Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

'Solusi' Peduli Lingkungan

PAGI-ini menjadi pagi perdana kegiatan kerja bakti pungut sampah di sekolah. Kegiatan ini lahir Jumat (9/8), saat penulis dengan penanggung jawab Pendidikan Karakter sekolah mendiskusikan penanaman karakter. Satu diantaranya adalah membicarakan langkah sederhana membangun empati sosial terhadap lingkungan.

Silahkan baca beritanya: Satu Siswa Satu Sampah

Akhir-akhir ini, untuk membangun empatik lingkungan memang agak susah. Contoh sederhana, melihat sampah saja banyak yang membiarkan, bukan milikku, atau berpura-pura tidak tahu. Sikap tersebut kalau ‘membudaya’ bisa membahayakan pada mentalitas bangsa. Alhasil, bangsa ini hanya akan pintar membuang, namuan tidak pandai mengelola.


Seiring dengan hal di atas, tentu sekolah adalah hal bijak untuk menanamkan kepedulian lingkungan. Peran sistematis bisa diprogramkan untuk membangun siswa cinta lingkungan. Salah satunya dengan program gerakan pungut sampah (GPS) bertema ‘Satu siswa satu sampah’ sebagaimana dilakukan sekolah penulis.


Kalau sebelum-sebelumnya, kerja bakti massal banyak membawa peralatan, kali ini menjadi unik karena memungut sampah memakai tangan. Selain ringan, juga tidak membutuhkan waktu lama karena semua siswa memegang sampah. Juga tidak terjadi diskriminatif antara siswa yang sregep dengan yang keset. Karena semua merasakan bagaimana memegang sampah entah plastik, daun, kertas, dan lainnya.


Keberadaan memungut sampah secara serentak juga punya makna filosofis. Yakni, untuk menanamkan 18 karakter, salah satunya peduli lingkungan. Membangun budaya cinta lingkungan harus dilakukan secara intensif dan sistematis. Hanya saja, dalam membuat program janganlah yang berat-berat. Melainkan ringan-ringan saja namun hasilnya luar biasa. Yaitu, kebersihan sekolah nyata wujudnya.


Bahkan, rencana program tersebut akan dilakukan mingguan, penulis sangat sepakat. Tujuannya, selain mengontrol kebersihan berkala, juga menanamkan kebiasaan kepada anak-anak perkotaan yang cenderung manja. Apalagi dengan hadirnya media sosial (Medsos), jika tidak dibarengi dengan mendidik karakter secara masif, akan melahirkan problem sosial baru. Wujudnya, yang muda yang foya-foya, tidak empatik alias individualis. 


Pertanyaannya, lalu tanggung jawab siapa problem sosial bila sudah begini?


Jika tidak ingin pertanyaan tersebut hadir, maka mempersiapkan generasi empatik harus dilakukankan sejak dini. Melalui pembelajaran dan aplikasi, lalu dibarengi dalam wujud nyata melakukan upaya menjaga kebersihan secara kolektif adalah sarana memperkuat persepsi. Artinya, empatik itu perlu ditumbuhkan. Sehingga keberadaan alam raya ini senantiasa terjaga karena kita menjadi penjaga dan bukan menjadi bagian dari perusak.


Semoga gagasan kecil, ringan di atas bisa banyak diterapkan pada semua lembaga pendidikan. Tujuannya, agar karakter peduli lingkungan benar-benar bukan sekedar teori, tetapi sudah menjadi perilaku.


Oleh: Usman Roin
Penulis adalah Guru Ekskul Jurnalistik SMP Islam Terpadu PAPB Semarang, Editor Buku “Yang Melangit dari Kata: Kumpulan Kata Mutiara SMP IT PAPB Semarang,” Editor Buku “42 Renungan Inspiratif Kehidupan,” Editor serta Penulis Buku “Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis,” Penulis Buku “Langkah Itu Kehidupan: 5 Langkah Hidup Bahagia,” Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah, Koord. Devisi Komunikasi & Hubungan Media Majelis Alumni IPNU Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.

Posting Komentar untuk "'Solusi' Peduli Lingkungan"

Berlangganan via Email