Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Spirit Belajar di Tahun Baru

BERAKHIRNYA-liburan natal dan tahun baru, tentu menyisakan tanda tanya mendalam. Apakah spirit perubahan ada pada kita semua, tidak terkecuali para pelajar dalam hal belajar? 

Pertanyaan ini penulis tekankan agar jangan sampai kehadiran tahun baru sekadar berlalunya kalender bulan Desember yang lama (old) menuju lembaran bulan Januari baru (new) yang nihil dari aktivitas dan semangat belajar. Justru tahun baru adalah tahun merumuskan strategi kehidupan untuk setahun yang akan datang tidak terkecuali kepada para pelajar dalam hal sukses belajarnya. Tujuannya, guna menjemput kesuksesan hidup yang diimpikan. Sehingga, peralihan zaman now –tahun baru– menjadi pemantik diri untuk memperbaiki segala usaha (ikhtiar maupun doa) sebagai langkah memperbarui mindset (pola pikir) guna mewujudkan goal tujuan kehidupan yang diimpikan melalui implementasi nyata melalui spirit baru belajar.

Tentang belajar bagi para pelajar pasca liburan, yang diperlukan adalah menciptakan lingkungan pembelajar. Lingkungan yang penulis maksud baik berupa tempat dan people (orang tua, teman, sahabat, dsb). Terkait tempat belajar, tentu ruangan untuk belajar itulah yang dimaksud. Bukan hanya sekolah an sich, melainkan segala tempat yang bisa dijadikan sebagai aktivitas belajar itu terwujud. Sebut saja ‘perpustakaan’ sebagai tempat di luar, yang berisikan deretan buku, akan memberi sugesti belajar yang kuat dari pada di rumah yang tidak ada aktivitas belajar yang diciptakan. 


Ini artinya, menciptakan lingkungan belajar itu perlu dalam rangka memperkuat semangat belajar. Bukan hanya sekadar belajar, melainkan aktivitas belajarnya dilakukan sungguh-sungguh. Apalagi hari ini, belajar memiliki hambatan yang banyak sekali. Sehingga, hambatan belajar pada diri harus terlebih dahulu diurai agar selanjutnya ragam keilmuan apapun yang dipelajari bisa terkuasai dengan baik.


Adapaun terkait people, menciptakan lingkungan belajar bukan berarti kita sendiri yang harus belajar. Melainkan berupaya, agar orang lain (di sekeliling kita) juga diminta belajar, hingga akhirnya terbentuk lingkungan belajar. Sehingga, motivasi belajar yang terbentuk bukan karena memiliki egosentris, melainkan juga ada orang lain yang melakukan hal yang sama dengan apa yang kita lakukan. Yakni, belajar. Dan ketika orang di sekeliling kita melakukan hal itu, rasa untuk bermalas-malasan menjadi hilang.


Selain menciptakan lingkungan belajar, memiliki buku (bahan belajar) juga diperlukan untuk memupuk aktivitas belajar. Maka bagi yang tidak memiliki bahan belajar, pergi ke perpustakaan adalah sarana tepat untuk mempersiapkan belajar belajar di tahun baru. Jika memiliki rizki lebih, maka membeli buku hingga kemudian dibuat pustaka pribadi adalah contoh menarik bagaimana agar aktivitas belajar tetap terbentuk. Jika sudah terbentuk, dimanapun berada,  belajar akan menjadi sesuatu yang didekatkan kepada lingkungan hingga apapun jenis aktivitas kita lakukan.


Hal ini penulis temukan saat di kereta. Saat penulis bersama Istri pulang, dalam rangka memeriahkan pemilihan umum (Pemilu) baru-baru ini, melihat gadis yang sibuk membaca menggugah sekali bagi penulis. Benang merah yang bisa diambil, pasti kalau orang tidak terbiasa membaca, tidak mungkin aktivitas membaca itu dilakukan hingga menjadi karakter. Yang bisa penulis ambil juga adalah, jika membaca sudah menjadi karakter, ia akan bisa dilakukan dimanapun tempat dan keadaannya. Hanya saja, karakter ‘pembaca’ seperti itu tidak banyak dilakukan oleh masyarakat kita hingga generasi milenial sekarang.


Tentang arti belajar sendiri, mengutip Prof Dr Ratna Wilis Dahar MSc (2011:2) dalam bukunya Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran menjelaskan, bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Ini artinya hadirnya proses membaca yang kita lakukan, hingga kemudian menghasilkan perubahan perilaku, itulah yang dinamakan belajar.
Lebih lanjut, Prof Ratna juga menambah (hal. 3), setelah semua bentuk perubahan (yang disebabkan oleh proses fisiologis, mekanis, dan kematangan) dikeluarkan dari kategori perubahan yang mencerminkan belajar, akhirnya perubahan apakah yang tinggal sebagai hasil belajar? Jawabannya ialah belajar dihasilkan dari pengalaman dengan lingkungan, yang di dalamnya terjadi hubungan antar stimulus dan respon. 


Oleh karena itu, tanggung jawab belajar dan menciptakan lingkungan belajar perlu diwujudkan mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Tidak lain agar manusia yang belajar menjadi panorama yang bisa dilihat baik secara fakta hingga hasil kuantitas intelektualitasnya. Dengan demikian, people power yang cerdas akan menjadi kekuatan tersendiri kesuksesan pembangunan manusia di segala bidang. Tentu, di tahun baru 2020 ini, pasca liburan selesai, spirit untuk belajar dengan menciptakan lingkungan belajar bisa kita wujudkan bersama-sama menuju terciptanya masyarakat pembelajar (learning society). Amin ya rabbal ‘alamin.


Tulisan ini sudah tayang di Koran Tribun Jateng, Selasa (31/12/19) berjudul: Spirit Belajar Pasca Liburan 

Oleh: Usman Roin
Penulis adalah Pengelola Abjad  gurunulis.com




Posting Komentar untuk "Spirit Belajar di Tahun Baru"

Berlangganan via Email