Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Istri: Master Chef Keluarga

SAHUR-seadanya di tengah badan yang masih mengantuk saya lakukan. Lauk kami bandeng presto, sambal, ditambah dengan gorengan tempe krispi ala chef Ulya ( buatan istri). 

Saya menyadari, istri memasak dengan penuh pengorbanan. Disaat saya belum bangun, ia bangun dahulu untuk menyediakan menu sahur yang tidak perlu pergi ke warung untuk beli.


Istri menceritakan kepada saya, kala ia terbangun, perutnya terasa agak mulas ingin segera ke kamar mandi. Ia menjelaskan, setelah dari kamar mandi, ia tidak bisa tidur hingga akhirnya ia gunakan untuk memasak, menyiapkan menu sahur walau cukup sederhana.


Saat kami makan sahur, saya lihat tetangga belum pada bangun. Jam di dingpun menunjukkan pukul 02.50 Wib. Hingga tepat pukul 03.00 Wib kami makan sahur dengan menu hangat hasil olahan jari lentik istri.


Sempat memang terdengar nada para oklekers (tukang oklek) berjalan. Namun hanya lirih di tengah pandemi corona yang membatasi aktivitas sosial. Jadilah setelah sahur selesai, saya kemudian mandi untuk mengusir kantuk sehingga selesai sahur tidak lantas tidur.


Memang sih, sunah makan sahur di akhirkan. Panduan Nabi gamblang sekali. Namun bagi saya, semampu untuk bangun, makan sahur jam berapapun itu tidak masalah. Toh, jika masih ada sisa waktu menjelang salat subuh, hal itu bisa saya gunakan untuk hal-hal produktif. Satu misal ta’jil (menyegerakan) membaca Alquran bermetode cicil dua lembar, agar di puasa pertama ini, 1 juz bisa selesai. Sehingga, selama bulan suci Ramadan, target untuk menghatamkan Alquran 30 juz bisa mudah terealisasi.


Semoga, rasa cinta kepada istri, di tengah wabah pandemi corona, menjadikan simpul baru hidupnya kasih sayang keluarga yang akhir-akhir ini terlalaikan akibat pekerjaan.  Amin.


Catatan: Usman Roin
Semarang, 1 Ramadan 1441 H

Posting Komentar untuk "Istri: Master Chef Keluarga"

Berlangganan via Email