Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Opak ‘Sadaria’, Perjuangan Rantau Pencari Nafkah

OPAK-'Sadaria'
ADA-fenomena empati luar biasa kala sedang menemani istri belanja bahan ‘Puding’ disalah satu swalayan ‘Super Indo’ di Majapahit. Empati itu terasa, saat sampai di parkiran dan menata motor agar lurus dan rapi. Peristiwa itu bermula kala penulis lihat di ujung pembatas antara parkir motor dan mobil, duduk beralaskan kardus seorang Bapak yang sedang berjualan opak ‘Sadaria’ bila tidak salah namanya.

Yang membuat penulis penasaran adalah, lalu lalangnya orang keluar dari swalayan ternyata tidak begitu ada yang bersimpati untuk membeli dagangannya. Yang lebih mengherankan lagi, si Bapak tersebut dalam menjajakan opaknya, juga membawa tas rangsel. Perkiraan penulis, jika demikian, si Bapak tersebut bukan asli Semarang. Sebab, membawa tas selain bahan dagangannya.


Sesekali, si Bapak tersebut meminum es teh yang dibeli sembari melihat datang dan perginya orang berbelanja. Penulis yang telah parkir di belakangnya merasa iba, ingin membeli opak yang masih banyak. Keibaan penulis ini tidak punya tendensi apa-apa. Melainkan empati tulus melihat si Bapak yang dengan penuh kesabaran tetap berjualan, walau ia tidak tahu siapa yang akan membelinya. Bahkan, bisa dikatakan dari puluhan orang yang datang dan pergi hanya akan ada satu orang yang membeli bahkan bisa jadi tidak ada. 


Penulis pun sebelum membeli sedikit bertanya. Bukan dalam rangka menawar melainkan menanyakan, dari mulai kapan mangkal jualan? Si Bapak tersebut menjawab, “Mulai dari siang mas,” ucapnya. Penulis pun meneruskan pertanyaan, lalu sampai jam berapa jualannya? Bapak tersebut dengan jujur menjawab sampai swalayan ini tutup. Terlebih, setelah penulis bertanya, satu plastiknya murah meriah, hanya sepuluh ribu rupiah.


Rasa penasaran penulis terkait dengan si Bapak tersebut mulai bertambah. Penulis kemudian bertanya lagi dari mana asal si Bapak. Bapak tersebut ternyata dari Blora, tegasnya. Ia juga menambah, bila ia pulang ke Blora hanya ketika dagangannya sudah habis. Bisa dua hingga tiga hari baru pulang ke tanah asal. Adapun untuk menginap selama merantau, si Bapak tersebut ternyata tidur di ‘emperan’ Masjid yang dekat dengan lampu merah Pedurungan untuk menghemat pengeluaran selama berada di Semarang. 


Dari cerita tersebut penulis ingin meneteskan air mata. Perjuangan si Bapak dalam mencari nafkah luar biasa. Di tengah ekonomi yang orang zaman now katakan industri 4.0, masih banyak orang yang secara manual menjajakan dagangannya, berkompetisi dengan swalayan  yang sudah termanajemen dengan baik. Bahkan, bisa dikata, nyali si Bapak tersebut besar sekali untuk semangat berdagang. Apalagi, opak si Bapak adalah asli buatan sendiri. 


Dari perjuangan si Bapak, syukur perlu kita panjatkan selalu kepada Allah Swt. Kita yang masih diberikan kenikmatan luas biasa. Bila ingin merasakan kebesaran nikmat yang diberikan kepada kita, cobalah untuk menengok orang-orang lain yang kurang dari kita. 


Bahkan, Prof. Komarudin Hidayat, dalam bukunya Agama untuk Peradaban: Membentuk Etos Agama dalam Kehidupan (2019:100) mengatakan, jika seseorang tidak pernah mensyukuri rizki dan kekayaan yang ada, pasti akan lelah dan selalu merasa miskin, karena di sana banyak orang yang lebih kaya. Orang yang selalu menghitung-hitung dan membanding-bandingkan hartanya ibarat berjalan dengan mata dan muka mendongok ke atas. Tidak menikmati perjalanan. Leher sakit dan kaki mudah tersandung. Maka, pesan beliau, pandanglah ke depan dan sedikit ke bawah. Sesekali boleh ke atas agar muncul dorongan semangat berusaha. 

Akhirnya, cobalah beli sekelas opak ‘Sadaria’ sebagaimana yang penulis lakukan. Niscaya akan pembaca temukan sensasi menebar empati kepada yang membutuhkan. Semoga tulisan kecil ini bernilai manfaat. Amin.


Oleh: Usman Roin 
Penulis adalah Pengelola Abjad  gurunulis.com

Posting Komentar untuk "Opak ‘Sadaria’, Perjuangan Rantau Pencari Nafkah"

Berlangganan via Email