Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

‘Tidak’ Menulis, No!

OooH-virus menulis, pasca penulis didaulat menjadi narasumber ‘Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media Massa,’ kerjasama Jawa Pos Radar Semarang dengan MGMP Bahasa Indonesia Kota Semarang, yang bertempat di Aula SMP Negeri 5, Sabtu (27/7/19) sungguh memesona.

Pertama, penulis dipertemukan oleh penggemar blog kecil gurunulis.com. Saat penulis sedang menyampaikan bla..; bla..; bla..; ternyata ada yang merespon, dengan mengatakan bila ibu guru tersebut adalah penggemar blog penulis. ‘Masya Allah, alhamdulillah bila blog penulis sudah ada penggemar walau secara kopdar baru ketemu penulisnya,’ kata hatiku.


Di akhir sesi foto, penggemar blog penulis juga menambah kalimat menarik, “Ternyata masih mudah ya .. yang memiliki blog ini,” ungkapnya. Penulis pun jadi tersipu malu dan makin bersemangat berbagi ilmu menulis lewat blog.


Sebagai penulis blog, melalui untaian kata yang berserakan ini, penulis sangat berterima kasih kepada penggemar, yang mohon maaf lupa untuk penulis introgasi nama lengkap dan tetebengek-nya. Paling tidak, blog kecil bernama ‘Guru Nulis: Media Praktik Menulis’ ini menjadi lantaran (wasilah) berbagai pengalaman menulis praktis walau lewat dunia Luna Maya. Wadauw maaf ya, maksud penulis dunia maya, atau yang kekinian lazim disebut warganet. Sebab dunia maya itu tanpa batas. Prinsip penulis cuma sederhana. Mari gunakan media apapun untuk menulis, agar semakin banyak konten pisitif, menjadi sarana kita belajar membiasakan menulis, dan produktif melahirkan tulisan.


Siapapun kita, pasti bisa menulis sebagaimana yang penulis lakukan. Dari hal sederhana, dekat, remeh, kecil, tapi kalau diulas bisa membuka mata kita. Bahwa, menulis itu tidak perlu jauh dari kita. Menulis akan sulit, sukar, dan membikin bete kalau jauh. Yang dekat saja kalau diopeni, diulas dengan mendalam, akan menghasilkan ‘Sesuatu,’ kata Princes Syahrini. 


Kedua, penulis termotivasi dari sosok ibu Panca DP nama lengkapnya. Ibu paruh baya ini punya naluri luar biasa memberi semangat orang lain untuk maju. Karena tidak secara akademik saja dia memberi contoh, derajat akademik beliau sudah Doktor (S3). Ini membuktikan bahwa beliau sangat layak dijadikan contoh.


Tidak tanggung-tanggung dalam memotivasi peserta, kepada penulis (selaku Narsum) juga sangat antusias agar tetap bersemangat, tidak hanya merampungkan S2, “Lanjutkan S3 mas, cari beasiswa yang banyak berseliweran, saya doakan jalan sukses didepan mata,” doanya. 


Alhamdulillah, penulis sempat merinding. Dan tidak lupa mohon bimbingannya agar sebagai sesama penulis bisa banyak memberi manfaat kepada lainnya. Justru pengalaman yang menginspirasi, dari beliau, perlu penulis lakukan. Pengalaman praktis itu sudah teruji. Dan buktinya, sudah berwujud sebagaimana yang dimiliki beliau ibu Panca DP. Jadi, menulis resep keberhasilan orang yang sukses, adalah cara agar kita juga meniru kesuksesan yang sudah teruji. Maka penulis sarankan, bila bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi, korek terus bagaimana ia berhasil untuk bisa ditiru menelurkan kesuksesan serupa kepada kita.


Yang ketiga, ada tulisan menarik, sesobek kertas yang sengaja penulis minta kepada peserta pelatihan untuk menjawab pertanyaan terakhir slide. Pertanyaannya sederhana, 'Apa kesan dan pesan pelatihan ini?'


Dari 82 kertas yang penulis bawa pulang, ada satu yang terkesan dengan tulisan jujur beliau. Ia menyampaikan, Materi terakhir menarik sekali.’ Haduh, penulis jadi tambah terenyuh, bersemangat, bahwa apa yang penulis sampaikan bisa masuk dalam sanubari peserta. Pemberi kesan yang berinisial ‘LRD,’ yang tidak disebutkan namanya, sungguh membahagiakan penulis. Jika ada satu yang terkesan dengan bukti otentik tulisan tangan beliau, semoga peserta lain juga begitu kesannya. Ha..ha..ha, cukup tiga tawa ya. 


Sesobek kertas yang dikumpulkan kepada penulis, tidak akan pernah penulis lupakan. Apa yang ditulis semua peserta, sengaja penulis bawa pulang, untuk penulis rekap sebagai responden penelitian kecil, dari tiga instrument pertanyaan mendasar yang sudah penulis persiapan. 


Wah, ternyata meneliti itu gampang banget. Menulis dengan data itu sederhana banget ya! Apalagi tulisan berdata itu kredibel dan tidak hoax. Terlebih, penulis kulina meminta masukan peserta terhadap materi yang disampaikan. Tidak ada tujuan lain, untuk perbaikan –penulis– sebagai pemateri pada kesempatan-kesempatan yang akan datang. 

Akhirnya, salam ‘Love you pull,’ sebagaimana kata Alm Mbah Surip. ‘Jangan tidur lagi, jangan tidur lagi, bangunlah dari zona nyaman,’ kata bijak anggota TIM PAK Kota Semarang, Supriyono, yang disampaikan kepada penulis. Jadi, menulis yes, menulis yes, ‘tidak’ menulis, no!

Oleh: Usman Roin
Penulis adalah Guru Ekskul Jurnalistik SMP Islam Terpadu PAPB Semarang, Editor Buku “Yang Melangit dari Kata: Kumpulan Kata Mutiara SMP IT PAPB Semarang,” Editor Buku “42 Renungan Inspiratif Kehidupan,” Editor serta Penulis Buku “Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis,” Penulis Buku “Langkah Itu Kehidupan: 5 Langkah Hidup Bahagia,” Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah, Koord. Devisi Komunikasi & Hubungan Media Majelis Alumni IPNU Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur

Posting Komentar untuk "‘Tidak’ Menulis, No!"

Berlangganan via Email