Langsung ke konten utama

Maksud Menulis Sesungguhnya

ADA-kejadian unik saat program literasi yang penulis dan beberapa teman guru gagas dan sekarang telah berjalan. Keunikan itu terjadi karena dalam satu kali tahun pelajaran 2019/2020 ternyata hasil tulisan guru masih banyak yang Copy Paste (Copas) dari sumber internet.

Hal itu menjadi jelas adanya setelah penulis mendapat kiriman tulisan dari guru yang setiap Sabtu ditayangkan di website sekolah. Ciri yang penulis temukan, sifat tulisannya kaku, baik secara sistematika maupun diksinya. Seakan-akan bila dicermati hal itu bukan murni gaya tulisannya sendiri. 


Dan yang paling mencolok, menulis artikelnya masih disamakan dengan pembuatan makalah, khutbah Jumat, yang deskripsinya khas baik secara kebahasaan dan tipologinya. Padahal itu bukan yang dimaksud sama sekali.

Melihat fakta di atas, pertanyaan kecil memang biasa penulis utarakan pada diri sendiri. Masa selama satu tahun pelajaran, menulis artikel dengan panjang satu setengah halaman A4 saja tidak kelar? Harus copas! Padahal, melihat fakta yang ada, secara verbal bila beliau-beliau berbicara itu bisa berjam-jam. Bila ditelaah lebih lanjut,
apa yang disampaikan banyak yang inspiratif. Pertanyaannya, lalu kenapa bahasa verbal sebagai hasil dari pemikiran itu tidak dialihkan ke bahasa tulis?

Inilah yang masih menjadi pikiran salah orang yang ingin menulis. Tahunya mereka berperasangka bahwa menulis yang baik itu bukan mencairkan apa yang ada dalam pikiran untuk dituangkan menjadi tulisan. Yang ‘keren’ menurut mereka, menulis itu banyak mengutip pendapat orang lain dan mengesampingkan ide pikiran orang lain. Jika demikian adanya, yang ada menulis itu akan selalu menjadi momok, berat, dan selamanya menulis itu tidak akan pernah menjadi kebiasaan yang mengasyikkan.


Padahal menurut penulis Best Seller, Robi Alfarizan Saputra mengatakan yang terpenting menulislah apa adanya, jangan berbelit-belit. “Sesuatu yang ditulis apa adanya, tulisan yang lahir dari nurani, biasanya akan lebih mengena ke hati pembaca,” ungkapnya dalam group #17 NulisBarengRobi. Apalagi bila menulis diikuti banyak alasan, akan semakin lama tulisan tersebut tidak terselesaikan. 


Meskipun begitu semangat menulis dari ‘guru’ di atas patut dihargai. Walau ada kesan menulis itu seakan-akan jauh, terpisah dengan apa yang ada dipikiran. Menulis masih menjadi sesuatu yang jauh dari dunia pikiran. Menulis adalah se-ideal dunia buku-buku referensi. Padahal bukan itu. Karena menulis adalah mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran untuk kemudian hadirnya tumpukan buku, berita cetak atau online sebagai pendukung untuk memperkuat apa yang ditulis. 

Semoga uraian ini bisa turut memperjelas maksud menulis kita.

Oleh: Usman Roin
Penulis adalah Pengelola Abjad  gurunulis.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remaja MAJT yang Eksis

 SETELAH-sekian lama menjadi aktivis Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT), kini dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Dulu yang masih singgel, kini sudah dobel, dan tripel (beranak satu, dua, tiga dst). Justru dari Risma -JT lah mereka semua dipertemukan. Dari yang masih lucu, imut, dan amit-amit kata om Eko Irianto yang punya ciri khas ‘Jenggot naganya.’ 

Kini, aktivis Risma-JT yang tergabung dalam Silaturrahim Alumni (Salam) tetap eksis viaon line lewat grup WhatsApp (WA) yang sudah 8 tahun dibentuk. Tepatnya 27 September 2012 silam. Hadirnya grup ini tidak lain berfungsi sebagai media silaturrahim. Selain itu juga menjadi jembatan ide, gagasan, dan masukan untuk kepengurusan Risma-JT, tidak saja hari ini, tapi dari masa ke masa. 

Hal lainnya, juga sebagai sarana up date informasi tambahan. Bilamana terdapat informasi, kegiatan, atau kajian akbar yang ingin diikuti oleh Salam Risma-JT agar keterikatan dengan masjid tetap terjaga.

Kehadiran Salam Risma-JT, …

Agar Produktif Menulis

MENULIS-memang penuh lika-liku emosi. Kadang ia menunjukkan capaikan yang luar biasa, namun pada suatu saat akan surut sebagaimana air laut. Apalagi bila sematan “penulis” sudah ada, tentu produktifitas menulis harus dijaga. Usahanya adalah dengan cara menulis, menulis dan menulis.
Menulis “walau dari dini” orang belajar, namun belum dijadikan sebagai kebiasaan (habit). Apalagi program literasi juga baru digemborkan. Tentu sumber untuk menghasilkan tulisan akan jauh dari panggang. Ibaratnya menulis belum menjadi kebiasaan sebagaimana kebutuhan pokok seperti makan, minum dsb. Alhasil, karya tulis akan minim dihasilkan oleh insan manapun.
Hal itu belum ditambah pengaruhi gaya hidup milenial sekarang ini. Dimana instan menjadi pemandangan keseharian. Alhasil lahirlah generasi “micin” yang hanya pintar merasakan tanpa tahu bagaimana berproses, mengasah potensi, hingga berjuang memerangi kemalasan dirinya sendiri. Boro-boro melahirkan karya, mengendalikan diri saja untuk berbuat positif tak…

Bahagialah yang Punya Laptop Jadul

LAPTOP-jadulku selalu menemaniku. Ia seakan seperti ‘istri kedua’. Sejak pertama kali saya beli 28 Juni 2011. Dan kali ini (tahun 2019)  sudah genap delapan tahun. Masya Allah, sungguh awet sekali di kau laptop.

Sedikit informasi, saking jadulnya laptop yang saya miliki, program Windows nya saja masih menggunakan XP atau ‘Experience,’ yang mengutip wikipedia.org merupakan penerus Windows 2000 Professional dan Windows Me, dan merupakan versi sistem operasi Windows pertama yang berorientasi konsumen yang dibangun di atas kernel dan arsitektur Windows NT . Tentu kalau sekarang sudah tidak zaman dan sulit ditemukan service komputer yang mau meng install aplikasi tersebut. 

Walau jadul, laptop yang saya punyai selalu saya rawat. Contoh kecil, bila berdebu selalu saya bersihkan dengan kanebo yang agak lembab dengan air untuk menghilangkan butiran debunya. Lalu, terhitung sudah delapan tahun sejak pembelian, laptop ini baru sekali ganti batrai. Hemat saya, walau jadul tapi tenaga masih prima. …