Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Roda Kelompok yang Macet

BEKERJA-sama dalam sebuah kelompok di instansi pendidikan atau lainnya, itu kadang menguntungkan, namun juga menjemukan. Itulah yang penulis rasakan. 

Menguntungkannya, kalau kita bagian dari tim kelompok, maka kehadiran kita dan anggota lainnya, terkait pekerjaan seberat apapun, bila bersatu-padu akan cepat selesai. Menjadi menjemukan, karena kehadiran “patner” tidak bisa diajak kerjasama, menghambat, hingga terjadi misunderstanding saat gong-nya kegiatan.

Padahal, tugas patner itu membantu hingga terwujudnya tujuan yang lebih makro lembaga pendidikan. Tetapi apabila yang dibantu tidak membutuhkan bantuan kita, ya apa diguna kehadiran kita? 


Situasi seperti inilah yang kadang tidak saling dimengerti oleh orang-orang berkelompok. Sehingga muncul kemalasan. Bahkan sekilas melihat “wajahnya” saja, rasanya tidak ingin bersua dahuluan. Lebih lanjut, hal ini melahirkan “prasangka” apakah kehadiran –kita– hanya sebatas formalitas struktural? 


Jika seperti itu, yang diperlukan adalah kesadaran semua pihak dalam kelompok. Bahwa patner itu adalah orang yang ikut nyengkuyung. Butuh kita sengkuyung juga ide, tenaga, dan pikirannya. Hanya saja, jabatan yang kita emban dan diamanatkan entah itu sebagai Wakil Kepsek, Pj. ini dan itu, seakan menjadi sekat yang mengharuskan orang lain itu tunduk pada egonya. 


Padahal dalam kelompok, bila keberhasilan suatu apapun itu ingin dilahirkan maka saling menghormati, mendukung, menjadi ujung tombak plus tombok, dan penjernih masalah, adalah bagian pokok dari orang yang punya printilan jabatan prestise di lembaga pendidikan. 


Hanya saja, yang terjadi dilapangan tidak seindah yang kita inginkan. Tidak seromantis puisi yang dibacakan. Tidak semerdu alunan musik yang dimainkan. Tidak sesejuk angin sepoi-sepoi dan tidak secantik bunga desa. Itu karena, selain karena watak dasariah seseorang yang ingin dilihat “oleh atasan,” juga terkait dengan kekurang pengalaman dalam sebuah organisasi. 


Hal yang lain, mungkin karena merasa sudah lama alias dahulu. Padahal bila dianalogikan secara positif, justru kalau sudah lama, maka sikap “keibuannya” itu akan timbul. Menyayangi, mengayomi dan memotivasi sehingga ia tumbuh dan berkembang sebagaimana keberadaannya. Tetapi bila keibuan itu tidak tumbuh, maka yang lama hanya akan mengkambing hitamkan yang baru, tidak memberi ruang kepada yang muda, maunya hanya dia, dia dan dia. 


Jika seperti ini, hanya satu yang bisa menghentikan, Yang di Atas! Atau justru orang tersebut masih dikasih secercah harapan untuk merubah sifatnya? Mari kita jawab, hanya waktu yang bisa membuktikannya.


Oleh: Usman Roin
Penulis adalah Editor Buku “Yang Melangit dari Kata: Kumpulan Kata Mutiara SMP IT PAPB Semarang,” Editor Buku “42 Renungan Ispiratif Kehidupan,” Editor serta Penulis Buku “Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis,” dan Penulis Buku “Langkah Itu Kehidupan: 5 Langkah Hidup Bahagia.”

Posting Komentar untuk "Roda Kelompok yang Macet"

Berlangganan via Email