Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Google Form sebagai Kuesioner Zaman Now

MENJADI-pembicara diberbagai acara tentu mengasikkan sekali. Terlebih bila jam terbangnya sudah malang melintang diberbagai instansi, tentu berbagai masukan atas materi yang disampaikan sangatlah dibutuhkan. Jangan sampai, materi yang ditransfer kembali terulang dan tidak ada perubahan yang ending-nya peserta menjadi bosan dengan materi yang dipaparkan.
Untuk menjadi pembicara pemula (sebagaimana penulis) ternyata umpan balik (feedback) pasca pelatihan itu sangat penting. Satu sisi menguji sejauh mana daya tangkap yang diterima oleh peserta atas materi yang kita sampaikan, sisi yang lain ini bermanfaat untuk menemukan sisi materi yang lebih dibutuhkan (needed) oleh peserta jika pelatihan itu kemudian diselenggarakan kembali.
Tidak banyak memang pembicara yang melakukan hal ini, dan hanya pembicara yang berkeinginan untuk maju, terbuka terhadap kritiklah yang akan melakukan hal tersebut. Tentu betapa rugi jika pembicara yang didatangkan salah sasaran karena tidak pintar meminta feedback

Menjadi Guru Sekaligus Penulis

MENJADI-guru tentu bukan semata-mata sekedar nama maupun status saja. Justru menjadi guru adalah profesi mulia yang hari ini sudah terlihat sisi kesejahteraannya. Mulai dari tunjangan profesi, tunjangan khusus, dan tambahan penghasilan lainnya bagi guru dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 

Hadirnya tunjangan sebagaimana penulis sebutkan tersebut adalah buah keprofesionalan yang dimilikinya. Hingga bila guru memiliki kompetensi tambahan semisal “Menulis" tentu secara martabat akan bertambah statusnya, dari guru biasa menjadi guru penulis. Meminjam bahasa Uhar Suharsaputra (2013:153) guru yang demikian memiliki skill mengorganisir pengetahuan (learning organization) dengan baik. Yakni kemampuan menerjemahkan pengetahuan yang dipelajari menjadi informasi sederhana yang bisa diaplikasikan kepada orang lain. Hanya saja, komitmen untuk menjadi seperti itu tidak banyak yang melakukannya. Yang ada hanya rutinitas kegiatan mendidik mulai dari berangkat, mengajar dan pulang.

Untuk menjad…

Curhatan Kawanpun Bisa Jadi Tulisan

CARA-menulis tidak selamanya perihal tema aktual yang sedang terjadi. Melainkan juga bisa menceritakan hal-hal dekat sekali dengan kita. Justru hal yang dekat, objektivitasnya tidak perlu diragukan, kesahihan sumbernya teruji karena paham karakternya.  Hal itu bisa ditemuai dari model menulis curhatan yang menyayat hati, secara fakta terjadi, namun seakan-akan tidak mampu ditangani. Fungsinya tidak lain sebagai penyadar bahwa yang sudah dilakukan itu benar, salah, merugikan dan lain sebagainya sebagaimana kisah berikut ini.

Sebuah curhatan dari seorang karyawan penulis terima. Penulispun mendengarkan dengan cermat sekali. Si karyawan (A) itu bercerita tentang ketidakadilan dari rekan sesama karyawan yang seprofesi. Ia melihat temannya si (B) itu tidak serius dalam menuntaskan pekerjaan. Faktanya, ketika giliran bagian tugas disebuah tempat yang menjadi tanggung jawabnya, cara melakoni pekerjaannya serampangan, bahkan tidak sesuai dengan SOP yang dinstruksikan. 

Anehnya, hal itu berlangs…

Menulis Itu Simpelnya Transliterasi

ADA-yang menarik dari judul tulisan ini, bahwa menulis itu tidak lain adalah proses transliterasi. Atau kala membuka KBBI, transliterasi adalah proses penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain.

Lalu apa hubungannya dengan pekerjaan menulis? Begini, kadang orang itu bingungnya setengah mati untuk membahasakan dalam bentuk tulisan apa yang diinginkan dari pikiran. Jadilah setelah rumit, kadang dalam menulis itu banyak mengambil kutipan buku sana dan sini. Akhirnya, setelah dibaca hasil tulisan yang dibuat, terasa kaku karena bukan dari pembahasaan yang dibuat sendiri, melainkan hasil peminjaman bahasa orang lain dalam bentuk kutipan baik langsung atau tidak langsung.

Tentang menulis sebagai proses transliterasi sendiri, ada gambaran menarik dari Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Amin Syukur, MA. Dimana, dalam beliau ceramah selalu mengaktifkan perangkat perekam suara. Tujuannya adalah menyalin apa yang disampaikan tersebut dalam …

Terputusnya Implementasi Pembelajaran

ADA-hal yang aneh dari sisi amaliah perihal implementasi “menjaga kesucian” saat pembelajaran berlangsung. Peristiwa ini penulis temukan saat pembelajaran outing class yang dilakukan oleh seorang guru, dimana para siswa duduk dilantai yang saben hari dilalui sepatu, sandal, yang dalam prespektif penulis bisa saja sepatu atau sandal tersebut berasal dari kamar mandi habis buang hadas kecil atau besar. 

Tentu bila dinalar dengan sehat, dari kamar mandi –ada sedikit kemungkinan– dari perilaku yang berbeda banyak orang, akan membawa najis (walau bukan berat) dari sepatu atau sandal yang kemudian terbawa saat berjalan di atas lantai. Jika lantai atau halaman sekolah tersebut dibuat duduk siswa tanpa alas (semisal koran/tikar), yang membatasi pantat dan lantai, tentu bagi penulis akan ada najis yang tertempel di celana atau rok siswa yang kemudian juga digunakan untuk salat dan lain sebagainya.

Peristiwa yang penulis uraikan di atas, bila dicermati secara mendalam ternyata ada semacam keterpu…

Memimpikan Keluarga Penulis

BERKARYA-lewat menulis itu perlu ditularkan kepada banyak orang. Proses menularkannya pun tidak hanya kepada orang lain yang tidak kenal atau jauh diluar sana, tetapi juga untuk orang-orang dekat yang kita cintai.

Memang susah dan perlu perjuangan untuk membimbing orang terdekat (keluarga) agar mau membiasakan diri menulis, utamanya yang ada nilai ilmiahnya. Tantangan untuk menyamakan dua isi kepala yang berbeda mazhab, hoby, habit dan lainnya perlu kesabaran tersendiri untuk melakoni-nya. Yang perlu dilakukan adalah senantiasa membimbing mendampingi dan member contoh nyata karya tulis yang kita hasilkan. 

Menulis bersama keluarga itu bagaikan membingkai nafas kehidupan dalam frame yang elegan. Ia seakan menjaga agar keutuhan berkeluarga itu terjaga lewat rona-rona kehidupan yang dideskripsikan dengan kata-kata. Selain itu, menulis bersama keluarga juga menjaga kekompakan ditengah skenario hidup yang diatur oleh Allah Swt yang tidak tahu ending-nya. Justru dengan menulis, ending makna a…

Mengintip Profil Pengguna Medsos

SIAPA-sih yang hari ini tidak punya media sosial (Medsos) mulai dari WhatApp, Instagram, Facebook, Line dan lain sebagainya.  Semua orang mulai dari tua, muda, anak hingga yang berprofesi apapun tentu mempunyai. Hanya saja, jenis dan kegunaannya yang berbeda dari sisi segmentasinya. 

Bila orang tua hadirnya medsos pada prinsipnya akan banyak digunakan untuk mempererat atau mengenang keromantisan dari masa muda yang dahulu pernah dilakoni bersama-sama dengan sesama teman. Hal lainnya, kehadiran medsos bagi kalangan orang tua (baik laik-laki atau perempuan) juga digunakan untuk saling membagi (sharing) aneka informasi baik terkait kesehatan atau berupa nasehat baik terkait agama, motivasi diri, hingga sekedar humor.  Yang penting justru keberadaan medsos bisa menghidupkan group. 

Porsi penggunaan medsos bagi orang tua juga sangat ngetrend dikalangan ibu-ibu. Bagi kaum hawa, keberadaan medsos kebanyak digunakan untuk memposting hasil kreatifitas atau produk sesuatu yang dipunyai. 

Bisa dari…

“Gadget” Ujian Orang Tua Zaman Now

GADGET-sebagai revolusi modernisme hari ini memang tidak lepas dari kehidupan manusia. Ia menyasar siapa saja, tidak cukup orang tua, kaum muda, laki-laki dan perempuan, melainkan sudah juga melekat pada dunia anak zaman now.

Alasan utama gadget kenapa perlu dimiliki agar bisa kekinian, yakni mengikuti trend perkembangan zaman yang mau tidak mau harus diikuti. Namun, alangkah agak miris bila gadget yang hari ini sudah dimiliki oleh anak. Selain untuk meredam agak mereka tidak hiperaktif, juga memudahkan sekali orang tua (utamanya Ibu) dalam mengasuhnya.

Hanya saja patut untuk direnungkan bahwa gadget yang dimiliki anak ternyata bila tidak diarahkan dengan bijak hanya akan membuat mereka malas untuk melakukan sesuatu. Lebih asyik berselancar dan dekat dengan gadget dari pada dengan orang lain bahkan orang tuanya sendiri. Jika ini dibiarkan, tentu masa depan anak akan terancam karena secara sosiali hanya berkutat dengan gadget yang hakekatnya benda mati, bukan bertaut dengan nilai-nilai k…