni keberadaan songkok.

Bicara songkok, sudah dari dahulu saya diperkenalkan oleh orangtua. Kegagahan tersendiri orang yang memakai songkok sebagai identitas lokalitas budaya. Mengutip Ahmad Rahman Budiman yang merupakan Owner Songkok Lukis Nusantara menyatakan, “Songkok adalah adibusana Nusantara, memakainya sama dengan merawat war…

Tolong Menolong di Keluarga

SALING-bantu membantu itu diperlukan. Bahkan di bagian akhir surah Al-Maidah: 2, Allah Swt secara gamblang memerintahkan untuk tolong menolong melalui redaksi"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya".

Tentang wujud tolong menolong, tentunya tidak terbatas. Kepada yang terdekat "keluarga" bahkan istri dalam hal remeh pun perlu diwujudkan. Sebagai misal, membantu mencuci pakaian, piring, hingga memasak untuk menyiapkan menu buka puasa. Hadirnya bantuan tersebut di samping meringankan beban istri, juga dalam rangka mempercepat selesainya pekerjaan. 

Bisa dibayangkan bila dalam keluarga yang sibuk hanya istri kala di dapur, dan tidak dibantu untuk mempercepat pekerjaannya. Tentu usai memasak, peralatan yang selesai digunakan akibat kotor hanya akan menumpuk.  Hal itu tidak akan terjadi, manakala sang suami …

Kamuflase Warung

SIANG-ini, penulis coba keluar dikarenakan ada kepentingan bersama teman. Udara yang panas di siang hari terasa banget. Terlebih, saat menjalani puasa dan melewati jalan demi jalan aspal selama perjalanan. 

Sesekali terlihat, minimnya aktivitas di siang hari. Apalagi saat pandemi Covid-19 yang menuntut masing-masing dari kita untuk banyak di rumah. Namun, yang agak mengherankan, masih ada warung di pinggir jalan membuka diri. Penutup mmt atau gorden bagi penulis hanya kamuflase bahwa warungnya seakan-akan tutup. Padahal di dalamnya banyak aktivitas orang yang makan. 

Adanya mmt atau gorden penutup warung, menurut penulis memang upaya bijak 'pemilik' agar orang yang tengah berpuasa tidak tergoda dengan membatalkan puasa. Melainkan 'cukup dengan melihat' sebagaimana penulis, lalu mempersilahkan kepada orang yang tidak berpuasa menikmati makan di dalam warung.

Ada yang lebih agak tragis memang. Saat penulis lewat di sebuah kampung, dengan terang benderang sekelompok orang ng…

Solusi Imam Salat Keluarga

SEBAGAI-mahluk sosial, kadang penulis juga terpikirkan bagaimana nasib ‘ibadah sunah tarawih’ para tetangga. Bukan dalam arti ‘sok’ ingin memperlihatkan keistikamahan perwujudan ibadah diri sendiri, melainkan coba ikut mendakwahkan, walau stay at home, ibadah bersama keluarga harus dijaga kekokohannya.

Karena bisa jadi, bagi yang belum memiliki ‘imam’ ibadah bersama keluarga, jadi alasan tidak terlaksanakannya ibadah sunah tarawih di rumah. Hal itu sejalan dengan hasil diskusi Pimpinan Kecamatan Dewan Masjid Indonesia Kota Semarang beberapa waktu lalu.

Masih banyak masjid, musala, menyelenggarakan sunah tarawih bisa jadi karena banyak kepala keluarga 'tidak bisa' menjadi imam salat. Sehingga, dengan tetap ikut tarawih di masjid dan musalah adalah solusi tepat.

Hal ini memang rasional, dan luput dicarikan solusi oleh stakeholder yang ada. Tetapi, ada satu solusi menarik yang coba ditawarkan oleh H. Ahmad Yani yang merupakan Ketua Departemen Dakwah PP DMI, lewat kiriman tulisan ya…

Teman Pasca Kehidupan: ?

ADA-gambar menarik yang penulis sertakan ‘pada tulisan ini’, dari akun instagram ala_nu. Dari gambar yang di post-kan saja, penulis dan juga pembaca akan bisa menebak apa hikmah yang bisa diambil. 

Jujur penulis sangat tertarik dengan ilustrasi gambar yang coba penulis kasih judul 'pasca kehidupan'. Yakni, kematian. Di gambar itu, sangat jelas pesan yang ingin disampaikan ketika orang itu meninggal dunia. Keluarga, harta, jabatan, dan popularitas tidak akan terbawa di liang lahat. Yang menemani hanyalah amal selama kita hidup di dunia.

Potret gambar tersebut, memiliki filosofis yang dalam, dan mengingatkan kepada orang-orang yang rakus akan jabatan. Bahwa jabatan tidak akan diikutkan di kuburan. Ia akan terhenti manakala sudah meninggal. Maka ‘amal’ saat menjabat itulah yang akan menemani kala berada di kuburan.

Begitu juga dengan harta benda yang dikumpulkan. Jika yang dimiliki rumah dengan harga miliaran, ternyata tidak satupun yang dibawa di kuburan. Jika harta (uang, intan, e…

Serba Daring

DALAM-jaringan (daring) hari ini menjadi kebutuhan agar penggalian pengetahuan rohani bisa ter-update di tengah pandemi yang terjadi. Keadaan yang meniadakan kerumunan mau tidak mau memaksa kita agar menyesuaikan terhadap pesan untuk menuntut ilmu terus dilakukan. Salah satunya adalah, mengaji, mengikuti seminar, pembelajaran, rapat, persidangan, dan lain sebagainya via online.

Situasi ini tentu dituntut melek teknologi. Siapa saja. Artinya secara operasional, update menggunakan teknologi menjadi bagian yang tidak terelakkan, guna mempermudah aneka kebutuhan bisa terpenuhi. 

Inilah solusi di tengah pandemi. Suasana menyemarakkan bulan suci tidak lantas senyap. Melainkan dari rumah, melalui kecanggihan teknologi ponsel pintar, berbagai fasilitas seminar, pengajian online bisa kita nikmati.

Justru, jangkauan via online tidak terbatas. Hal itu sebagaimana apa yang disampaikan oleh kawan Jurnalis senior, surat kabar terkemuka di Jawa Tengah yang mengatakan, bahwa online itu memiliki daya jan…

Cara Pandang Dewasa

ADA-hal yang menarik dari apa yang disampaikan oleh Prof Nadirsyah Hosen di Koran Jawa Pos, Minggu (3/5), di kolom Syiar. Yang menarik dari penyampaian beliau, kita diminta untuk berdampingan dengan Corona. Arti menerima Corona dalam hidup, kita tidak melanggar semua pantangan dokter dan aturan pemerintah, dan melepaskan ego diri dalam beribadah dan berinteraksi.

Lebih lanjut menurut Gus Nadir, hidup baru bersama Corona justru membuat hidup kita semakin bersih, lingkungan semakin dijaga, dan kota harus semakin kreatif menciptakan peluang  kerja dan pola komunikasi. 

Ia melanjutkan, 'penerimaan' adalah cara kita bersikap optimis melanjutkan kehidupan. Alhasil, pemerintah melahirkan kebijakan, dokter mangajari kita keselamatan, dan para kiai telah mengajari cara pandang baru menerima dan hidup bersama Corona.

Cara pandang yang seperti ini, bagi penulis adalah cara pandang yang dewasa. Cara pandang filosofis yang serat makna. Apalagi Covid-19, ini butuh disikapi dengan cerdas. Yakni…

Olahraga Saat Puasa

KADANG-untuk menyempatkan olahraga saat puasa, beratnya minta ampun. Apalagi, bila selesai subuh 'tidak bisa mengontrol' untuk tidak beranjak ke tempat tidur lagi. Sangat jelas akan tergoda.

Di masa pandemi Covid-19 ini, di samping menjaga stamina puasa, berolahraga juga perlu dilakukan. Sebagaimana penulis, yang sesekali ‘walau tidak setiap hari’ bersepeda ke kantor. Tidak lain untuk menyeimbangkan antara olah spiritual (puasa) dan olahraga dengan bersepeda. Catatannya, bila jarak antara rumah dan kantor tidak terlalu jauh untuk dilakukan.

Berolahraga, saat puasa, memang tetap diperlukan. Hanya saja, jangan terlalu berlebihan karena save-ing makan kita terbatas. Padahal, masih ada beban tugas berupa berpikir yang kadang menghabiskan bekal makan sahur.

Berolahraga bisa dilakukan dengan memasukkan pada unsur-unsur kegiatan keseharian. Mulai dari mencuci baju hingga menjemur, kemudian menyapu lantai rumah hingga halaman. Lalu, bisa pula dengan menata ulang dekorasi, melihat sawah (…

Antara Masak vs Beli

MASAK-atau beli. Itulah fonemena yang terjadi di dalam keluarga. Terlebih saat puasa. Bagi keluarga yang malas masak, atau punya hobi ‘rumpi’, tinggal beli saja pada penjual takjil beras, dan selesailah persiapan buka puasa di keluarga.

Bila memasak, tentu ‘uang belanja’ akan ada jatah. Untuk beli bumbu dapur, belum lagi ‘calon’ lauk pauk dan lain sebagainya. Maka penulis juga terbiasa mengasih uang belanja kepada istri walau tidak setiap hari, yakni seminggu sekali. 

Bila dipikir, dengan memasak sendiri, memang akan bertambah pengeluaran keluarga. Namun dibalik itu, ada hal yang tidak pernah dipikirkan. Yakni, pembelajaran buat ibu-ibu untuk meningkatkan kualitas ‘rasa’ masakannya. 

Maka dengan latihan dari ke hari, diharapkan daya rasa masakannya itu tidak kalah dengan masakan yang ‘instan’ dengan membeli. Bahkan bisa setenar master chef sebagaimana yang banyak nongol di televisi. Toh kala kita membeli masakan jadi, cara memasak utamanya dari sisi kebersihannya juga tidak tahu. 

Justru …