Langsung ke konten utama

Akibat Teledor Membaca Pesan

MENEGUHKAN- komitmen bebas narkoba, itulah persyaratan untuk calon mahasiswa S2 UIN Walisongo Semarang. Karena, berkat karunia Allah SWT penulis bisa diterima menjadi salah satu bagian dari mahasiswa Pascasarjana konsentrasi Program Studi  Pendidikan Agama Islam (PAI).
Maka, ketika pengumuman penerimaan tersebut di posting di web resmi Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, penulis-pun sudah ancang-ancang. Antara lain, mulai dari mempersiapkan keuangan hingga niat tinggi untuk sebisa mungkin masalah keuangan diselesaikan diawal pembukaan registrasi. Khawatirnya, karena jumlah mahasiswa yang diterima banyak dan itu belum nanti bersamaan dengan registrasi S1 juga. Alangkah lebih baik bila niat menuntaskan keuangan ini diawal waktu bagi penulis adalah pilihan tepat.
Akhirnya, ketika sudah tiba Senin, 22 Agustus 2016 sebagai awal pembukaan Tatacara Pembayaran Biaya Pendidikan dan Regristasi Mahasiswa Baru Program Magister (S2) penulispun dengan cekatan mempersiapkan diri hadir di UIN Walisongo Semarang. Mulai dari harus periksa dahulu kesehatan dan tes urin untuk melihat menggunakan narkoba tidak penulis sebagai calon mahasiswa.
Saat disinilah, penulis pun seperti teledor karena lama tidak berkutat pada hal-hal administrasi menjadi agak tergesa-gesa. Bagaimana tidak, saat mendaftar ke Klinik Pratama UIN Kampus I, tepatnya setelah dikasih nota pembayaran dan disodorin botol kecil wadah urin, penulis langsung keluar dari Klinik tersebut setelah menyerahkan urin. Padahal, seharusnya menunggu dulu hasil dari tes urin apakah positif atau negatif.
Penulis baru sadar ketika sudah mengantri di Bank BPD Syariah yang tempatnya tidak jauh dari Klinik tersebut. Tanpa sadar sambil menunggu panggilan dari kasir, penulis melihat lagi alur proses pembayaran. Dan ternyata, ada yang kelupaan bahwa pembayaran SPP, orientasi akademik dan biaya matrikulasi (ini terkhusus untuk nilai bahasa yang belum memenuhi standar minimum), dilunasi setelah hasil tes narkoba keluar. Saat mau dipersilahkan sama satpam saat tiba giliran penulis terlayani, penulispun segera minta izin untuk ketemu dengan teman dahulu dan kemudian kesini lagi.
Padahal, hati penulis setelah keluar dari Bank ingin kembali ke klinik untuk melihat hasil dari tes urin yang penulis tinggal begitu saja. Namun, alhamdulillah dari kejadian ini penjaga yang ada di Klinik pun bilang sempat mencari-cari penulis. Karena, hasil tes urin nya -negatif- menggunakan narkoba. Akhirnya, setelah selesai penulispun baru sadar akan pentingnya pesan itu sebaiknya akan menjadi paham bila dibaca secara keseluruhan.
Penulis sadar, ada pesan yang hanya terbaca sekilas saja tanpa difahami secara detail tentu akan salah paham lagi langkah yang dilakukan. Contohnya penulis sendiri, bagaimana bila kemudian hasil tes urin contoh kata positif dan sudah membayar pula uang registrasi secara keseluruhan, bisa-bisa penulis akan rugi dua kali.
Namun, terlepas dari itu secara administratif diawal ini penulis ingin tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar yang diberikan ini. Salah satunya dengan membayar tepat waktu, dan mendukung program UIN Walisongo Semarang untuk para mahasiswanya harus bebas dari narkoba. (usman/16)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remaja MAJT yang Eksis

 SETELAH-sekian lama menjadi aktivis Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT), kini dipertemukan kembali walau dengan keadaan yang berbeda. Dulu yang masih singgel, kini sudah dobel, dan tripel (beranak satu, dua, tiga dst). Justru dari Risma -JT lah mereka semua dipertemukan. Dari yang masih lucu, imut, dan amit-amit kata om Eko Irianto yang punya ciri khas ‘Jenggot naganya.’ 

Kini, aktivis Risma-JT yang tergabung dalam Silaturrahim Alumni (Salam) tetap eksis viaon line lewat grup WhatsApp (WA) yang sudah 8 tahun dibentuk. Tepatnya 27 September 2012 silam. Hadirnya grup ini tidak lain berfungsi sebagai media silaturrahim. Selain itu juga menjadi jembatan ide, gagasan, dan masukan untuk kepengurusan Risma-JT, tidak saja hari ini, tapi dari masa ke masa. 

Hal lainnya, juga sebagai sarana up date informasi tambahan. Bilamana terdapat informasi, kegiatan, atau kajian akbar yang ingin diikuti oleh Salam Risma-JT agar keterikatan dengan masjid tetap terjaga.

Kehadiran Salam Risma-JT, …

Kisah Pilu ‘Karpet Masjid’

ADA-kisah menarik tentang karpet masjid. Tepatnya karpet masjid yang selesai dicucikan namun tidak kunjung dipasang-pasang kembali oleh marbot. Mengutip wikipedia.org, marbot masjid adalah seseorang yang bertanggung jawab mengurus keperluan masjid, utamanya yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut.

Terlebih, meminjam bahasa H. Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail dalam buku ‘Menuju Masjid Ideal’ (2001: 96) bahwa kelengkapan fasilitas masjid (Karpet, AC, ruangan-ruangan, dll) adalah bagian dari tanda langkah-langkah menuju masjid itu dikatakan ideal. Sebab, masjid telah memiliki kelengkapan fasilitas untuk memakmurkan umatnya baik terkait ubudiyah, sosial, pendidikan dan lain-lainnya.

Anehnya, melihat karpet sebagai kelengkapan fasilitas masjid yang ideal, dan tidak kunjung dipasang, tidak banyak yang coba memberi masukan. Atau justru, penulis yang terakhir memberi masukan. Entahlah, yang penting penulis coba untuk ikut mengingatkan. Padahal keberadaan karpet m…

Agar Produktif Menulis

MENULIS-memang penuh lika-liku emosi. Kadang ia menunjukkan capaikan yang luar biasa, namun pada suatu saat akan surut sebagaimana air laut. Apalagi bila sematan “penulis” sudah ada, tentu produktifitas menulis harus dijaga. Usahanya adalah dengan cara menulis, menulis dan menulis.
Menulis “walau dari dini” orang belajar, namun belum dijadikan sebagai kebiasaan (habit). Apalagi program literasi juga baru digemborkan. Tentu sumber untuk menghasilkan tulisan akan jauh dari panggang. Ibaratnya menulis belum menjadi kebiasaan sebagaimana kebutuhan pokok seperti makan, minum dsb. Alhasil, karya tulis akan minim dihasilkan oleh insan manapun.
Hal itu belum ditambah pengaruhi gaya hidup milenial sekarang ini. Dimana instan menjadi pemandangan keseharian. Alhasil lahirlah generasi “micin” yang hanya pintar merasakan tanpa tahu bagaimana berproses, mengasah potensi, hingga berjuang memerangi kemalasan dirinya sendiri. Boro-boro melahirkan karya, mengendalikan diri saja untuk berbuat positif tak…