Langsung ke konten utama

Si Keset dan Si Rajin

ADA-kisah seseorang, sebutlah Office Boy (OB) di sebuah lembaga pendidikan yang membuat penulis geli. Geli itu karena patnernya tidak bisa diajak kerjasama untuk sama-sama saling menyelesaikan tugas yang telah dibagi, baik dari segi tempat, wilayah mana saja yang akan dikerjakan, sesuai dengan tupoksi.

Sebagai manusia normal, jika punya teman se-profesi lalu dia banyak tidak melakukan tupoksi pekerjaannya, kira-kira apa yang anda rasakan? Jengkel, malas, marah, pasti itu yang sama-sama kita rasakan. 


Perlu diketahui, rasa jengkel dan lain-lainnya itu hadir, karena dari hati yang paling dalam tidak tega bila ada dua orang patner bekerja, namun satunya ‘si keset’ ogah-ogahan dalam menyelesaikan tanggung jawabnya. Sedangkan satunya, ‘si rajin’ sregep hingga terkadang membantu pekerjaan ‘si keset’, namun ‘si keset’ seakan-akan tidak merasa  dibantu.


Lebih parah lagi, bila ‘si keset’ ini adalah orang yang sudah lama lahir menjadi pegawai. Hanya saja, ia salah, gagal paham, dan berpikir cingkang, sebagaimana celana ‘cingkrang’ yang lagi hot dibicarakan, dalam menafsirkan arti lama bekerja. Yang ada dalam benak pikirannya hanyalah, karena sudah lama, maka boleh melakukan seenaknya. 


Pola pikir seperti itu adalah salah besar, menyesatkan, dan akan membawa dampak buruk, tidak hanya untuk relasi sesama teman se-profesi, institusi, hingga perusahaan, melainkan bisa memunculkan problem internal yang akut. Maka penulis menyebut orang seperti itu dengan ‘benalu’ yakni, yang selalu merintangi, menghisap, dan mamatahkan orang lain yang ingin berkembang. 


Bagi penulis, orang yang telah lama bekerja, seharusnya menjadi teladan, dan tidak menginjak-injak yang baru. Jika itu terjadi, niatan ‘si lama’ memiliki perangai buruk terhadap yang baru. Lalu, jika niatan yang lama ‘buruk’ seperti itu, dari mana bisa maju, perusahaan, lembaga pendidikan, atau jenis usaha yang didirikan? Oleh karena itu, ‘si lama’ itu adalah orang yang egois, merasa menang, benar sendiri, dan menganggap orang lain itu hanya ‘pelayan’ yang hanya diperintah sak karepe dewe.


Lebih celaka lagi, bila ‘si lama’ ini mendapatkan perlakukan yang istimewa, bisa jadi ini adalah bencana besar. Bencana secara internal, dan bencana terhadap kemajuan sebuah perusahaan, atau institusi pendidikan. 


Jika itu diterus-teruskan, bisa jadi kemalasan berjamaah rekan se-profesi itu akibat perlakukan yang tidak adil. Hingga kemudian menjadikan budaya yang tidak kondusif, dan mohon maaf ‘cobaan-cobaan’ kecil hingga besar akanlah selalu datang jika ketidakadilan seperti itu masih terjadi. 

Kembali kepada teman OB se-profesi, namun tidak bijak melakukan pekerjaannya, penulis hanya berpikir, apa berkah rizki yang dihasilkan dari bekerja yang setengah-setengah itu? Mungkin saja, bagi dia tidak ada tanda apa-apa dengan pola bekerja seperti yang dilakukan. Tapi coba lihatlah pada keluarganya; istri yang marah-marah, anak-anak yang bandel-bandel, uang yang cepat habis, jika dinalar lebih lanjut, itulah ‘balasan’ kecil dari Tuhan yang diberikan. Dan akan menjadi ‘balasan’ besar, jika ia masih melakukan hal yang sama. 


Bagi penulis, dalam bekerja itu harus memiliki hati, bukan hanya pikiran. Sebab jika orang bekerja hanya dengan pikiran, yang ada, ia hanya akan bekerja bagai robot, tidak mau membantu terhadap pekerjaan teman yang sudah susah payah membantu pekerjaannya.
 

Secara hakikat, pekerjaan menjadi OB itu memang berat. Dia tidak hanya bertanggung jawab terhadap kebersihan, melainkan ada tugas mulia menanamkan kebiasaan ‘bersih’ kepada sesama. Semakin 'tidak bersih' itu terlihat oleh mata, maka karakter ‘tidak bersih’ akan menjadi budaya buruk, tidak hanya di institusi pendidikan, perusahaan dan lainnya. Selama di rumah, perilaku tersebut nihil diterapkan.

Lalu, jika melihat ‘si keset’ ada di lingkungan anda, hal apa yang sudah anda lakukan? Jawabannya bisa anda paparkan pada kolom komentar bawah. Terima kasih. 


Oleh: Usman Roin 
Penulis adalah Pengelola Abjad  gurunulis.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remaja MAJT yang Eksis

 SETELAH-sekian lama menjadi aktivis Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT), kini dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Dulu yang masih singgel, kini sudah dobel, dan tripel (beranak satu, dua, tiga dst). Justru dari Risma -JT lah mereka semua dipertemukan. Dari yang masih lucu, imut, dan amit-amit kata om Eko Irianto yang punya ciri khas ‘Jenggot naganya.’ 

Kini, aktivis Risma-JT yang tergabung dalam Silaturrahim Alumni (Salam) tetap eksis viaon line lewat grup WhatsApp (WA) yang sudah 8 tahun dibentuk. Tepatnya 27 September 2012 silam. Hadirnya grup ini tidak lain berfungsi sebagai media silaturrahim. Selain itu juga menjadi jembatan ide, gagasan, dan masukan untuk kepengurusan Risma-JT, tidak saja hari ini, tapi dari masa ke masa. 

Hal lainnya, juga sebagai sarana up date informasi tambahan. Bilamana terdapat informasi, kegiatan, atau kajian akbar yang ingin diikuti oleh Salam Risma-JT agar keterikatan dengan masjid tetap terjaga.

Kehadiran Salam Risma-JT, …

Agar Produktif Menulis

MENULIS-memang penuh lika-liku emosi. Kadang ia menunjukkan capaikan yang luar biasa, namun pada suatu saat akan surut sebagaimana air laut. Apalagi bila sematan “penulis” sudah ada, tentu produktifitas menulis harus dijaga. Usahanya adalah dengan cara menulis, menulis dan menulis.
Menulis “walau dari dini” orang belajar, namun belum dijadikan sebagai kebiasaan (habit). Apalagi program literasi juga baru digemborkan. Tentu sumber untuk menghasilkan tulisan akan jauh dari panggang. Ibaratnya menulis belum menjadi kebiasaan sebagaimana kebutuhan pokok seperti makan, minum dsb. Alhasil, karya tulis akan minim dihasilkan oleh insan manapun.
Hal itu belum ditambah pengaruhi gaya hidup milenial sekarang ini. Dimana instan menjadi pemandangan keseharian. Alhasil lahirlah generasi “micin” yang hanya pintar merasakan tanpa tahu bagaimana berproses, mengasah potensi, hingga berjuang memerangi kemalasan dirinya sendiri. Boro-boro melahirkan karya, mengendalikan diri saja untuk berbuat positif tak…

Bahagialah yang Punya Laptop Jadul

LAPTOP-jadulku selalu menemaniku. Ia seakan seperti ‘istri kedua’. Sejak pertama kali saya beli 28 Juni 2011. Dan kali ini (tahun 2019)  sudah genap delapan tahun. Masya Allah, sungguh awet sekali di kau laptop.

Sedikit informasi, saking jadulnya laptop yang saya miliki, program Windows nya saja masih menggunakan XP atau ‘Experience,’ yang mengutip wikipedia.org merupakan penerus Windows 2000 Professional dan Windows Me, dan merupakan versi sistem operasi Windows pertama yang berorientasi konsumen yang dibangun di atas kernel dan arsitektur Windows NT . Tentu kalau sekarang sudah tidak zaman dan sulit ditemukan service komputer yang mau meng install aplikasi tersebut. 

Walau jadul, laptop yang saya punyai selalu saya rawat. Contoh kecil, bila berdebu selalu saya bersihkan dengan kanebo yang agak lembab dengan air untuk menghilangkan butiran debunya. Lalu, terhitung sudah delapan tahun sejak pembelian, laptop ini baru sekali ganti batrai. Hemat saya, walau jadul tapi tenaga masih prima. …