Langsung ke konten utama

Membebaskan Pelajar dari Rokok

ADA-yang tak wajar saat sama-sama penulis berangkat kerja ke sekolah beriringan dengan siswa yang berbaju abu-abu, berboncengan dan ditangan kirinya menyala ”Sepuntung rokok” yang telah dihisap.
Apa yang penulis lihat ini adalah riil terjadi, ada disekitar kita bahkan pembaca mungkin sering melihat namun tidak mampu berbuat apa-apa. Ketidakberdayaan ini akibat kemajuan yang disalah artikan serta pemaknaan kedewasaan yang terlalu dipaksanakan. Apalagi, anak zaman sekarang mudah meminta uang jajan pada orang tuanya tanpa melihat apa yang dijajakan itu baik apa tidak terhadap kesehatan maupun menyalahi aturan yang di berlakukan oleh sekolah.
Tentu sekolah manapun, akan memberikan larangan agar semua siswa tidak merokok. Terlebih, sesuai dengan Perda Kota Semarang No. 3 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok, Pasal 9, jelas-jelas melarang setiap orang atau badan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau di tempat-tempat yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok, salah satunya tempat proses belajar mengajar (sekolah). Terlebih, ada sanksi  jelas ancaman pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling banyak sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
Pada pihak ini, bagus dan sudah tepat bila di sekolah diberlakukan larangan tersebut. Karena diakibatkan siswa akan membuat pemborosan diri dan bila kemudian terbiasa akan menular kepada yang lain. Jadilah kemudian ia bagian dari siswa pemalas yang tidak punya niat bersekolah di tengah banyaknya kaum tak berada ingin sekali mengenyam pendidikan.
Pertanyaannya kemudian, sudahkah di keluarga maupun di masyarakat aturan larangan merokok dini untuk anak-anak itu diberlakukan?
Adanya ulasan ini bukan berarti penulis ingin mencari kambing hitam kesalahan. Melainkan, ikut prihatin dimana siswa sebagai pelajar yang seharusnya konsen belajar malah banyak merokok ditengah usianya yang belum bisa menghasilkan finansial secara mandiri.
Bukan berarti pula, kelak ketika sudah bisa menghasilkan finansial mandiri kemudian bisa rokok seenaknya, melainkan ada kedewasaan yang perlu dibangun, ada tugas belajar yang perlu di tuntaskan dengan sebaik-baiknya terlebih dahulu tanpa harus kepincut dengan sebatang rokok.
Maka, bagi penulis ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menekan angka perokok diusia dini (pelajar). Pertama, orang tua perlu memberi teladan. Ini memberi maksud, kadang sebagai orang tua kita secara kasat mata memperlihatkan aktifitas merokok hingga menghabiskan beberapa bungkus. Disini orang tua harus bisa menahan keinginan untuk merokok agar jangan sampai aktifitas tersebut terlihat oleh anak kita selama dirumah.
Caranya, bisa saja kita -orang tua- sebagai perokok mensiasati akan merokok ketika sudah larut malam. Dengan catatan, segera menghilangkan puntung rokok yang telah dihisab. Atau dengan cara, pergi kesuatu tempat yang tidak terlihat oleh keluarga ataupun merokoknya hanya ketika ditempat kerja saja. Intinya, aktifitas bebas merokok ini jangan sampai terlihat oleh mereka yang masih dini agar kemudian tidak timbul presepsi bahwa rokok itu sah untuk dihisap siapa saja.
Kedua, perlu konsesus bersama. Wujudnya, bagi yang mempunyai warung kopi, toko klontong atau jenis warung lainnya untuk bersama-sama secara sadar ikut memberikan arahan kepada siswa yang membeli rokok pasca pulang sekolah. Karena bila tidak, dengan dalih ingin meraih keuntungan, justru yang ada -sang pedagang- sama dengan memperbolehkan pelajar menkonsumsi rokok tersebut secara leluasa.
Padahal secara jelas tertera disisi samping bungkus rokok, ”Dilarang menjual atau memberikan kepada anak berusia di bawah 18 tahun dan perempuan hamil”. Justru ketika kita sebagai pemilik warung melarang anak-anak untuk membelinya, sama dengan menyelamatkan dia dari bahaya kecanduan rokok terkhusus usia dini agar kemudian mereka lebih fokus pada tugas belajar hingga kemudian secara pribadi menjadi pelajar yang sukses secara akademik pendidikannya.
Ketiga, bagi anak kita yang sudah terlanjur merokok diusia dini langkah bijaknya sebagai orang tua adalah memberi tambahan aktivitas edukatif kepada mereka. Contohnya, bisa dengan memasukkan mereka ke pesantren atau sekolah-sekolah yang bersistem full day atau boarding school. Tujuannya, dengan aktifitas pembelajaran yang sehari penuh tersebut bisa menghilangkan ketergantungan mereka untuk menkonsumsi rokok ketika mereka pulang sekolah. Karena, ada pantauan secara langsung dari guru selama di sekolah hingga bila mereka kembali ke rumah, orang tua sudah siap untuk kemudian berganti mengawasi pola aktivitasnya.
Akhirnya, hal diatas adalah sebuah upaya kecil agar anak-anak kita sebagai pelajar masa depan tidak menjadi pecandu rokok dini. Jangan sampai pula, generasi sekarang yang otaknya keren, sayangnya banyak salah arah. Justru dengan menjadi teladan tidak merokok sembarangan dan mengarahkan mereka konsen belajar dulu adalah langkah bijak dan mulia untuk bersama-bersama ikut mempersiapkan mereka menjadi insan berkarakter yang kita cita-citakan. Semoga!

Oleh: Usman Roin
Guru Ekskul Jurnalistik SMP IT PAPB Semarang & Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remaja MAJT yang Eksis

 SETELAH-sekian lama menjadi aktivis Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT), kini dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Dulu yang masih singgel, kini sudah dobel, dan tripel (beranak satu, dua, tiga dst). Justru dari Risma -JT lah mereka semua dipertemukan. Dari yang masih lucu, imut, dan amit-amit kata om Eko Irianto yang punya ciri khas ‘Jenggot naganya.’ 

Kini, aktivis Risma-JT yang tergabung dalam Silaturrahim Alumni (Salam) tetap eksis viaon line lewat grup WhatsApp (WA) yang sudah 8 tahun dibentuk. Tepatnya 27 September 2012 silam. Hadirnya grup ini tidak lain berfungsi sebagai media silaturrahim. Selain itu juga menjadi jembatan ide, gagasan, dan masukan untuk kepengurusan Risma-JT, tidak saja hari ini, tapi dari masa ke masa. 

Hal lainnya, juga sebagai sarana up date informasi tambahan. Bilamana terdapat informasi, kegiatan, atau kajian akbar yang ingin diikuti oleh Salam Risma-JT agar keterikatan dengan masjid tetap terjaga.

Kehadiran Salam Risma-JT, …

Kisah Pilu ‘Karpet Masjid’

ADA-kisah menarik tentang karpet masjid. Tepatnya karpet masjid yang selesai dicucikan namun tidak kunjung dipasang-pasang kembali oleh marbot. Mengutip wikipedia.org, marbot masjid adalah seseorang yang bertanggung jawab mengurus keperluan masjid, utamanya yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut.

Terlebih, meminjam bahasa H. Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail dalam buku ‘Menuju Masjid Ideal’ (2001: 96) bahwa kelengkapan fasilitas masjid (Karpet, AC, ruangan-ruangan, dll) adalah bagian dari tanda langkah-langkah menuju masjid itu dikatakan ideal. Sebab, masjid telah memiliki kelengkapan fasilitas untuk memakmurkan umatnya baik terkait ubudiyah, sosial, pendidikan dan lain-lainnya.

Anehnya, melihat karpet sebagai kelengkapan fasilitas masjid yang ideal, dan tidak kunjung dipasang, tidak banyak yang coba memberi masukan. Atau justru, penulis yang terakhir memberi masukan. Entahlah, yang penting penulis coba untuk ikut mengingatkan. Padahal keberadaan karpet m…

Agar Produktif Menulis

MENULIS-memang penuh lika-liku emosi. Kadang ia menunjukkan capaikan yang luar biasa, namun pada suatu saat akan surut sebagaimana air laut. Apalagi bila sematan “penulis” sudah ada, tentu produktifitas menulis harus dijaga. Usahanya adalah dengan cara menulis, menulis dan menulis.
Menulis “walau dari dini” orang belajar, namun belum dijadikan sebagai kebiasaan (habit). Apalagi program literasi juga baru digemborkan. Tentu sumber untuk menghasilkan tulisan akan jauh dari panggang. Ibaratnya menulis belum menjadi kebiasaan sebagaimana kebutuhan pokok seperti makan, minum dsb. Alhasil, karya tulis akan minim dihasilkan oleh insan manapun.
Hal itu belum ditambah pengaruhi gaya hidup milenial sekarang ini. Dimana instan menjadi pemandangan keseharian. Alhasil lahirlah generasi “micin” yang hanya pintar merasakan tanpa tahu bagaimana berproses, mengasah potensi, hingga berjuang memerangi kemalasan dirinya sendiri. Boro-boro melahirkan karya, mengendalikan diri saja untuk berbuat positif tak…