Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Kenangan dengan Kawan

”Di WhatsApp (WA), kita bertemu kembali”, itulah kata yang mungkin bisa mewakili perasaan kecil Saya sebagai bagian dari Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang angkatan 2000 terkhusus paket ’D’. 16 Tahun tak terasa, waktu cukup lama tak berjumpa namun serasa baru kemaren kita berpisah.  

Masa-masa kuliah di IAIN yang sekarang sudah menjadi UIN telah menjadi kenangan. Dulu kita berjumpa dari tidak kenal, masih malu-malu, culun, dan dengan berbagai styile masih-masing, terngiang jelas, oh.. ini teman saya yang sekarang bisa ketemu kembali walau baru dalam dunia maya. Karena, pasti setelah saling akrab didunia maya, ada harapan besar untuk bisa bertemu dalam dunia yang sesungguhnya. 

Lewat WA, kita dipertemukan. Entah iseng atau disengaja, namun saya ’Haqqul yaqin’, bahwa ada niat mulia, ingin merajut kembali persahabatan yang pernah kita bina disalah satu paket kecil bernama ’D’. 

Bila kita ingat bersama, sejuta kenangan indah mulai bangkit kembali. Dulu yang masing punya perawa…

Menekan Pelajar Bermotor ke Sekolah

PELAJAR-mengendarai motor dibawah umur sudah menjadi fenomena kasat mata kita. Padahal, Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 77 Ayat 1, mengatakan ”Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki surat izin mengemudi sesuai dengan jenis kendaraan bermotor yang dikemudikan”. Secara eksplisit, pelajar yang belum genap usia 17 tahun dilarang menggunakan motor di jalan raya. Sebab, belum mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi).

Namun, realitasnya jauh dari kenyataan yang ada. Karena, hampir dibeberapa sekolah -menengah pertama- sudah banyak pelajar saat berangkat sekolah menggunakan motor. Alasan mereka sederhana, agar tidak telat ke sekolah, karena orang tua tidak bisa mengantarkan hingga sebab sudah bisa mengendarai motor sendiri.

Pada porsi ini, satu sisi ada yang benar. Namun disisi lain perlu dilihat secara cermat bagaimana polah pelajar yang membawa motor. Justru, naluri untuk menggeber sekuat-kuat motornya saat pulang se…

Membebaskan Pelajar dari Rokok

ADA-yang tak wajar saat sama-sama penulis berangkat kerja ke sekolah beriringan dengan siswa yang berbaju abu-abu, berboncengan dan ditangan kirinya menyala ”Sepuntung rokok” yang telah dihisap.
Apa yang penulis lihat ini adalah riil terjadi, ada disekitar kita bahkan pembaca mungkin sering melihat namun tidak mampu berbuat apa-apa. Ketidakberdayaan ini akibat kemajuan yang disalah artikan serta pemaknaan kedewasaan yang terlalu dipaksanakan. Apalagi, anak zaman sekarang mudah meminta uang jajan pada orang tuanya tanpa melihat apa yang dijajakan itu baik apa tidak terhadap kesehatan maupun menyalahi aturan yang di berlakukan oleh sekolah.
Tentu sekolah manapun, akan memberikan larangan agar semua siswa tidak merokok. Terlebih, sesuai dengan Perda Kota Semarang No. 3 Tahun 2013 tentang Kawasan Tanpa Rokok, Pasal 9, jelas-jelas melarang setiap orang atau badan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau di tempat-tempat yang telah ditetapkan sebagai Kawasan …

Akibat Teledor Membaca Pesan

MENEGUHKAN- komitmen bebas narkoba, itulah persyaratan untuk calon mahasiswa S2 UIN Walisongo Semarang. Karena, berkat karunia Allah SWT penulis bisa diterima menjadi salah satu bagian dari mahasiswa Pascasarjana konsentrasi Program Studi  Pendidikan Agama Islam (PAI).
Maka, ketika pengumuman penerimaan tersebut di posting di web resmi Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, penulis-pun sudah ancang-ancang. Antara lain, mulai dari mempersiapkan keuangan hingga niat tinggi untuk sebisa mungkin masalah keuangan diselesaikan diawal pembukaan registrasi. Khawatirnya, karena jumlah mahasiswa yang diterima banyak dan itu belum nanti bersamaan dengan registrasi S1 juga. Alangkah lebih baik bila niat menuntaskan keuangan ini diawal waktu bagi penulis adalah pilihan tepat.
Akhirnya, ketika sudah tiba Senin, 22 Agustus 2016 sebagai awal pembukaan Tatacara Pembayaran Biaya Pendidikan dan Regristasi Mahasiswa Baru Program Magister (S2) penulispun dengan cekatan mempersiapkan diri hadir di UIN Walison…

Memoderenkan Birokrasi Pendidikan

ADA yang menarik, saat indonesiana.tempo.co menurunkan berita tentang bocornya memo mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, prihal guru bernama Ibu Mei, seorang guru TK dari Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang yang sudah berusia 59 tahun. Sebab, tahun depan ia akan segera pensiun. Jika tahun ini tidak segera diurus, ada kehawatirkan tidak akan bisa menikmati uang pensiun yang harus ia terima. Bagi penulis, memo Pak Anis itu punya tujuan awal rahasia. Yakni, hanya ditujukan kepada pejabat di Kemendikbud pusat dalam hal pelayanan birokrasi pendidikan yang tidak bisa tuntas. Penyebabnya, pejabat berwenang tidak ada ditempat sehingga ketika ada orang yang membutuhkan pelayanan seharusnya bisa segera selesai dan tak harus mengulang untuk datang lagi dihari berikutnya. Kemudian, ketika memo itu menyebar dalam pemberitaan (viral) sesungguhnya membawa pesan manis para birokrat pendidikan secara umum. Yakni, Kemendikbud sendiri, lebih-lebih Dinas pendidikan terkait baik Dae…