Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjamurnya Pedagang Takjil

DI TENGAH-pandemi Covid-19, ada fenomena dadakan pedagang takjil, yang menurut KBBI online berarti makanan untuk berbuka puasa, menjamur di mana-mana. Tidak terkecuali lingkungan sekitar, atau jalan perlintasan yang memiliki sisi strategis lalu lalangnya orang.

Penulis pernah sekali berjalan-jalan untuk mencari gorengan sebagai pelengkap berbuka. Walhasil, walau tengah dilanda wabah Corona, antusiasme orang berburu kuliner masih banyak. Ada yang sudah menggunakan masker dan ada juga yang belum.


Hadirnya pedagang takjil tersebut, memanfaatkan bulan puasa untuk mengais rezeki. Tentu, di pedesaan, hal itu tidak akan kentara. Sebab, masyarakat pedesaan sudah terbiasa memasak dan menyiapkan aneka hidangan walau seadanya untuk berbuka.


Hal itu justru berbanding terbalik dengan kehidupan di kota. Kesan ‘kesibukan’ menjadikan banyak orang bila merasa 'malas' memasak, cukup dengan membeli saja pada pedagang takjil yang bermunculan. Mulai dari aneka minuman es, lauk pauk, buah-buahan, gorengan, hingga jajan pasar sebagai pelengkap menu berbuka. Tinggal membawa rupiah saja, aneka makanan tersebut bisa dibawa pulang seketika.


Hadirnya pedagang dadakan ini bukan tanpa alasan. Bila penulis boleh menyimpulkan, di samping iseng, coba-coba berdagang, kemunculan pedagang takjil itu untuk mengetes mental sejauhmana kreatifitas memasaknya disukai oleh pelanggan. Maka tidak ayal, makanan yang enak dan pas di lidah banyak orang, akan banyak diburu pelanggannya.


Selain itu, munculnya pedagang takjil juga karena motif ekonomi. Yakni, menambah pemasukan keluarga dengan memanfaatkan bulan suci Ramadan sebagai waktu yang tepat kebanyakan keluarga berburu kuliner. Alhasil, di manapun tempatnya, pedagang takjil akan menghiasi datangnya bulan suci Ramadan, walau pandemi Covid-19 sedang terjadi.


Catatan: Usman Roin
Semarang, 7 Ramadan 1441 H

Posting Komentar untuk "Menjamurnya Pedagang Takjil"

Berlangganan via Email