Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Literasi yang Inovatif

MEMBACA-salah satu koran ‘ternama di Jawa Tengah’ baru-baru ini, ada berita bagus. Di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) Kabupaten Semarang, terdapat deklarasi gerakan literasi yang tidak hanya dominan pada membaca, tetapi juga disambung dengan menulis. Bahkan menulisnya diwujudkan dalam buku berjudul ‘Buku Literasi’. Yakni, siswa menuliskan hasil bacaan baik dari koran, majalah, buku, lengkap dengan referensi dengan menyertakan penulis, judul buku/bacaan, halaman, dan jumlah halaman. Itulah kira-kira yang bisa penulis gambarkan.

Inovasi literasi sebagaimana hal di atas, penulis kira sangat perlu. Akan menjadi mudah bagi penulis karena sasarannya adalah anak SMA yang sebentar lagi melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi (PT). Lalu pertanyaan yang mengganjal penulis, apakah bisa untuk tahapan anak Sekolah Menengah Pertama (SMP)?


Literasi sebagaimana di atas sebenarnya juga cocok untuk anak SMP. Usia SMP pada kisaran 13-15 adalah masa produktif untuk menumbuhkan budaya baca dan menulis sejak dini. Hanya saja, jika ingin dibuat sebagaimana literasi di atas, tentu harus ada komponen yang disederhanakan proses penulisannya. Jangan sampai program literasi yang bagus, tetapi terdapat kesulitan. Dari siswa sendiri terdapat kesulitan memenuhi tuntutan yang diberlakukan, hingga di tengah jalan terdapat hambatan berupa kebingungan saat pengisian.


Idealnya, jika ingin berhasil, tentu kebijakan tersebut perlu diuji coba terlebih dahulu. Bisa langsung secara masif, dengan ketentuan materinya sudah diambil dari hasil riset sederhana. Atau bisa juga dengan uji coba 'Sampeling' sebagian siswa terlebih dahulu. 


Tambahan ide penulis, bagaimana bila kebanyakan dosen di PT itu sering melakukan penelitian inovatif pembelajaran di tingkat SMA/MA/SMK. Secara ekonomis, akan menjadi pintu masuk bahwa penelitian tersebut untuk memperkenalkan keberadaan PT. Sehingga jauh-jauh hari, nama PT tersebut sudah terngiang untuk menjadi rujukan memilih belajar di PT. 


Terlebih literasi idealnya memang harus direkap. Entah itu bagi diri sendiri terlebih dipersiapkan oleh institusi lembaga pendidikan. Rekapan baik dalam bentuk buku atau jurnal adalah satu bentuk keistikamahan, bahwa membaca dan menulis harus menjadi menu utama sebagaimana halnya makan. Ia harus berjalan seimbang. Artinya, membaca itu proteinnya menulis, dan menulis adalah hasil dari eksplorasi membaca. Jika ingin literasi berjalan, maka menulis prihal rencana apa yang dibaca adalah hal yang bijak dilakukan. 


Pasca pengamatan
Selepas mengamati pemberitaan tersebut, ada yang menarik saat penulis bertemu dengan guru Bahasa Indonesia (BI). Sepertinya, baru kali ini ada guru pasca pelatihan melaporkan hasilnya secara tertulis. Padahal kebanyakan, hanya berupa laporan lisan kepada kepala sekolah. Justru dengan menulis hasil laporan itulah hasil aplikasi literasi otentik. Karena ada resum yang tidak hanya berguna untuk guru an sich, melainkan kemanfaatannya juga untuk membangun lingkungan sebagaimana yang diinginkan saat pelatihan. 


Contoh literasi laporan sederhana tersebut adalah bukti, bahwa  guru yang ditugaskan tersebut serius mengikuti pelatihan atau tidak. Guru tersebut juga sekaligus agen perubah, bahwa bingkai menuliskan hasil sebuah kegiatan itu penting. Bagaimana guru mampu membentuk siswa melalui hal yang serupa, jika ia tidak melakukan hal yang sama. Terlebih, jika kemudian kegiatan pelatihan itu dimaknai pelarian ‘Tugas mengajar’ maka sungguh telah ada gagal paham secara nyata. Maka sebagai rasa hormat, penulis tidak lupa menggandakan agar bisa turut belajar. 


Apalagi laporan hasil diklat atau pelatihan, yang kemudian di print out tersebut adalah solusi cerdas bahwa ada item inovasi yang bisa diterapkan. Juga sesuai apa yang disampaikan Nabi Muhammad Saw, Qayyidul ‘ilma bil kitabah yang artinya: “Ikatlah ilmu itu dengan menulis.” Lihat dalam kitab Muhammad Nasiruddin al Albani Fi Silsilat al Ahadis ash Shahihah, hadits yang ke 2026. 


Sebagai penutup, mungkin bila guru egois, maka dia tidak perlu membuat laporan. Melainkan digunakan untuk dirinya sendiri. Bila demikian, itu artinya ilmu yang diperoleh tidak bermanfaat. Padahal prasyarat ilmu yang bermanfaat adalah bila diamalkan. Semoga catatan atau resum tersebut menjadi cita-cita bijak bahwa ilmu yang diperoleh sudah teramalkan karena diterapkan dalam lembaga yang dinaungi.


Oleh: Usman Roin
Penulis adalah Guru Ekskul Jurnalistik SMP Islam Terpadu PAPB Semarang, Editor Buku “Yang Melangit dari Kata: Kumpulan Kata Mutiara SMP IT PAPB Semarang,” Editor Buku “42 Renungan Inspiratif Kehidupan,” Editor serta Penulis Buku “Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis,” Penulis Buku “Langkah Itu Kehidupan: 5 Langkah Hidup Bahagia,” Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah, Koord. Devisi Komunikasi & Hubungan Media Majelis Alumni IPNU Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.

Posting Komentar untuk "Literasi yang Inovatif"

Berlangganan via Email