Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kenangan dengan Kawan

”Di WhatsApp (WA), kita bertemu kembali”, itulah kata yang mungkin bisa mewakili perasaan kecil Saya sebagai bagian dari Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang angkatan 2000 terkhusus paket ’D’. 16 Tahun tak terasa, waktu cukup lama tak berjumpa namun serasa baru kemaren kita berpisah.  

Masa-masa kuliah di IAIN yang sekarang sudah menjadi UIN telah menjadi kenangan. Dulu kita berjumpa dari tidak kenal, masih malu-malu, culun, dan dengan berbagai styile masih-masing, terngiang jelas, oh.. ini teman saya yang sekarang bisa ketemu kembali walau baru dalam dunia maya. Karena, pasti setelah saling akrab didunia maya, ada harapan besar untuk bisa bertemu dalam dunia yang sesungguhnya. 

Lewat WA, kita dipertemukan. Entah iseng atau disengaja, namun saya ’Haqqul yaqin’, bahwa ada niat mulia, ingin merajut kembali persahabatan yang pernah kita bina disalah satu paket kecil bernama ’D’. 

Bila kita ingat bersama, sejuta kenangan indah mulai bangkit kembali. Dulu yang masing punya perawakan kurus kini telah berubah menjadi subur (untuk tidak menyebut gemuk). Dulu yang coba menggandrungi dan digandrungi seseorang, hingga yang coba-coba melakukan pendekatan akan tampak dalam ingatan. Kalaupun tidak ingat, akan ada silang pendapat untuk coba menyentil mengingatkan.

Kenangan, semua itu adalah kisah lalu nan lucu yang secara nalar manis kita tak mungkin kembali lagi. Hanya terbayang, iya, iya, sungguh indah sekali masa itu. Sungguh berharga sekali teman lama yang hari ini tiba-tiba kita rindu kehadirannya. Tentu, bila sudah bertemu tak cukup sehari untuk mengupas habis berbagai kelucuan, kecentilan dan kekhasan cerita dulu yang dibawa masa sekarang.

Cobalah kita ingat, bagaimana upayanya menjadi mahasiswa jaman dahulu. Telepon seluler saja tak semudah sekarang, perpustakaan menjadi tongkrongan menyusun makalah berkelompok. Walau kadang, yang bikin hanya satu orang dan saat akan disampaikan baru digandakan.

Hidup adalah kenangan. Betapa berartinya kita hidup punya kawan yang tak selamanya harus tetap bersetatus menjadi mahasiswa. Namun harus purna alias Wisuda walau dengan tenggang waktu yang berbeda. Mulai dari yang cepat, sedang dan paling buncit, hingga bila tidak dielingkan oleh sang Dekan, seakan-akan kita akan menjadi kaum tua yang malu sendiri karena seharusnya sudah pergi.

Kini semua sudah berubah, sudah ada pendamping pilihan yang terbaik. Sudah menebar sayap keilmuan sendiri-sendiri serta sudah melahirkan atau masih berharap mempunyai generasi yang insya Allah tak seperti kita dahulu, yakni generasi yang saleh salehah. Amin.
Teman-teman semua, WA group kecil ini adalah jalan untuk kita bersilaturrahim lagi.  Mengenan kenangan yang berkunang-kunang dalam ingatan, karena sebagian dari tanda-tanda kehidupan adalah punya kenangan. 

Kita ini boleh dikata sahabat kecil. Namun, jika dikumpulkan menjadi besar dan serasa kembali masuk pada lorong waktu masa lalu. Sungguh beruntung kita punya nomer telepon yang hari ini masih bisa kita gunakan merajut silaturrahim. Karena bila tidak, dunia ini serasa sempit sebab tak punya kawan yang tetap bisa untuk ’Say hello’ dengan yang sesama.

Akhirnya, mari kita kerjakan PR kita hari ini. Antara lain; Pertama, bersama-sama saling mendoakan semoga kesuksesan, keberkahan ada pada kita semua. Karena, kita ini keluarga baru yang lambat laun akan menjadi tua. Untuk itu, kerangka berpikir saling mendoakan dalam kebaikan semoga bisa menjadi penguat tali silaturrahim kita.

 Kedua, yang sudah mempunyai keturunan atau yang masih berusaha, mari menjadi contoh terdepan dalam prilaku kebaikan dikeseharian. Kesibukan boleh ada pada kita, namun contoh dan teladan terbaik (uswatun hasanah) tak boleh kita lewatkan. Karena godaan masa mendatang tentu membutuhkan prinsip antisipasi yang lebih dari kita untuk bisa menaklukkannya.

Dan ketiga, semoga dengan sarana kecil ini, ukhuwah kita tetap terjaga. Karena bila Allah SWT mengizinkan untuk  ’Copy darat’, tak ada satupun mahluk yang bisa menghalangi, karena kita adalah teman dan teman untuk membangkitkan, saling membantu bila ada yang tertimpa musibah, dan ikut berbahagia bila ada yang diberikan nikmat yang endingnya bisa saling berbagi dengan yang lain.

Sebagai penutup, seorang penulis Hellen Keller dengan salah satu bukunya yang terkenal ”The World I Live In dan The Story of My Life” yang menjadi literatur klasik di Amerika dan diterjemahkan ke dalam 50 bahasa mengatakan, ”Berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang”. Semoga, hidup kita manis karena ada teman, sahabat untuk saling berbagi. Amin ya rabbal ‘alamin.

Oleh: Usman Roin
Ketua Umum Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (RISMA-JT) Periode 2005-2006, Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Walisongo Semarang dan Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah.

Posting Komentar untuk "Kenangan dengan Kawan"

Berlangganan via Email