Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Lamunan Matematis Menulis

ADA-lamunan menarik saat penulis memasuki  jam istirahat kantor. Lamunan itu menggambarkan, bagaimana jika kedepan karya tulis penulis meningkat? 

Walau baru lamunan, namun bagi penulis itu merupakan cita-cita yang perlu diwujudkan. Menambah karya tulis itu artinya kita menambah kuantitasnya. Kuantitas dari yang setahun hanya dua karya tulis, meningkat jumlahnya menjadi tiga, empat, sepuluh dan seterusnya. Itu artinya ada hubungan mesra antara menulis dan kerangka berpikir matematis.

Menulis dan matematis kalau boleh penulis gambarkan, bila dalam sebulan kita punya target tiga hari sekali menulis, lalu kemudian diposting di medsos atau website pribadi, itu artinya dalam sebulan kita sudah mempunyai sepuluh karya tulis. Bila kemudian dikalikan dalam setahun, 120 karya tulis sudah kita hasilkan. 

Baca juga: 'Tidak' Menulis No

Bicara hitungan matematis memang menggiurkan sekali. Terlebih, bila kemudian dihubungkan dengan dunia menulis. Agar hal tersebut berwujud nyata, target menulis…

‘Tidak’ Menulis, No!

OooH-virus menulis, pasca penulis didaulat menjadi narasumber ‘Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media Massa,’ kerjasama Jawa Pos Radar Semarang dengan MGMP Bahasa Indonesia Kota Semarang, yang bertempat di Aula SMP Negeri 5, Sabtu (27/7/19) sungguh memesona.

Pertama, penulis dipertemukan oleh penggemar blog kecil gurunulis.com. Saat penulis sedang menyampaikan bla..; bla..; bla..; ternyata ada yang merespon, dengan mengatakan bila ibu guru tersebut adalah penggemar blog penulis. ‘Masya Allah, alhamdulillah bila blog penulis sudah ada penggemar walau secara kopdar baru ketemu penulisnya,’ kata hatiku.

Di akhir sesi foto, penggemar blog penulis juga menambah kalimat menarik, “Ternyata masih mudah ya .. yang memiliki blog ini,” ungkapnya. Penulis pun jadi tersipu malu dan makin bersemangat berbagi ilmu menulis lewat blog.

Sebagai penulis blog, melalui untaian kata yang berserakan ini, penulis sangat berterima kasih kepada penggemar, yang mohon maaf lupa untuk penulis introgasi nama le…

Seni Menulis

MENJADI-penulis kok tidak mikirin ‘what next’ karya tulis, itu perlu dipertanyakan. Menjadi penulis itu ‘gelar’ yang berat. Kalau hanya menulis karena tugas, tanggung jawab, ya hanya itu yang ia tulis. Tapi menjadi penulis yang betul-betul sebagai penulis, itu perlu rajin menangkap ide yang ber-seliweran dan datangnya tak diundang. 

Namun naas, kadang ide menulis itu muncul saat tidak tepat. Hal itu, sebagaimana yang penulis alami. Saat berkendara pulang, tiba-tiba ide muncul. Jadilah penulis kelimpungan mau mencatat pakai apa? Padahal jalan lagi padat merayap. Ini artinya rizki dari Allah Swt berupa ‘ide menulis’ tidak boleh ditolak. ‘Min haitsu laa yahtasib’ atau tidak di-nyana-nyana. Kalau sudah begitu, maka mengandalkan daya ingat hingga sampai di rumah adalah solusinya.

Menjadi penulis juga kudu sering mancing-mancing ide tulisan yang tidak kunjung datang. Jika demikian, mondar-mandir, tertawa lepas dengan teman sambil nyruput kopi, bil hisab, atau meneropong langit secara telanjan…

Punya Kemampuan Tambahan?

SETIAP-insan pasti punya tugas tambahan di luar tugas pokoknya. Istilah tugas tambahan dalam terminologi Syariat adalah sunah-nya. Jadi itu di luar dari tupoksi yang menjadi kewenangan tanggung jawab pekerjaan.

Penulis juga seperti itu, punya tugas tambahan yang banyak. Mulai dari menjadi admin tiga website resmi. Pertama, milik organisasi profesi keguruan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jateng. Kedua, punya SMP Islam Terpadu PAPB Semarang. Ketiga, aplikasi Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Semarang, dan masih ketambahan website kecil pribadi saya yang bernama gurunulis.com.

Tiga website plus satu tambahan milik penulis sendiri sudah mengajarkan banyak hal. Semua kontennya penulis yang membuat. Itu manakala ada foto kegiatan yang dikirimkan ke gadget milik penulis.

Menjadi peng-upload atau yang memposting baik berita, gambar atau video merupakan kemampuan yang bisa lahir tidak dari jenjang pendidikan formal. Justru penulis tidak menemukan hal itu. Terlebih background keilmuan p…

Bahagialah yang Punya Laptop Jadul

LAPTOP-jadulku selalu menemaniku. Ia seakan seperti ‘istri kedua’. Sejak pertama kali saya beli 28 Juni 2011. Dan kali ini (tahun 2019)  sudah genap delapan tahun. Masya Allah, sungguh awet sekali di kau laptop.

Sedikit informasi, saking jadulnya laptop yang saya miliki, program Windows nya saja masih menggunakan XP atau ‘Experience,’ yang mengutip wikipedia.org merupakan penerus Windows 2000 Professional dan Windows Me, dan merupakan versi sistem operasi Windows pertama yang berorientasi konsumen yang dibangun di atas kernel dan arsitektur Windows NT . Tentu kalau sekarang sudah tidak zaman dan sulit ditemukan service komputer yang mau meng install aplikasi tersebut. 

Walau jadul, laptop yang saya punyai selalu saya rawat. Contoh kecil, bila berdebu selalu saya bersihkan dengan kanebo yang agak lembab dengan air untuk menghilangkan butiran debunya. Lalu, terhitung sudah delapan tahun sejak pembelian, laptop ini baru sekali ganti batrai. Hemat saya, walau jadul tapi tenaga masih prima. …

Eksplorasi Kangen Menulis

KANGEN-mengirimkan karya ke koran itulah perasaan saya hari ini. Perasaan ini sudah saya tahan-tahan namun masih saja tumpah. Ia mendorongku untuk menuliskan gagasan tentang pendidikan. Hanya saja, tema yang cocok lagi saya angan-angan tapi tidak muncul jua.

Setelah sampai kantor, saya baru ingat bila saya masih punya artikel yang belum tayang. Temanya juga masih aktual sekali. Ide awal tulisan tersebut telah saya kirimkan untuk tabloid salah satu teman se organisasi di kota kelahiran, Kabupaten Bojonegoro. Karena masih banyak materi yang belum lengkap, jadinya tabloid tersebut belum naik cetak. 

Untuk memperkuat keyakinan terhadap tulisan yang saya buat, saya meminta guru Bahasa Indonesia (BI) di tempat kerja untuk membaca. Kebetulan guru tersebut lagi free. Sekali berbincang-bincang, mewujudkan tulisan secara kualitas adalah tangga harapan yang saya ingin selanjutnya.

Memang untuk mempersilahkan hasil karya dibaca orang lain (guru BI) perlu keberanian. Sebab, guru BI yang lekat dengan …

Membumikan Diskusi Sehat ala Guru

BELUM-lama ini, penulis mendapatkan pengalaman luar biasa. Sebelumnya ada rasa pesimistis untuk mengampanyekan literasi dari someone. Bahwa sikap tersebut akan berpengaruh ke depannya. Misalnya ketika kita berusaha mengajak seseorang, sedangkan ajakan belum dilontarkan kita sudah pesimis dahulu. Ini artinya ada semacam komunikasi yang terputus antar teman. Padahal bisa jadi ketika kita ‘coba’ menyampaikannya lebih dahulu responnya malah bisa berbalik arah, dari apriori menjadi responsif.

Meski begitu, rasa optimis coba tetap penulis lakukan. Menjaring dan melakukan pendekatan vis a vis itu pada intinya. Caranya dengan mendekati rekan guru yang punya semangat tinggi untuk berjuang. Punya semangat untuk membesarkan literasi di sekolah.

Satu sisi gerakan literasi punya fungsi membesarkan institusi dan sisi yang lain mem-branding SDM-nya agar memiliki potensi yang unggul. Terlebih, tidak selamanya kita menjadi guru di lembaga formal. Justru dengan kesempatan saat berprofesi sebagai guru, ak…

Roda Kelompok yang Macet

BEKERJA-sama dalam sebuah kelompok di instansi pendidikan atau lainnya, itu kadang menguntungkan, namun juga menjemukan. Itulah yang penulis rasakan. 

Menguntungkannya, kalau kita bagian dari tim kelompok, maka kehadiran kita dan anggota lainnya, terkait pekerjaan seberat apapun, bila bersatu-padu akan cepat selesai. Menjadi menjemukan, karena kehadiran “patner” tidak bisa diajak kerjasama, menghambat, hingga terjadi misunderstanding saat gong-nya kegiatan.

Padahal, tugas patner itu membantu hingga terwujudnya tujuan yang lebih makro lembaga pendidikan. Tetapi apabila yang dibantu tidak membutuhkan bantuan kita, ya apa diguna kehadiran kita? 

Situasi seperti inilah yang kadang tidak saling dimengerti oleh orang-orang berkelompok. Sehingga muncul kemalasan. Bahkan sekilas melihat “wajahnya” saja, rasanya tidak ingin bersua dahuluan. Lebih lanjut, hal ini melahirkan “prasangka” apakah kehadiran –kita– hanya sebatas formalitas struktural? 

Jika seperti itu, yang diperlukan adalah kesadaran s…