Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Bukuku Lahir dari Status WA

TAHUN-2020, alhamdulillah lahir buku saya yang ketiga berjudul 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020). Adapun buku yang pertama, Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013), ini menjadi kado ‘souvenir’ untuk pernikahan saya. Sementara buku kedua, Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), menjadi buku antologi bersama dua guru lainnya yang suka menulis.

Ihwal buku ketiga, ini lahir dari keisengan melihat status WhatsApp (WA) yang saya buat. Namun seiring dengan waktu menghilang. Bila tidak percaya, coba lihat keterangan pada status WA yang Anda buat. Bunyinya, Pembaruan status Anda akan hilang setelah 24 jam. Munculnya status yang saya buat 100% original. Tidak mengutip, menyadur, bahkan copy paste perkataan orang lain. Di sinilah yang mahal dari conten buku saya.

Secara singkat, di buku 50 Status Inspiratif ini, saya ingin membuat ratusan status untuk kemudian saya bukukan. Namun dalam pelaksanaannya, ternyata m…

Status WA pun Bisa Jadi Buku

BICARA-update status, setiap kepala yang faham akan gadget pasti melakukan hal itu.

Terlebih, hari ini siapa anak milenial yang luput dari bekal itu? Tentu update status menjadi bagian dari eksistensi diri mereka terhadap aneka peristiwa, kreativitas diri yang dimiliki, dunia pekerjaan yang digeluti, hingga sekadar lucu-lucuan sebagai hiburan. Entah itu karya sendiri atau cukup mengunduh hasil karya orang lain untuk kemudian dijadikan update status.

Hanya saja, jarang dari kita coba untuk membuat status khas karya kita. Kalaupun ada, kadang status yang telah diketik dan ter-update dibiarkan saja menguap. Padahal bila status yang menurut kita inspiratif tersebut, jika kemudian dikumpulkan tentu akan menjadi  buah karya yang menarik untuk dibaca.

Sebaik bukti, buku berjudul 50 Status Inspiratif karya saya ini adalah kebenaran yang tak semu, dan rugi banget jika status kita yang terupdate di WA atau media sosial lainnya dibiarkan begitu saja pergi. Berganti dan menghilang secara otomatis.

Antara Iya dan Tidak "Reorganisasi"

ADA-diskusi hangat sebuah organisasi perihal iya atau tidak (pending) reorganisasi dilakukannya. Melihat KBBI online “reorganisaai” bermakna penyusunan atau penataan kembali pengurus, lembaga, dan lain sebagainya. Terlebih, masa kepemimpinan telah berakhir. Hanya saja, di tengah situasi pandemi Covid-19 lah yang menjadi problem baru untuk menyelenggarakannya. Apalagi, semua orang dituntut untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan. Bahkan turunan aturan sudah tertuang, berseliweran, baik dalam bentuk Surat Edaran (SE), Maklumat, dan lain sebagainya di medsos.
Secara normatif, memang betul, bahwa momen pergantian adalah sakral. Karena disitulah akan terjadi diskusi hangat terkait perumusan dan penetapan aturan ‘baru’ yang dirasa sebagai penjelas (pasal atau ayat) hingga peniadaan yang membuat multi tafsir, apalagi sudah tidak relevan dengan zaman.
Perlu disadari, estafet kepemimpinan itu sunnatullah. Artinya, pergantian kepemimpinan itu adalah hal yang mutlak harus dilaku…

HLH: Jangan Hanya Diperingati

BERSEPEDA-bisa menjadi bagian dari ikut merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day (WED) yang jatuh setiap tanggal 5 Juni.

Kebetulan sekali, Jumat, 5 Juni 2020 ini adalah Hari Lingkungan Hidup (HLH). Tentu bentuk peringatan akan pentingnya menjaga lingkungan haruslah konkrit. Sebagai misal bersepeda atau jalan kaki kala ke kantor bagi yang dekat dengan rumah. Terlebih, masa pandemi Covid-19 ini stamina kesehatan juga harus dijaga agar kebugaran badan terasa. Maka berolahraga adalah sarana efektif sekaligus upaya menyingkap kebosanan selama stay at home.

Bentuk peringatan lainnya, saya melihat pada medsos juga banyak bertebaran update status yang menunjukkan hari ini sebagai HLH. Hal itu sah dilakukan sebagai bentuk informasi, kampanye bahwa peringatan HLH perlu diketahui bersama. Apalagi, tingkat perusakan terhadap lingkungan luar biasa.

Contoh kecil saja, masih banyak orang membuang sampah di selokan/got depan rumah selesai menyapu di pagi atau sore hari. Bila …

Songkok: Dari Identitas Ibadah dan Nusantara

SIANG-spesial saya mendapatkan kiriman songkok lukis giveaway, berukuran 8, tinggi 10, jenis AC, dari akun instagram @gresikpreneur yang diumumkan pada tanggal 14 Mei 2020. Isi dari postingan tersebut hanya diminta komen di postingan IG tersebut, sambil menuliskan nama lengkap dan tempat tugas sekolah atau madrasah serta hastaq #pergunu.

Seketika tanpa pikir terlalu lama, saya akhirnya menuliskan hal tersebut. Saya tergugah dikarenakan ada identitas Pergunu. Terlebih saya dikasih amanah untuk menjadi Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Provinsi Jawa Tengah. Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan sebagai bagian meramaikan warisan nusantara yakni keberadaan songkok.

Bicara songkok, sudah dari dahulu saya diperkenalkan oleh orangtua. Kegagahan tersendiri orang yang memakai songkok sebagai identitas lokalitas budaya. Mengutip Ahmad Rahman Budiman yang merupakan Owner Songkok Lukis Nusantara menyatakan, “Songkok adalah adibusana Nusantara, memakainya sama dengan merawat war…

Tolong Menolong di Keluarga

SALING-bantu membantu itu diperlukan. Bahkan di bagian akhir surah Al-Maidah: 2, Allah Swt secara gamblang memerintahkan untuk tolong menolong melalui redaksi"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya".

Tentang wujud tolong menolong, tentunya tidak terbatas. Kepada yang terdekat "keluarga" bahkan istri dalam hal remeh pun perlu diwujudkan. Sebagai misal, membantu mencuci pakaian, piring, hingga memasak untuk menyiapkan menu buka puasa. Hadirnya bantuan tersebut di samping meringankan beban istri, juga dalam rangka mempercepat selesainya pekerjaan. 

Bisa dibayangkan bila dalam keluarga yang sibuk hanya istri kala di dapur, dan tidak dibantu untuk mempercepat pekerjaannya. Tentu usai memasak, peralatan yang selesai digunakan akibat kotor hanya akan menumpuk.  Hal itu tidak akan terjadi, manakala sang suami …

Kamuflase Warung

SIANG-ini, penulis coba keluar dikarenakan ada kepentingan bersama teman. Udara yang panas di siang hari terasa banget. Terlebih, saat menjalani puasa dan melewati jalan demi jalan aspal selama perjalanan. 

Sesekali terlihat, minimnya aktivitas di siang hari. Apalagi saat pandemi Covid-19 yang menuntut masing-masing dari kita untuk banyak di rumah. Namun, yang agak mengherankan, masih ada warung di pinggir jalan membuka diri. Penutup mmt atau gorden bagi penulis hanya kamuflase bahwa warungnya seakan-akan tutup. Padahal di dalamnya banyak aktivitas orang yang makan. 

Adanya mmt atau gorden penutup warung, menurut penulis memang upaya bijak 'pemilik' agar orang yang tengah berpuasa tidak tergoda dengan membatalkan puasa. Melainkan 'cukup dengan melihat' sebagaimana penulis, lalu mempersilahkan kepada orang yang tidak berpuasa menikmati makan di dalam warung.

Ada yang lebih agak tragis memang. Saat penulis lewat di sebuah kampung, dengan terang benderang sekelompok orang ng…

Solusi Imam Salat Keluarga

SEBAGAI-mahluk sosial, kadang penulis juga terpikirkan bagaimana nasib ‘ibadah sunah tarawih’ para tetangga. Bukan dalam arti ‘sok’ ingin memperlihatkan keistikamahan perwujudan ibadah diri sendiri, melainkan coba ikut mendakwahkan, walau stay at home, ibadah bersama keluarga harus dijaga kekokohannya.

Karena bisa jadi, bagi yang belum memiliki ‘imam’ ibadah bersama keluarga, jadi alasan tidak terlaksanakannya ibadah sunah tarawih di rumah. Hal itu sejalan dengan hasil diskusi Pimpinan Kecamatan Dewan Masjid Indonesia Kota Semarang beberapa waktu lalu.

Masih banyak masjid, musala, menyelenggarakan sunah tarawih bisa jadi karena banyak kepala keluarga 'tidak bisa' menjadi imam salat. Sehingga, dengan tetap ikut tarawih di masjid dan musalah adalah solusi tepat.

Hal ini memang rasional, dan luput dicarikan solusi oleh stakeholder yang ada. Tetapi, ada satu solusi menarik yang coba ditawarkan oleh H. Ahmad Yani yang merupakan Ketua Departemen Dakwah PP DMI, lewat kiriman tulisan ya…

Teman Pasca Kehidupan: ?

ADA-gambar menarik yang penulis sertakan ‘pada tulisan ini’, dari akun instagram ala_nu. Dari gambar yang di post-kan saja, penulis dan juga pembaca akan bisa menebak apa hikmah yang bisa diambil. 

Jujur penulis sangat tertarik dengan ilustrasi gambar yang coba penulis kasih judul 'pasca kehidupan'. Yakni, kematian. Di gambar itu, sangat jelas pesan yang ingin disampaikan ketika orang itu meninggal dunia. Keluarga, harta, jabatan, dan popularitas tidak akan terbawa di liang lahat. Yang menemani hanyalah amal selama kita hidup di dunia.

Potret gambar tersebut, memiliki filosofis yang dalam, dan mengingatkan kepada orang-orang yang rakus akan jabatan. Bahwa jabatan tidak akan diikutkan di kuburan. Ia akan terhenti manakala sudah meninggal. Maka ‘amal’ saat menjabat itulah yang akan menemani kala berada di kuburan.

Begitu juga dengan harta benda yang dikumpulkan. Jika yang dimiliki rumah dengan harga miliaran, ternyata tidak satupun yang dibawa di kuburan. Jika harta (uang, intan, e…

Serba Daring

DALAM-jaringan (daring) hari ini menjadi kebutuhan agar penggalian pengetahuan rohani bisa ter-update di tengah pandemi yang terjadi. Keadaan yang meniadakan kerumunan mau tidak mau memaksa kita agar menyesuaikan terhadap pesan untuk menuntut ilmu terus dilakukan. Salah satunya adalah, mengaji, mengikuti seminar, pembelajaran, rapat, persidangan, dan lain sebagainya via online.

Situasi ini tentu dituntut melek teknologi. Siapa saja. Artinya secara operasional, update menggunakan teknologi menjadi bagian yang tidak terelakkan, guna mempermudah aneka kebutuhan bisa terpenuhi. 

Inilah solusi di tengah pandemi. Suasana menyemarakkan bulan suci tidak lantas senyap. Melainkan dari rumah, melalui kecanggihan teknologi ponsel pintar, berbagai fasilitas seminar, pengajian online bisa kita nikmati.

Justru, jangkauan via online tidak terbatas. Hal itu sebagaimana apa yang disampaikan oleh kawan Jurnalis senior, surat kabar terkemuka di Jawa Tengah yang mengatakan, bahwa online itu memiliki daya jan…

Cara Pandang Dewasa

ADA-hal yang menarik dari apa yang disampaikan oleh Prof Nadirsyah Hosen di Koran Jawa Pos, Minggu (3/5), di kolom Syiar. Yang menarik dari penyampaian beliau, kita diminta untuk berdampingan dengan Corona. Arti menerima Corona dalam hidup, kita tidak melanggar semua pantangan dokter dan aturan pemerintah, dan melepaskan ego diri dalam beribadah dan berinteraksi.

Lebih lanjut menurut Gus Nadir, hidup baru bersama Corona justru membuat hidup kita semakin bersih, lingkungan semakin dijaga, dan kota harus semakin kreatif menciptakan peluang  kerja dan pola komunikasi. 

Ia melanjutkan, 'penerimaan' adalah cara kita bersikap optimis melanjutkan kehidupan. Alhasil, pemerintah melahirkan kebijakan, dokter mangajari kita keselamatan, dan para kiai telah mengajari cara pandang baru menerima dan hidup bersama Corona.

Cara pandang yang seperti ini, bagi penulis adalah cara pandang yang dewasa. Cara pandang filosofis yang serat makna. Apalagi Covid-19, ini butuh disikapi dengan cerdas. Yakni…

Olahraga Saat Puasa

KADANG-untuk menyempatkan olahraga saat puasa, beratnya minta ampun. Apalagi, bila selesai subuh 'tidak bisa mengontrol' untuk tidak beranjak ke tempat tidur lagi. Sangat jelas akan tergoda.

Di masa pandemi Covid-19 ini, di samping menjaga stamina puasa, berolahraga juga perlu dilakukan. Sebagaimana penulis, yang sesekali ‘walau tidak setiap hari’ bersepeda ke kantor. Tidak lain untuk menyeimbangkan antara olah spiritual (puasa) dan olahraga dengan bersepeda. Catatannya, bila jarak antara rumah dan kantor tidak terlalu jauh untuk dilakukan.

Berolahraga, saat puasa, memang tetap diperlukan. Hanya saja, jangan terlalu berlebihan karena save-ing makan kita terbatas. Padahal, masih ada beban tugas berupa berpikir yang kadang menghabiskan bekal makan sahur.

Berolahraga bisa dilakukan dengan memasukkan pada unsur-unsur kegiatan keseharian. Mulai dari mencuci baju hingga menjemur, kemudian menyapu lantai rumah hingga halaman. Lalu, bisa pula dengan menata ulang dekorasi, melihat sawah (…

Antara Masak vs Beli

MASAK-atau beli. Itulah fonemena yang terjadi di dalam keluarga. Terlebih saat puasa. Bagi keluarga yang malas masak, atau punya hobi ‘rumpi’, tinggal beli saja pada penjual takjil beras, dan selesailah persiapan buka puasa di keluarga.

Bila memasak, tentu ‘uang belanja’ akan ada jatah. Untuk beli bumbu dapur, belum lagi ‘calon’ lauk pauk dan lain sebagainya. Maka penulis juga terbiasa mengasih uang belanja kepada istri walau tidak setiap hari, yakni seminggu sekali. 

Bila dipikir, dengan memasak sendiri, memang akan bertambah pengeluaran keluarga. Namun dibalik itu, ada hal yang tidak pernah dipikirkan. Yakni, pembelajaran buat ibu-ibu untuk meningkatkan kualitas ‘rasa’ masakannya. 

Maka dengan latihan dari ke hari, diharapkan daya rasa masakannya itu tidak kalah dengan masakan yang ‘instan’ dengan membeli. Bahkan bisa setenar master chef sebagaimana yang banyak nongol di televisi. Toh kala kita membeli masakan jadi, cara memasak utamanya dari sisi kebersihannya juga tidak tahu. 

Justru …

Menjamurnya Pedagang Takjil

DI TENGAH-pandemi Covid-19, ada fenomena dadakan pedagang takjil, yang menurut KBBI online berarti makanan untuk berbuka puasa, menjamur di mana-mana. Tidak terkecuali lingkungan sekitar, atau jalan perlintasan yang memiliki sisi strategis lalu lalangnya orang.

Penulis pernah sekali berjalan-jalan untuk mencari gorengan sebagai pelengkap berbuka. Walhasil, walau tengah dilanda wabah Corona, antusiasme orang berburu kuliner masih banyak. Ada yang sudah menggunakan masker dan ada juga yang belum.

Hadirnya pedagang takjil tersebut, memanfaatkan bulan puasa untuk mengais rezeki. Tentu, di pedesaan, hal itu tidak akan kentara. Sebab, masyarakat pedesaan sudah terbiasa memasak dan menyiapkan aneka hidangan walau seadanya untuk berbuka.

Hal itu justru berbanding terbalik dengan kehidupan di kota. Kesan ‘kesibukan’ menjadikan banyak orang bila merasa 'malas' memasak, cukup dengan membeli saja pada pedagang takjil yang bermunculan. Mulai dari aneka minuman es, lauk pauk, buah-buahan, gore…

Pandemi: Ujian Kesadaran Kita

ADA-hal yang menarik saat penulis membaca buku Fikih Pandemi: Beribadah di Masa Wabah, karya Faried F. Saenong, dkk., yang diterbitkan oleh NUO Publishing, Tahun 2020. 

Buku ini walau sudah beredar versi PDF-nya di jagad medsos, namun penulis lebih mantap setelah mencetak atas buah oleh-oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Semarang, H. Achmad Fuad. 

Buku saku terkait bagaimana beribadah di masa pandemi ini cocok untuk melengkapi pemahaman penulis sebagai guidenlines, meminjam bahasa Prof. Nasaruddin Umar dalam pengantarnya. Tujuannya, ikut menahan ‘diri’ beribadah di rumah, tidak ke masjid. 

Mengutip sedikit kalimat pada halaman 10-11, ulama dan pemerintah menganjurkan untuk salat di rumah. Anjuran beribadah di rumah menjadi new normal (keadaan normal baru yang bersifat sementara), yang sama sekali tidak menggugurkan pahala dan keutamaan berjamaah dalam ibadah. 

Beribadah di rumah bahkan mendapat kelebihan pahala karena kebersamaan turut menghindarkan orang lain dari bahaya. Dasarnya ‘l…

Disiplin: Antara Ia dan Tidak

YANG-lagi hangat adalah, pembahasan antara ia dan tidak menyelenggarakan sunah tarawih di masjid dan musala. Saya yang mendengar saja geli, saat ada yang coba ‘memamerkan’ tempat ibadahnya tetap melaksanakan ibadah sunah tersebut. 

Padahal, mengutip  harian Suara Merdeka, Senin (20/4/20), hlm. 1, arahan MUI selama Ramadan jelas. Diantaranya; menghindari kerumunan, menjadikan rumah sebagai tempat ibadah, mengubah kebiasaan beribadah, dan tidak melakukan tradisi mudik.

Hal itu, belum lagi diperparah oleh potongan video, sebut saja ‘ngeyel’ yang banyak beredar di medsos. Bicaranya mendebat, melogiskan, menguliti, hingga menelanjangi tafsir ‘imbauan’ yang sudah disebarkan oleh lembaga yang berwenang.

Padahal, gambaran akan perjuangan tenaga kesehatan menangani pasian Covid-19 juga sudah banyak beredar. Tidak hanya foto, berita, video juga mudah kita dapatkan. Sudah bisa dibayangkan perjuangannya. Bukan hanya karena menahan lapar, haus, melainkan juga sumuk-nya APD yang digunakan. 

Belum lagi …

Warning: Tetangga yang Ahli Rumpi

BAGAIMANA-kalau punya tetangga pekerjaannya merumpi hingga berjam-jam. Tentu yang jadi tetangga menjadi risi. Mau apa-apa canggung karena rumpian yang tidak selesai-selesai. Bisa dibayangkan, bila “rumpi” itu kemudian menjadi jadwal harian. Tentu akan menjadi fenomena baru pekerjaan #dirumahaja.

Yang lebih miris, anak-anaknya akan menjadi korban dengan tidak terawasi secara optimal kebutuhannya. Mulai dari belum sempat dimandikan, dikasih makan, bahkan dirinya sendiri juga masih rembes, namun sudah asyik kelayapan ke rumah tetangga. Yang lebih memilukan, pekerjaan keluarga tidak kelar-kelar semuanya. Hingga ‘penulis’ yang menjadi tetangganya, memandang hal itu hanya bisa ngelus dada.

Pertanyaannya, lalu di mana suami-suami mereka, kok istri dibiarkan nonggo (bahasa Jawa) namun tidak di cegah? Padahal, lama-lama bisa dipastikan, jika istri yang seperti itu diingatkan, yang terjadi akan marah. Padahal, sudah menjadi kewajiban suami untuk mengingatkan, bila yang dilakukan sang istri itu ti…

Ramadan: Produktivitas Kita?

PRODUKTIF-atau dalam KBBI online bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar), hal positif sudah harus dilakukan oleh setiap orang. Terlebih, ketika memasuki bulan Ramadan seperti ini. Walaupun, suasana pandemi Covid-19 menyelimuti, namun produktivitas untuk melakukan hal terbaik bagi diri kita tetap harus dilakukan. Yakni, memanfaatkan waktu dengan amaliah positif itulah yang dikehendaki. 

Sebagai contoh, bila sebelum Ramadan membaca Alquran saja tidak kober, saat inilah di-menke, agar waktu puasa yang berlalu tidak terlalu lama untuk tidur belaka. Atau berlama-lama di depan layar televisi apalagi nge-game di gadget sebagaimana penulis banyak lihat kasuistiknya. 

Hal lainnya, jika ibadah fardu masih sering diakhirkan pelaksanaannya, Ramadan kali ini awal waktu harus menjadi pilihan. Apalagi, bila sebelum Ramadan ibadah sunah rawatib serta sunah lainnya seperti duha, tahajud, hajat luput dilakukan, lalu Ramadan kali ini dilaksanakan, artinya sudah ada produktivitas amaliah yang…

Suami: Imam "Baru" Keluarga

MENJADI-imam untuk keluarga seakan-akan memunculkan beban psikologis. Coba di angan-angan. Keluarga yang sudah saling tahu perilaku kebaikan hingga keburukan satu sama lain, perlu perjuangan ekstra untuk menyakinkan agar kepala rumah tangga bisa dan mampu menjadi imam salat saat pandemi Covid-19 terjadi.

Bahkan, penulis sempat melihat postingan dari sebuah IG, kala keluarga akan menjadi imam sunah tarawih, yang keluar selalu saja kalimat ‘usholli’ hingga terulang empat kali. Anaknya yang kecil ingin protes atas apa yang terjadi, namun hal itu dilarang oleh ibunya.

Realitas menjadi imam untuk keluarga, kali ini menjadi nyata dan ujian betul bagi para suami. Apalagi bila sebelumnya terdapat riuh pertengkaran kecil, maka salat sunah tarawih di rumah bersama keluarga bisa batal, beralih mandiri-mandiri, akibat sengketa kecil yang belum diakhiri.

Inilah ralitas yang terjadi, riil, belum lagi kalau suami tidak terbiasa dan tidak memiliki kemampuan menjadi imam. Inilah tantangan baru pelaksanaa…

Istri: Master Chef Keluarga

SAHUR-seadanya di tengah badan yang masih mengantuk saya lakukan. Lauk kami bandeng presto, sambal, ditambah dengan gorengan tempe krispi ala chef Ulya ( buatan istri). 

Saya menyadari, istri memasak dengan penuh pengorbanan. Disaat saya belum bangun, ia bangun dahulu untuk menyediakan menu sahur yang tidak perlu pergi ke warung untuk beli.

Istri menceritakan kepada saya, kala ia terbangun, perutnya terasa agak mulas ingin segera ke kamar mandi. Ia menjelaskan, setelah dari kamar mandi, ia tidak bisa tidur hingga akhirnya ia gunakan untuk memasak, menyiapkan menu sahur walau cukup sederhana.

Saat kami makan sahur, saya lihat tetangga belum pada bangun. Jam di dingpun menunjukkan pukul 02.50 Wib. Hingga tepat pukul 03.00 Wib kami makan sahur dengan menu hangat hasil olahan jari lentik istri.

Sempat memang terdengar nada para oklekers (tukang oklek) berjalan. Namun hanya lirih di tengah pandemi corona yang membatasi aktivitas sosial. Jadilah setelah sahur selesai, saya kemudian mandi untuk …

‘Terapilah’ dengan Menulis

INFORMASI-yang cukup mengejutkan, membahagiakan, saya terima dari teman pewarta cetak ‘SM’ sebagai inisial. Dari artikal yang telah saya buat dan tayang di media online, kemudian alamat link-nya saya gunakan update status, tiba-tiba teman pewarta menghubungi saya via japri. Intinya, minta file artikel dan foto yang telah tayang untuk dikirimkan kepadanya.

Saya kemudian mengirimkan kepada teman pewarta sambil sekali bertanya, bahwa tulisan yang saya buat itu bentuknya artikel bukan berita? Jawaban pewarta, sudah dimengerti dan ingin digubah menjadi berita khusus, menyikapi kemandirian belajar siswa akibat Covid-19 yang menjadi pandemi atau wabah yang berjangkit serempak dimana-mana. 

Dengan senang hati saya pun mengirimkan. Niatan saya, selagi bisa memberikan manfaat, saya sangat mempersilahkan siapa saja membagikan dalam bentuk apapun kepada orang lain. Toh  itu adalah karya ‘ori’ dari saya sebagai penulis.

Sebagai pembaca sekaligus penulis, saya ikut senang. Bahkan, saya merasa terdoron…

Panas Dingin Orangtua

COVID-19 menjadi bahasan yang tak kunjung surut. Di kantor, di rumah, di lembaga pendidikan, mall, rumah ibadah, tongkrongan kopi, dan juga chat yang super dahsyat di group WA. Apalagi ketika diumumkan ‘libur’ belajar, alias belajar dari rumah. Info itulah yang sangat dinanti-nanti oleh segenap orangtua. 

Ketika sudah ketok palu, dengan hadirnya surat edaran (SE), mulai dari Kemendikbud, Gubernur, Walikota/Bupati, Dinas Pendidikan, dan Sekolah,  memang ‘ada’ yang agak berat hati  ‘sebagian orangtua’ saat anaknya di rumah. Yang ekstrim, ada gambaran ‘rumah akan jadi kapal pecah,’ kata some one yang penulis rahasiakan namanya dari obrolan group WA. 

Sikap di atas bagi penulis wajar. Seperti ada ‘kepanikan’ saat anak terbiasa belajar di sekolah, namun sekarang belajar dari rumah. Hanya saja, dikarenakan Covid-19, penulis percaya, kekagetan orangtua pada awal tidak akan terus menerus. Karena bagaimana mengendalikan anaknya agar tetap belajar selama di rumah, orangtua sudah bisa membaca bahw…

Obrolan dengan bib Ata Senior RISMA-JT

JUMAT-(17/1/20) malam saya ditanya oleh senior di organisasi Remaja Masjid Agung Jawa Tengah atau yang familier di singkat dengan RISMA-JT. Bib Ata itulah nama panggilan terbaru penulis. Panggilan itu bagi penulis tidak salah karena nama beliau memang Ata M Habib. Jadi kalau penulis ‘penggal’ nama belakang dan saya tambah dengan nama pertama, tidak ada unsur eksploitasi terkait pencemaran nama baiknya. Ha..ha..ha.

Pokok masalah yang ditanyakan belia adalah benarkah penulis menjabat sebagai Ketua RISMA-JT tahun 2006-2007. Dengan lugas dan sambil mengingat-ingat penulis kemudian meng-ia-kan. Karena disaat menjabat sebagai Ketua, masa jabatan penulis hanya setahun. Yang akhirnya setelah beberapa periode setelah penulis, kepengurusan setahun itu pendek sekali. Yang akhirnya diperharui masanya menjadi dua tahun setiap yang menjabat sebagai Ketua RISMA-JT.

Ingatan akan periodesasi masa jabatan para Ketua RISMA-JT, bagi penulis dan bib Ata akan pasti bila ada catatan yang dilakukan. Sayangnya …