Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

‘Terapilah’ dengan Menulis

INFORMASI-yang cukup mengejutkan, membahagiakan, saya terima dari teman pewarta cetak ‘SM’ sebagai inisial. Dari artikal yang telah saya buat dan tayang di media online, kemudian alamat link-nya saya gunakan update status, tiba-tiba teman pewarta menghubungi saya via japri. Intinya, minta file artikel dan foto yang telah tayang untuk dikirimkan kepadanya.

Saya kemudian mengirimkan kepada teman pewarta sambil sekali bertanya, bahwa tulisan yang saya buat itu bentuknya artikel bukan berita? Jawaban pewarta, sudah dimengerti dan ingin digubah menjadi berita khusus, menyikapi kemandirian belajar siswa akibat Covid-19 yang menjadi pandemi atau wabah yang berjangkit serempak dimana-mana. 


Dengan senang hati saya pun mengirimkan. Niatan saya, selagi bisa memberikan manfaat, saya sangat mempersilahkan siapa saja membagikan dalam bentuk apapun kepada orang lain. Toh  itu adalah karya ‘ori’ dari saya sebagai penulis.


Sebagai pembaca sekaligus penulis, saya ikut senang. Bahkan, saya merasa terdorong, ingin belajar dari skill yang dimiliki oleh teman-teman pewarta dalam hal tulis menulis. Ia mampu mengubah jenis tulisan apapun menjadi berbagai tulisan. Bisa straight news (berita langsung), indepth news (berita mendalam), feature, dan lain sebagainya. Di sinilah saya salut dengan kemampuan para pewarta hingga berbagai tulisan bisa dihasilkan dan memiliki kekhasan sendiri-sendiri.


Memang, bicara menulis, hanya sedikit yang menekuni. Padahal, saat mendengarkan khotbah Jumat (20/3), di masjid dekat dengan tempat kerja,  khatib mengatakan, bahwa dengan menulis akan meningkatkan daya ingat. Hal itu kemudian selaras dengan salah satu buku kepenulisan yang saya miliki berjudul Writing for Therapy (2015:39-40), karya Naning Pranoto. 


Dalam bukunya, Naning yang pernah menjadi Pemred Majalah Jakarta-Jakarta (1981-1982) menyampaikan, bahwa kestabilan dan kualitas kondisi jiwa raga ditentukan oleh tiga unsur. Apa yang kita pikirkan (thoughts), rasakan (emotions), dan lakukan (behavior). 


Ketiga unsur tersebut menurut filsuf Immanuel Kant menjadi positif dan negatif tergantung pada ‘imajinasi’ kita masing-masing. Maka yang paling tepat, untuk memperoleh pencerahan jiwa, posisikan imajinasi kita pada jalur positif yaitu dimulai dengan: kata, kata untuk mengungkapkan perasaan. Baik itu kata yang diucapkan (spoken) maupun yang ditulis (written). Kata-kata positif bersifat menguatkan – bahkan meneguhkan jiwa penggunanya. Sebaliknya kata-kata negatif akan melemahkan jiwa pemakainya. 


Sebagai penutup, menulislah. Karena menulis itu memilih kata yang tepat mewakili ide, perasaan, dikeluarkan untuk meredam bila ada rasa hati yang runtuh hingga menyembuhkan jiwa yang lara.


Oleh: Usman Roin 
Penulis adalah Pengelola Abjad  gurunulis.com  dan Ketua Umum Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (RISMA-JT) periode 2006-2007.

Posting Komentar untuk "‘Terapilah’ dengan Menulis"

Berlangganan via Email