Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Jadi Orang Tua Milenial

SUNGGUH-terbelalak mata dan hati penulis, saat melihat berita tentang dampak adiksi (kecanduan) game online. Pikir penulis, yang punya kecanduang hanya narkoba saja, ternyata game online juga berdampak candu bagi pemakainya. Hal itu sebagaimana kutipan berita jateng.tribunnews.com (29/10/19) yang penulis sertakan, menyebut bahwa selama tahun 2019, Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Amino Gundohutomo Kota Semarang sudah ada delapan pasien yang dirawat karena kecanduan game online. 

Bahkan, saat ditangani oleh tim dokter kebanyakan dari mereka masuk sudah dalam kategori gangguan jiwa berat dan berusia sekolah hingga dewasa. Ada yang agresif, gampang marah ketika lepas dari gadget, hingga ada yang telanjang. Keadaan yang seperti ini tentu patut menjadi keprihatinan kita bersama sebagai orang tua. 

Anak zaman now yang lekat dengan istilah ‘milenial’ dan pasti memiliki gadget tentu sangat riskan jika tidak diperhatikan seksama. Celakanya, tidak sedikit orang tua yang justru punya cara jitu m…

Maksud Menulis Sesungguhnya

ADA-kejadian unik saat program literasi yang penulis dan beberapa teman guru gagas dan sekarang telah berjalan. Keunikan itu terjadi karena dalam satu kali tahun pelajaran 2019/2020 ternyata hasil tulisan guru masih banyak yang Copy Paste (Copas) dari sumber internet.

Hal itu menjadi jelas adanya setelah penulis mendapat kiriman tulisan dari guru yang setiap Sabtu ditayangkan di website sekolah. Ciri yang penulis temukan, sifat tulisannya kaku, baik secara sistematika maupun diksinya. Seakan-akan bila dicermati hal itu bukan murni gaya tulisannya sendiri. 

Dan yang paling mencolok, menulis artikelnya masih disamakan dengan pembuatan makalah, khutbah Jumat, yang deskripsinya khas baik secara kebahasaan dan tipologinya. Padahal itu bukan yang dimaksud sama sekali.

Melihat fakta di atas, pertanyaan kecil memang biasa penulis utarakan pada diri sendiri. Masa selama satu tahun pelajaran, menulis artikel dengan panjang satu setengah halaman A4 saja tidak kelar? Harus copas! Padahal, melihat fa…

Sensasi Bernama 'Promo'

SENIN- sore (19/8), penulis ada jadwal untuk bertemu dengan teman satu almamater waktu jadi aktivis Remaja Masjid di Semarang. Tepatnya di Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (RISMA-JT). Penulis tidak lupa meminta info siapa tahu ada promo menawan terkait pembelian minuman (teh kemasan) di perusahaannya. Setelah dia balas lewat chat WA, ternyata lumayan mengiming-imingi juga. Hanya 10 ribu dapat 6 kotak shrink (istilah market teman penulis). 

Pertanyaannya, kenapa penulis atau bahkan pembaca suka dengan promo, diskon, sale, dll?

Jawaban normatif bila boleh penulis sebutkan, karena produknya itu murah dari harga standarnya. Dengan uang ceban (10 ribu) sudah dapat 6 buah (pcs), dari harga normal yang dijual 2 ribuan lebih satu bijinya. Ini artinya barang ‘promo’ jauh lebih murah dari harga aslinya.

Bicara promo, bagi penulis menjadi magnet banyak orang (termasuk penulis) karena beberapa alasan, diantaranya: 

Pertama, bisa menghemat pengeluaran. Di sini, keinginan untuk memiliki barang aka…

Misteri ‘Alas Duduk’

ADA-yang luput terkait menjaga kebersihan (pakaian) saat guru melakukan pembelajaran kepada anak. Peristiwa itu penulis temukan sudah berulang kali. Anak duduk tanpa memakai alas, dilantai yang lalu lalang sepatu, sandal, dan secara bergiliran menginjak keramik yang akhirnya diduduki oleh mereka.

Bisa jadi, masih ada sisa-sisa percikan ‘najis’ yang menempel dari kamar mandi. Lalu kemudian berpindah dari satu lantai ke lantai lainnya lewat sarana alas kaki. Belum lagi kalau anak-anak duduk sembarangan di halaman sekolah. Padahal, biasanya ludah sering dikeluarkan dari mulut. Juga, kotoran hewan yang kadang terbawa oleh alas kaki saat berjalan.

Fakta demikian kadang menggelikan penulis. Kenapa untuk duduk di tempat yang benar, anak-anak tidak diarahkan dengan baik? Teori bersih seperti tak berguna, tak tertanam dalam kenyataan. Padahal, bisa saja guru menginformasikan agar anak memilih tempat duduk yang bersih demi menjaga kebersihan pakaiannya. Apalagi, pakaian sekolah adalah satu-satuny…

'Solusi' Peduli Lingkungan

PAGI-ini menjadi pagi perdana kegiatan kerja bakti pungut sampah di sekolah. Kegiatan ini lahir Jumat (9/8), saat penulis dengan penanggung jawab Pendidikan Karakter sekolah mendiskusikan penanaman karakter. Satu diantaranya adalah membicarakan langkah sederhana membangun empati sosial terhadap lingkungan.

Silahkan baca beritanya: Satu Siswa Satu Sampah

Akhir-akhir ini, untuk membangun empatik lingkungan memang agak susah. Contoh sederhana, melihat sampah saja banyak yang membiarkan, bukan milikku, atau berpura-pura tidak tahu. Sikap tersebut kalau ‘membudaya’ bisa membahayakan pada mentalitas bangsa. Alhasil, bangsa ini hanya akan pintar membuang, namuan tidak pandai mengelola.

Seiring dengan hal di atas, tentu sekolah adalah hal bijak untuk menanamkan kepedulian lingkungan. Peran sistematis bisa diprogramkan untuk membangun siswa cinta lingkungan. Salah satunya dengan program gerakan pungut sampah (GPS) bertema ‘Satu siswa satu sampah’ sebagaimana dilakukan sekolah penulis.

Kalau sebelu…

Literasi yang Inovatif

MEMBACA-salah satu koran ‘ternama di Jawa Tengah’ baru-baru ini, ada berita bagus. Di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) Kabupaten Semarang, terdapat deklarasi gerakan literasi yang tidak hanya dominan pada membaca, tetapi juga disambung dengan menulis. Bahkan menulisnya diwujudkan dalam buku berjudul ‘Buku Literasi’. Yakni, siswa menuliskan hasil bacaan baik dari koran, majalah, buku, lengkap dengan referensi dengan menyertakan penulis, judul buku/bacaan, halaman, dan jumlah halaman. Itulah kira-kira yang bisa penulis gambarkan.

Inovasi literasi sebagaimana hal di atas, penulis kira sangat perlu. Akan menjadi mudah bagi penulis karena sasarannya adalah anak SMA yang sebentar lagi melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi (PT). Lalu pertanyaan yang mengganjal penulis, apakah bisa untuk tahapan anak Sekolah Menengah Pertama (SMP)?

Literasi sebagaimana di atas sebenarnya juga cocok untuk anak SMP. Usia SMP pada kisaran 13-15 adalah masa produktif untuk menumbuhkan budaya baca dan menulis se…

Semangat Baja Jurnalistik

EKSTRAKURIKULER-Jurnalistik menjadi ‘kurang favorit’ saat pemilihan ekstra yang ada di tempat penulis mengajar. Hal itu tampak dari daftar hadir yang hanya ada tiga peminat sampai pertemuan kedua, Selasa (3/8/19). Pendaftaran yang tahun pelajaran ini sistem on line, juga hanya empat siswa. Bahkan saat opening dan tatap muka dua kali pembelajaran, ada juga yang mengundurkan diri. 

Sebagai pembimbing, penulis tidak bisa memaksa kepada siswa untuk masuk dan bertahan di ekskul Jurnalistik. Karena di ekskul ini yang dibutuhkan adalah mental baja, semangat belajar yang tinggi, dana hasilnya tidak bisa langsung dirasakan.

Saat pengantar pembelajaran ekskul Jurnalistik, penulis juga memberi informasi terkini, bahwa dunia tulis menulis itu akan bernilai jangka panjang. Tidak hanya membekali siswa tentang teori menulis, melainkan yang utama membekali diri mereka terbiasa menulis. 

Oleh karena itu, secara kasat mata, penulis membuat perbedaan antara yang ikut ekskul Jurnalistik dan tidak. Karena ya…

Remaja MAJT yang Eksis

 SETELAH-sekian lama menjadi aktivis Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT), kini dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Dulu yang masih singgel, kini sudah dobel, dan tripel (beranak satu, dua, tiga dst). Justru dari Risma -JT lah mereka semua dipertemukan. Dari yang masih lucu, imut, dan amit-amit kata om Eko Irianto yang punya ciri khas ‘Jenggot naganya.’ 

Kini, aktivis Risma-JT yang tergabung dalam Silaturrahim Alumni (Salam) tetap eksis viaon line lewat grup WhatsApp (WA) yang sudah 8 tahun dibentuk. Tepatnya 27 September 2012 silam. Hadirnya grup ini tidak lain berfungsi sebagai media silaturrahim. Selain itu juga menjadi jembatan ide, gagasan, dan masukan untuk kepengurusan Risma-JT, tidak saja hari ini, tapi dari masa ke masa. 

Hal lainnya, juga sebagai sarana up date informasi tambahan. Bilamana terdapat informasi, kegiatan, atau kajian akbar yang ingin diikuti oleh Salam Risma-JT agar keterikatan dengan masjid tetap terjaga.

Kehadiran Salam Risma-JT, …

Aku dan Usiaku

JIKA-usiamu bertambah, rencanakanlah untuk melakukan hal-hal baru dengan baik.”
(Usman Roin)
Kata inspiratif yang penulis buat ini orisinal. Tanpa formalin. Apalagi berkonotasi plagiasi. Tidak sama sekali. Kata inspiratif yang penulis buat ini lahir seiring dengan penambahan usia penulis. Muncul pada Kamis, 1 Agustus 2019, yang kemudian penulis ketik di laptop one by one dengan inspirasi kata lainnya. Untuk jangka panjang, insya Allah akan berwujud karya buku.

Penulis sadar bila penulis akan bertambah usia di Agustus ini. Sebagaimana jamak kita lihat, saat orang bertambah usia (Ulang tahun) yang identik adalah perayaan. Minimal memberi kejutan dengan ucapan lewat media sosial (Medsos), tiupan lilin dari yang tercinta atau keluarga, teman dan lain sebagainya.

Secara pribadi, ketika usia penulis bertambah, penulis merasa harus merencanakan hal yang baru. Segi tanggung jawab sebagai kepala keluarga harus penulis penuhi dan laksanakan. Semakin sayang dengan Istri dan keluarga. Semakin giat b…

Lamunan Matematis Menulis

ADA-lamunan menarik saat penulis memasuki  jam istirahat kantor. Lamunan itu menggambarkan, bagaimana jika kedepan karya tulis penulis meningkat? 

Walau baru lamunan, namun bagi penulis itu merupakan cita-cita yang perlu diwujudkan. Menambah karya tulis itu artinya kita menambah kuantitasnya. Kuantitas dari yang setahun hanya dua karya tulis, meningkat jumlahnya menjadi tiga, empat, sepuluh dan seterusnya. Itu artinya ada hubungan mesra antara menulis dan kerangka berpikir matematis.

Menulis dan matematis kalau boleh penulis gambarkan, bila dalam sebulan kita punya target tiga hari sekali menulis, lalu kemudian diposting di medsos atau website pribadi, itu artinya dalam sebulan kita sudah mempunyai sepuluh karya tulis. Bila kemudian dikalikan dalam setahun, 120 karya tulis sudah kita hasilkan. 

Baca juga: 'Tidak' Menulis No

Bicara hitungan matematis memang menggiurkan sekali. Terlebih, bila kemudian dihubungkan dengan dunia menulis. Agar hal tersebut berwujud nyata, target menulis…

‘Tidak’ Menulis, No!

OooH-virus menulis, pasca penulis didaulat menjadi narasumber ‘Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media Massa,’ kerjasama Jawa Pos Radar Semarang dengan MGMP Bahasa Indonesia Kota Semarang, yang bertempat di Aula SMP Negeri 5, Sabtu (27/7/19) sungguh memesona.

Pertama, penulis dipertemukan oleh penggemar blog kecil gurunulis.com. Saat penulis sedang menyampaikan bla..; bla..; bla..; ternyata ada yang merespon, dengan mengatakan bila ibu guru tersebut adalah penggemar blog penulis. ‘Masya Allah, alhamdulillah bila blog penulis sudah ada penggemar walau secara kopdar baru ketemu penulisnya,’ kata hatiku.

Di akhir sesi foto, penggemar blog penulis juga menambah kalimat menarik, “Ternyata masih mudah ya .. yang memiliki blog ini,” ungkapnya. Penulis pun jadi tersipu malu dan makin bersemangat berbagi ilmu menulis lewat blog.

Sebagai penulis blog, melalui untaian kata yang berserakan ini, penulis sangat berterima kasih kepada penggemar, yang mohon maaf lupa untuk penulis introgasi nama le…

Seni Menulis

MENJADI-penulis kok tidak mikirin ‘what next’ karya tulis, itu perlu dipertanyakan. Menjadi penulis itu ‘gelar’ yang berat. Kalau hanya menulis karena tugas, tanggung jawab, ya hanya itu yang ia tulis. Tapi menjadi penulis yang betul-betul sebagai penulis, itu perlu rajin menangkap ide yang ber-seliweran dan datangnya tak diundang. 

Namun naas, kadang ide menulis itu muncul saat tidak tepat. Hal itu, sebagaimana yang penulis alami. Saat berkendara pulang, tiba-tiba ide muncul. Jadilah penulis kelimpungan mau mencatat pakai apa? Padahal jalan lagi padat merayap. Ini artinya rizki dari Allah Swt berupa ‘ide menulis’ tidak boleh ditolak. ‘Min haitsu laa yahtasib’ atau tidak di-nyana-nyana. Kalau sudah begitu, maka mengandalkan daya ingat hingga sampai di rumah adalah solusinya.

Menjadi penulis juga kudu sering mancing-mancing ide tulisan yang tidak kunjung datang. Jika demikian, mondar-mandir, tertawa lepas dengan teman sambil nyruput kopi, bil hisab, atau meneropong langit secara telanjan…

Punya Kemampuan Tambahan?

SETIAP-insan pasti punya tugas tambahan di luar tugas pokoknya. Istilah tugas tambahan dalam terminologi Syariat adalah sunah-nya. Jadi itu di luar dari tupoksi yang menjadi kewenangan tanggung jawab pekerjaan.

Penulis juga seperti itu, punya tugas tambahan yang banyak. Mulai dari menjadi admin tiga website resmi. Pertama, milik organisasi profesi keguruan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jateng. Kedua, punya SMP Islam Terpadu PAPB Semarang. Ketiga, aplikasi Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Semarang, dan masih ketambahan website kecil pribadi saya yang bernama gurunulis.com.

Tiga website plus satu tambahan milik penulis sendiri sudah mengajarkan banyak hal. Semua kontennya penulis yang membuat. Itu manakala ada foto kegiatan yang dikirimkan ke gadget milik penulis.

Menjadi peng-upload atau yang memposting baik berita, gambar atau video merupakan kemampuan yang bisa lahir tidak dari jenjang pendidikan formal. Justru penulis tidak menemukan hal itu. Terlebih background keilmuan p…

Bahagialah yang Punya Laptop Jadul

LAPTOP-jadulku selalu menemaniku. Ia seakan seperti ‘istri kedua’. Sejak pertama kali saya beli 28 Juni 2011. Dan kali ini (tahun 2019)  sudah genap delapan tahun. Masya Allah, sungguh awet sekali di kau laptop.

Sedikit informasi, saking jadulnya laptop yang saya miliki, program Windows nya saja masih menggunakan XP atau ‘Experience,’ yang mengutip wikipedia.org merupakan penerus Windows 2000 Professional dan Windows Me, dan merupakan versi sistem operasi Windows pertama yang berorientasi konsumen yang dibangun di atas kernel dan arsitektur Windows NT . Tentu kalau sekarang sudah tidak zaman dan sulit ditemukan service komputer yang mau meng install aplikasi tersebut. 

Walau jadul, laptop yang saya punyai selalu saya rawat. Contoh kecil, bila berdebu selalu saya bersihkan dengan kanebo yang agak lembab dengan air untuk menghilangkan butiran debunya. Lalu, terhitung sudah delapan tahun sejak pembelian, laptop ini baru sekali ganti batrai. Hemat saya, walau jadul tapi tenaga masih prima. …

Eksplorasi Kangen Menulis

KANGEN-mengirimkan karya ke koran itulah perasaan saya hari ini. Perasaan ini sudah saya tahan-tahan namun masih saja tumpah. Ia mendorongku untuk menuliskan gagasan tentang pendidikan. Hanya saja, tema yang cocok lagi saya angan-angan tapi tidak muncul jua.

Setelah sampai kantor, saya baru ingat bila saya masih punya artikel yang belum tayang. Temanya juga masih aktual sekali. Ide awal tulisan tersebut telah saya kirimkan untuk tabloid salah satu teman se organisasi di kota kelahiran, Kabupaten Bojonegoro. Karena masih banyak materi yang belum lengkap, jadinya tabloid tersebut belum naik cetak. 

Untuk memperkuat keyakinan terhadap tulisan yang saya buat, saya meminta guru Bahasa Indonesia (BI) di tempat kerja untuk membaca. Kebetulan guru tersebut lagi free. Sekali berbincang-bincang, mewujudkan tulisan secara kualitas adalah tangga harapan yang saya ingin selanjutnya.

Memang untuk mempersilahkan hasil karya dibaca orang lain (guru BI) perlu keberanian. Sebab, guru BI yang lekat dengan …

Membumikan Diskusi Sehat ala Guru

BELUM-lama ini, penulis mendapatkan pengalaman luar biasa. Sebelumnya ada rasa pesimistis untuk mengampanyekan literasi dari someone. Bahwa sikap tersebut akan berpengaruh ke depannya. Misalnya ketika kita berusaha mengajak seseorang, sedangkan ajakan belum dilontarkan kita sudah pesimis dahulu. Ini artinya ada semacam komunikasi yang terputus antar teman. Padahal bisa jadi ketika kita ‘coba’ menyampaikannya lebih dahulu responnya malah bisa berbalik arah, dari apriori menjadi responsif.

Meski begitu, rasa optimis coba tetap penulis lakukan. Menjaring dan melakukan pendekatan vis a vis itu pada intinya. Caranya dengan mendekati rekan guru yang punya semangat tinggi untuk berjuang. Punya semangat untuk membesarkan literasi di sekolah.

Satu sisi gerakan literasi punya fungsi membesarkan institusi dan sisi yang lain mem-branding SDM-nya agar memiliki potensi yang unggul. Terlebih, tidak selamanya kita menjadi guru di lembaga formal. Justru dengan kesempatan saat berprofesi sebagai guru, ak…

Roda Kelompok yang Macet

BEKERJA-sama dalam sebuah kelompok di instansi pendidikan atau lainnya, itu kadang menguntungkan, namun juga menjemukan. Itulah yang penulis rasakan. 

Menguntungkannya, kalau kita bagian dari tim kelompok, maka kehadiran kita dan anggota lainnya, terkait pekerjaan seberat apapun, bila bersatu-padu akan cepat selesai. Menjadi menjemukan, karena kehadiran “patner” tidak bisa diajak kerjasama, menghambat, hingga terjadi misunderstanding saat gong-nya kegiatan.

Padahal, tugas patner itu membantu hingga terwujudnya tujuan yang lebih makro lembaga pendidikan. Tetapi apabila yang dibantu tidak membutuhkan bantuan kita, ya apa diguna kehadiran kita? 

Situasi seperti inilah yang kadang tidak saling dimengerti oleh orang-orang berkelompok. Sehingga muncul kemalasan. Bahkan sekilas melihat “wajahnya” saja, rasanya tidak ingin bersua dahuluan. Lebih lanjut, hal ini melahirkan “prasangka” apakah kehadiran –kita– hanya sebatas formalitas struktural? 

Jika seperti itu, yang diperlukan adalah kesadaran s…

Spirit Ramadan

MENAPAKI-Ramadan 1440 H/2019 M ini, akan menjadi sama (baca: dengan sebelumnya) bila tidak dipersiapkan. Karena bagi penulis, persiapan yang utama menyambut Ramadan selain sisi pengadaan konsumtif (baca: bahan memasak buka sahur bagi yang berkeluarga), juga adalah persiapan ruhani. Mulai dari spirit keingin salat tarawih dimana, baju atau mukena sudah dipersiapkan kebersihan dan kewangiannya atau belum, yang itu semua perlu diperhatikan guna motivasi pemaksimalan datangnya Ramadan kali ini.

Terlebih, doa kita kalau bulan Rajab datang, “Ya Allah, berkahilah di bulan Rajab dan Sya’ban ini serta sampaikanlah kami di bulan Ramadan” pun sudah terjawab. Ini menunjukkan, kesempatan yang diberikan Allah Swt melalui hadirnya Ramadan kali ini perlu dilakoni dengan sebaik-baiknya. 

Hal itu bisa dimulai dari pribadi kita, hingga bila sudah terpola kepada keluarga dan kerabat, serta teman, baru kemudian meluber menjadi spirit society (baca: jamaah) hingga melahirkan masyarakat edukatif fungsional. Y…

Pentingnya Lingkungan Belajar

BELAJAR-baik membaca atau menulis ternyata perlu lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang penulis maksud baik berupa tempat dan people. Terkait tempat belajar, tentu ruangan khusus buat belajar itulah yang dimaksud. Tempatnya pun bisa di rumah atau di luar. Sebut saja perpustakaan sebagai tempat di luar, yang berisikan deretan buku, akan memberi sugesti belajar yang kuat dari pada di rumah yang tidak ada aktivitas belajar yang diciptakan. 

Ini artinya, menciptakan lingkungan belajar itu perlu dalam rangka memperkuat semangat belajar. Bukan hanya sekedar belajar, melainkan aktivitas belajarnya dilakukan sungguh-sungguh. Apalagi hari ini, belajar memiliki hambatan yang banyak sekali. Sehingga, hambatan belajar pada diri harus terlebih dahulu di urai agar selanjutnya ragam keilmuan apapun yang dipelajari bisa terkuasai dengan baik.

Menciptakan lingkungan belajar bukan berarti kita sendiri yang harus belajar. Melainkan berupaya, agar orang lain (di sekeliling kita) juga diminta belajar, h…