Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menulis Itu Simpelnya Transliterasi

ADA-yang menarik dari judul tulisan ini, bahwa menulis itu tidak lain adalah proses transliterasi. Atau kala membuka KBBI, transliterasi adalah proses penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain.

Lalu apa hubungannya dengan pekerjaan menulis? Begini, kadang orang itu bingungnya setengah mati untuk membahasakan dalam bentuk tulisan apa yang diinginkan dari pikiran. Jadilah setelah rumit, kadang dalam menulis itu banyak mengambil kutipan buku sana dan sini. Akhirnya, setelah dibaca hasil tulisan yang dibuat, terasa kaku karena bukan dari pembahasaan yang dibuat sendiri, melainkan hasil peminjaman bahasa orang lain dalam bentuk kutipan baik langsung atau tidak langsung.


Tentang menulis sebagai proses transliterasi sendiri, ada gambaran menarik dari Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Amin Syukur, MA. Dimana, dalam beliau ceramah selalu mengaktifkan perangkat perekam suara. Tujuannya adalah menyalin apa yang disampaikan tersebut dalam bentuk tulisan.


Jadilah tidak heran, banyak artikel yang tayang dimedia dan beberapa buku karyanya adalah hasil dari proses perekaman yang kemudian ditransliterasi menjadi tulisan. Alhasil, dalam tulisannya terlihat aliran katanya sangat dekat, mudah dicernah dan memudahkan orang awam untuk memahami apa yang disampaikan. Maka pada porsi ini, bila dalam berbicara harus menyesuaikan dengan siapa pendengarnya, dalam menulis pun juga begitu pada dasarnya, yakni siap segmen pembaca tulisan kita.


Jika demikian, menulis itu biar mudah coba dengan transliterasi apa yang kita bicarakan. Gunanya untuk melatih menuangkan apa yang kita bicarakan melalui tulisan. Jadi hasil akhir dari konsep transliterasi ini adalah menulis itu juga mudah sebagaimana orang berkata. Menulis itu pendek-pendek, mempunyai jeda dan runut dan tidak terlalu membebani pikiran yang membikin stress sendiri kala tidak bisa melanjutkannya. 


Dengan demikian, memindahkan bahasa lisan dalam bahasa tulis itu adalah inti memulai menulis. Baru setelah semua proses transliterasi itu berakhir, tahap selanjutnya adalah editing kata baru dilakukan. Gunanya untuk memilah-milah mana kalimat efektif dan mana yang tidak. Mana yang diulang-ulang dan mana yang membingungkan. Semua dilakukan dalam rangka membuang kata-kata yang penting –dalam pembicaraan– namun tidak penting dalam bentuk tulisan atau yang biasa disebut dengan pemborosan kata.


Bila demikian, maka tidak salah bila ciri penulis yang sudah mahir diantaranya mampu mangantarkan kedekatan penggambaran yang tak terhingga kedalam tulisannya. Adapun ciri penulis pemula adalah kedekatan penggambaran jauh sekali dengan tulisannya. 


Hal remah yang terjadi juga bisa menjadi bahan yang justru akan mendekatkan orang lain bahwa melukiskan sesuatu lewat tulisan itu dekat sekali. Justru menulis itu kalau sudah bisa seperti aliran air, akan luwes dibaca, mudah ditangkap dan yang terpenting adalah membuat jarak perbedaan antara kata dan menulis itu tidak jauh. Maka bisa disimpulkan bila menulis itu adalah transliterasi dari proses bicara.

Oleh: Usman Roin
Penulis adalah Kolumnis di berbagai media dan penulis buku "Langkah Itu Kehidupan".

Posting Komentar untuk "Menulis Itu Simpelnya Transliterasi"

Berlangganan via Email