Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Menjamurnya Pedagang Takjil

DI TENGAH-pandemi Covid-19, ada fenomena dadakan pedagang takjil, yang menurut KBBI online berarti makanan untuk berbuka puasa, menjamur di mana-mana. Tidak terkecuali lingkungan sekitar, atau jalan perlintasan yang memiliki sisi strategis lalu lalangnya orang.

Penulis pernah sekali berjalan-jalan untuk mencari gorengan sebagai pelengkap berbuka. Walhasil, walau tengah dilanda wabah Corona, antusiasme orang berburu kuliner masih banyak. Ada yang sudah menggunakan masker dan ada juga yang belum.

Hadirnya pedagang takjil tersebut, memanfaatkan bulan puasa untuk mengais rezeki. Tentu, di pedesaan, hal itu tidak akan kentara. Sebab, masyarakat pedesaan sudah terbiasa memasak dan menyiapkan aneka hidangan walau seadanya untuk berbuka.

Hal itu justru berbanding terbalik dengan kehidupan di kota. Kesan ‘kesibukan’ menjadikan banyak orang bila merasa 'malas' memasak, cukup dengan membeli saja pada pedagang takjil yang bermunculan. Mulai dari aneka minuman es, lauk pauk, buah-buahan, gore…

Pandemi: Ujian Kesadaran Kita

ADA-hal yang menarik saat penulis membaca buku Fikih Pandemi: Beribadah di Masa Wabah, karya Faried F. Saenong, dkk., yang diterbitkan oleh NUO Publishing, Tahun 2020. 

Buku ini walau sudah beredar versi PDF-nya di jagad medsos, namun penulis lebih mantap setelah mencetak atas buah oleh-oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Semarang, H. Achmad Fuad. 

Buku saku terkait bagaimana beribadah di masa pandemi ini cocok untuk melengkapi pemahaman penulis sebagai guidenlines, meminjam bahasa Prof. Nasaruddin Umar dalam pengantarnya. Tujuannya, ikut menahan ‘diri’ beribadah di rumah, tidak ke masjid. 

Mengutip sedikit kalimat pada halaman 10-11, ulama dan pemerintah menganjurkan untuk salat di rumah. Anjuran beribadah di rumah menjadi new normal (keadaan normal baru yang bersifat sementara), yang sama sekali tidak menggugurkan pahala dan keutamaan berjamaah dalam ibadah. 

Beribadah di rumah bahkan mendapat kelebihan pahala karena kebersamaan turut menghindarkan orang lain dari bahaya. Dasarnya ‘l…

Disiplin: Antara Ia dan Tidak

YANG-lagi hangat adalah, pembahasan antara ia dan tidak menyelenggarakan sunah tarawih di masjid dan musala. Saya yang mendengar saja geli, saat ada yang coba ‘memamerkan’ tempat ibadahnya tetap melaksanakan ibadah sunah tersebut. 

Padahal, mengutip  harian Suara Merdeka, Senin (20/4/20), hlm. 1, arahan MUI selama Ramadan jelas. Diantaranya; menghindari kerumunan, menjadikan rumah sebagai tempat ibadah, mengubah kebiasaan beribadah, dan tidak melakukan tradisi mudik.

Hal itu, belum lagi diperparah oleh potongan video, sebut saja ‘ngeyel’ yang banyak beredar di medsos. Bicaranya mendebat, melogiskan, menguliti, hingga menelanjangi tafsir ‘imbauan’ yang sudah disebarkan oleh lembaga yang berwenang.

Padahal, gambaran akan perjuangan tenaga kesehatan menangani pasian Covid-19 juga sudah banyak beredar. Tidak hanya foto, berita, video juga mudah kita dapatkan. Sudah bisa dibayangkan perjuangannya. Bukan hanya karena menahan lapar, haus, melainkan juga sumuk-nya APD yang digunakan. 

Belum lagi …

Warning: Tetangga yang Ahli Rumpi

BAGAIMANA-kalau punya tetangga pekerjaannya merumpi hingga berjam-jam. Tentu yang jadi tetangga menjadi risi. Mau apa-apa canggung karena rumpian yang tidak selesai-selesai. Bisa dibayangkan, bila “rumpi” itu kemudian menjadi jadwal harian. Tentu akan menjadi fenomena baru pekerjaan #dirumahaja.

Yang lebih miris, anak-anaknya akan menjadi korban dengan tidak terawasi secara optimal kebutuhannya. Mulai dari belum sempat dimandikan, dikasih makan, bahkan dirinya sendiri juga masih rembes, namun sudah asyik kelayapan ke rumah tetangga. Yang lebih memilukan, pekerjaan keluarga tidak kelar-kelar semuanya. Hingga ‘penulis’ yang menjadi tetangganya, memandang hal itu hanya bisa ngelus dada.

Pertanyaannya, lalu di mana suami-suami mereka, kok istri dibiarkan nonggo (bahasa Jawa) namun tidak di cegah? Padahal, lama-lama bisa dipastikan, jika istri yang seperti itu diingatkan, yang terjadi akan marah. Padahal, sudah menjadi kewajiban suami untuk mengingatkan, bila yang dilakukan sang istri itu ti…

Ramadan: Produktivitas Kita?

PRODUKTIF-atau dalam KBBI online bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar), hal positif sudah harus dilakukan oleh setiap orang. Terlebih, ketika memasuki bulan Ramadan seperti ini. Walaupun, suasana pandemi Covid-19 menyelimuti, namun produktivitas untuk melakukan hal terbaik bagi diri kita tetap harus dilakukan. Yakni, memanfaatkan waktu dengan amaliah positif itulah yang dikehendaki. 

Sebagai contoh, bila sebelum Ramadan membaca Alquran saja tidak kober, saat inilah di-menke, agar waktu puasa yang berlalu tidak terlalu lama untuk tidur belaka. Atau berlama-lama di depan layar televisi apalagi nge-game di gadget sebagaimana penulis banyak lihat kasuistiknya. 

Hal lainnya, jika ibadah fardu masih sering diakhirkan pelaksanaannya, Ramadan kali ini awal waktu harus menjadi pilihan. Apalagi, bila sebelum Ramadan ibadah sunah rawatib serta sunah lainnya seperti duha, tahajud, hajat luput dilakukan, lalu Ramadan kali ini dilaksanakan, artinya sudah ada produktivitas amaliah yang…

Suami: Imam "Baru" Keluarga

MENJADI-imam untuk keluarga seakan-akan memunculkan beban psikologis. Coba di angan-angan. Keluarga yang sudah saling tahu perilaku kebaikan hingga keburukan satu sama lain, perlu perjuangan ekstra untuk menyakinkan agar kepala rumah tangga bisa dan mampu menjadi imam salat saat pandemi Covid-19 terjadi.

Bahkan, penulis sempat melihat postingan dari sebuah IG, kala keluarga akan menjadi imam sunah tarawih, yang keluar selalu saja kalimat ‘usholli’ hingga terulang empat kali. Anaknya yang kecil ingin protes atas apa yang terjadi, namun hal itu dilarang oleh ibunya.

Realitas menjadi imam untuk keluarga, kali ini menjadi nyata dan ujian betul bagi para suami. Apalagi bila sebelumnya terdapat riuh pertengkaran kecil, maka salat sunah tarawih di rumah bersama keluarga bisa batal, beralih mandiri-mandiri, akibat sengketa kecil yang belum diakhiri.

Inilah ralitas yang terjadi, riil, belum lagi kalau suami tidak terbiasa dan tidak memiliki kemampuan menjadi imam. Inilah tantangan baru pelaksanaa…

Istri: Master Chef Keluarga

SAHUR-seadanya di tengah badan yang masih mengantuk saya lakukan. Lauk kami bandeng presto, sambal, ditambah dengan gorengan tempe krispi ala chef Ulya ( buatan istri). 

Saya menyadari, istri memasak dengan penuh pengorbanan. Disaat saya belum bangun, ia bangun dahulu untuk menyediakan menu sahur yang tidak perlu pergi ke warung untuk beli.

Istri menceritakan kepada saya, kala ia terbangun, perutnya terasa agak mulas ingin segera ke kamar mandi. Ia menjelaskan, setelah dari kamar mandi, ia tidak bisa tidur hingga akhirnya ia gunakan untuk memasak, menyiapkan menu sahur walau cukup sederhana.

Saat kami makan sahur, saya lihat tetangga belum pada bangun. Jam di dingpun menunjukkan pukul 02.50 Wib. Hingga tepat pukul 03.00 Wib kami makan sahur dengan menu hangat hasil olahan jari lentik istri.

Sempat memang terdengar nada para oklekers (tukang oklek) berjalan. Namun hanya lirih di tengah pandemi corona yang membatasi aktivitas sosial. Jadilah setelah sahur selesai, saya kemudian mandi untuk …