Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wayahe Ngaji Alquran

HARI-ini (5 hari sekali) adalah jadwal saya setoran menghafal Quran dengan salah satu guru tahfiz di Sekolah yang juga sudah hafiz. Semangat untuk bisa menghafal Quran muncul karena saya ingin hafal Quran. Walau tidak dalam jumlah yang banyak, hingga berlembar-lembar, hal itu tetap saya lakukan. Karena keinginan saya, sehari satu ayat (one day one ayat).

Semangat muda untuk menghafal Quran tidak ingin saya padamkan. Entah kapan hatamnya itu tidak perlu saya pusingkan. Karena, dalam hitungan matematis, bila jumlah ayat Quran menurut Kuffiyun sebanyak 6.236 ayat, dan bila setahun ada 365 hari, artinya butuh 17 tahun satu bulan untuk merampungkannya. Benak kecil saya, semoga niatan baik ini senantiasa mendapatkan kemudahan dari Allah Swt.


Disalah satu materi hutbah, tertanggal 3 Januari 2020, saya sebagai khatib pernah menyampaikan, siapa lagi bila tidak kita (generasi muslim) yang menghafal Quran? Justru yang sudah lancar, bisa, dan bahkan fasih membaca Quran tidak berhenti di situ saja, melainkan punya keinginan lebih yakni menghafalkan Quran. 


Terlebih, ada kisah nyata, bukan hoax, yakni kisah Syaikh Duraid Ibrahim Al-Mosuli, yang pada tahun 1992 baru masuk Islam. Namun ia membuktikan bisa menghafal kitabullah dalam kurun waktu satu tahun delapan bulan. Bahkan, saking semangatnya, keberhasilan beliau dalam menghafal Quran, ia bingkai menjadi buku berjudul Ihfazhil Quraana kama Tahfazal Fatihah yang dalam terbitan bahasa Indonesia dibuat judul bombastis Hafal Quran semudah Hafal Al-Fatihah.


Semangat menghafal Quran idealnya harus dipupuk sejak dini. Terlebih, hari ini sudah banyak sekolah Islam yang membuka program tahfiz. Hanya saja, perlu dipertegas, jika lembaga pendidikan memiliki program tersebut, sarana prasarana harus dioptimalkan keberadaannya. Sebab, menghafal Quran itu  butuh suatu ruangan, waktu, dan teman khusus. Tidak lain agar ada ikatan penyemangat bahwa tahfiz adalah orientasi bersama. 


Di samping sarana prasarana, yang lebih penting juga adalah keaktifan orang tua untuk memantau jalannya hafalan anak selama di rumah. Karena bisa dimungkinkan, anak di sekolah ikut tahfiz, namun selama di rumah orang tua tidak pernah melihat berapa ayat yang sudah dihafalkan anak. Lalu, berapa ayat lagi yang dipersiapkan untuk setoran dengan guru tahfiznya. Jika kondisinya demikian, artinya keberhasilan tahfiz akan sulit tercapai. Itu karena proses menghafal anak hanya selama berada di sekolah saja, yang waktunya sangat tidak mencukupi.


Saya ingat betul, memori masa lalu. Saat saya mengaji kepada salah satu Kyai di musala kala MTs setara SMP. Untuk bisa membaca ayat-ayat suci Alquran saja, harus dimulai dari dasar bacaan huruf. Waktu itu yang terkenal adalah Juz’amma. Setelah lancar dan bisa, baru kemudian beranjak kepada Alquran. 


Bahkan, salah satu pengalaman pahit, namun membawa berkah sampai sekarang adalah, saat saya mengaji setoran beberapa ayat, untuk tahsin (memperbagus bacaan Alquran sesuai dengan ilmu Tajwid), saya salah mengucap harakat, yang semestinya harakatnya fatah, saya membacanya damah. Selama satu minggu, Kyai saya tidak beranjak melanjutkan pada lembar ayat-ayat berikutnya. Saya diminta mencari kesalahan bacaan yang saya baca. Pada bagian mana tepatnya. Dari peristiwa itu, alhamdulillah, walau hanya tahsin dengan Kyai di musala, namun bisa sampai hatam 30 juz membacanya.

Pertanyaannya, bila generasi hari ini hanya menggantungkan belajar di sekolah, lalu kapan bisa membaca Alquran secara benar, fasih dan lancar? Masak kalah fasih cas, cis, cus, bahasa Inggris di bimbelkan ke les terkenal, mahal, bersertifikat, dll. Sedangkan mengikutkan anak ke TPQ atau mendatangkan guru ngaji ke rumah saja enggan. Mau bisa ngaji, mana mungkin? 


Mungkin benar sekali kata penjual 'pentol' yang viral dari Kabupaten Bojonegoro Provinsi Jawa Timur.  
Wayahe..
Wayahe.. 
Wayahe belajar Quran lho!

Oleh: Usman Roin  
Penulis adalah Pengelola Abjad  gurunulis.com

Posting Komentar untuk "Wayahe Ngaji Alquran"

Berlangganan via Email