Langsung ke konten utama

Postingan

‘Terapilah’ dengan Menulis

INFORMASI-yang cukup mengejutkan, membahagiakan, saya terima dari teman pewarta cetak ‘SM’ sebagai inisial. Dari artikal yang telah saya buat dan tayang di media online, kemudian alamat link-nya saya gunakan update status, tiba-tiba teman pewarta menghubungi saya via japri. Intinya, minta file artikel dan foto yang telah tayang untuk dikirimkan kepadanya.

Saya kemudian mengirimkan kepada teman pewarta sambil sekali bertanya, bahwa tulisan yang saya buat itu bentuknya artikel bukan berita? Jawaban pewarta, sudah dimengerti dan ingin digubah menjadi berita khusus, menyikapi kemandirian belajar siswa akibat Covid-19 yang menjadi pandemi atau wabah yang berjangkit serempak dimana-mana. 

Dengan senang hati saya pun mengirimkan. Niatan saya, selagi bisa memberikan manfaat, saya sangat mempersilahkan siapa saja membagikan dalam bentuk apapun kepada orang lain. Toh  itu adalah karya ‘ori’ dari saya sebagai penulis.

Sebagai pembaca sekaligus penulis, saya ikut senang. Bahkan, saya merasa terdoron…
Postingan terbaru

Panas Dingin Orangtua

COVID-19 menjadi bahasan yang tak kunjung surut. Di kantor, di rumah, di lembaga pendidikan, mall, rumah ibadah, tongkrongan kopi, dan juga chat yang super dahsyat di group WA. Apalagi ketika diumumkan ‘libur’ belajar, alias belajar dari rumah. Info itulah yang sangat dinanti-nanti oleh segenap orangtua. 

Ketika sudah ketok palu, dengan hadirnya surat edaran (SE), mulai dari Kemendikbud, Gubernur, Walikota/Bupati, Dinas Pendidikan, dan Sekolah,  memang ‘ada’ yang agak berat hati  ‘sebagian orangtua’ saat anaknya di rumah. Yang ekstrim, ada gambaran ‘rumah akan jadi kapal pecah,’ kata some one yang penulis rahasiakan namanya dari obrolan group WA. 

Sikap di atas bagi penulis wajar. Seperti ada ‘kepanikan’ saat anak terbiasa belajar di sekolah, namun sekarang belajar dari rumah. Hanya saja, dikarenakan Covid-19, penulis percaya, kekagetan orangtua pada awal tidak akan terus menerus. Karena bagaimana mengendalikan anaknya agar tetap belajar selama di rumah, orangtua sudah bisa membaca bahw…

Obrolan dengan bib Ata Senior RISMA-JT

JUMAT-(17/1/20) malam saya ditanya oleh senior di organisasi Remaja Masjid Agung Jawa Tengah atau yang familier di singkat dengan RISMA-JT. Bib Ata itulah nama panggilan terbaru penulis. Panggilan itu bagi penulis tidak salah karena nama beliau memang Ata M Habib. Jadi kalau penulis ‘penggal’ nama belakang dan saya tambah dengan nama pertama, tidak ada unsur eksploitasi terkait pencemaran nama baiknya. Ha..ha..ha.

Pokok masalah yang ditanyakan belia adalah benarkah penulis menjabat sebagai Ketua RISMA-JT tahun 2006-2007. Dengan lugas dan sambil mengingat-ingat penulis kemudian meng-ia-kan. Karena disaat menjabat sebagai Ketua, masa jabatan penulis hanya setahun. Yang akhirnya setelah beberapa periode setelah penulis, kepengurusan setahun itu pendek sekali. Yang akhirnya diperharui masanya menjadi dua tahun setiap yang menjabat sebagai Ketua RISMA-JT.

Ingatan akan periodesasi masa jabatan para Ketua RISMA-JT, bagi penulis dan bib Ata akan pasti bila ada catatan yang dilakukan. Sayangnya …

Sedekah Rasa Sawer

BAGI-anda yang suka musik dangdut, atau yang lazim disebut dangdut mania, tentu tidak asing dengan musik yang satu ini. Apalagi bila sudah mendengarkan dangdut ‘koplo’ waduh, rasanya seperti ingin joget-joget saja jempol tangan. Karena selain permainan kendangnya yang membikin orang ketagihan dan tergerak joget, juga para biduannya yang aduhai mantap pisan auranya.

Bicara orkes melayu dangdut, utamanya yang koplo, saya hanya akan menyampaikan yang saya ketahui saja. Ada Om Monata dari Sidoarjo, Jawa Timur; Om Sera dari Gresik, Jawa Timur; Om New Palapa dari Sidoarjo, Jawa Timur; Om Sagita dari Nganjuk, Jawa Timur; Om Sonata dari Jombang, Jawa Timur; Om Adella dari Tuban, Jawa Timur; dan Om Pantura dari Demak, Jawa Tengah. 

Apalagi, bicara dangdut, tidak lengkap rasanya dengan istilah sawer, yang dalam kamus KBBI online berarti meminta uang kepada penonton atau penonton memberikan uang kepada pemain. Apalagi kalau biduannya cantik, suaranya merdu, dan aduhai, pasti akan banyak penyawer y…

Wayahe Ngaji Alquran

HARI-ini (5 hari sekali) adalah jadwal saya setoran menghafal Quran dengan salah satu guru tahfiz di Sekolah yang juga sudah hafiz. Semangat untuk bisa menghafal Quran muncul karena saya ingin hafal Quran. Walau tidak dalam jumlah yang banyak, hingga berlembar-lembar, hal itu tetap saya lakukan. Karena keinginan saya, sehari satu ayat (one day one ayat).

Semangat muda untuk menghafal Quran tidak ingin saya padamkan. Entah kapan hatamnya itu tidak perlu saya pusingkan. Karena, dalam hitungan matematis, bila jumlah ayat Quran menurut Kuffiyun sebanyak 6.236 ayat, dan bila setahun ada 365 hari, artinya butuh 17 tahun satu bulan untuk merampungkannya. Benak kecil saya, semoga niatan baik ini senantiasa mendapatkan kemudahan dari Allah Swt.

Disalah satu materi hutbah, tertanggal 3 Januari 2020, saya sebagai khatib pernah menyampaikan, siapa lagi bila tidak kita (generasi muslim) yang menghafal Quran? Justru yang sudah lancar, bisa, dan bahkan fasih membaca Quran tidak berhenti di situ saja, …

Pikir Punya Pikir ‘Stampel’ Buku

SIANG-ini, Sabtu (4/1/20), saya diminta untuk refill (isi tinta) stampel organisasi Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Semarang. Karena tidak memiliki isi ulang tintanya, akhirnya saya putuskan untuk mengisikan kepada ahli stampel yang tidak jauh dari tempat kerja.

Jasa tempat stampel modern itu adalah disalah satu swalayan ‘A..’ di Majapahit. Agar saya tidak kecelik dengan yang membuat, saya kemudian bertanya kepadanya di WA. Kebetulan sekali saya punya WA-nya. Tidak begitu lama, alhamdulillah direspon dengan jam buka yang jelas, yakni 14.30 Wib, setelah dia makan siang di warung yang tidak di sebutkan keberadannya.

Setelah saya ke lapak yang dimiliki di depan swalayan, keinginan saya untuk refill (isi ulang tinta) saya sampaikan. Jika satu warna Rp. 10.000, adapun kalau dua warna Rp. 20.000. Itulah keterangan resmi yang diberikan kepada saya.

Dalam proses refill stampel, saya sambil mengamati bagaimana caranya. Siapa tahu, saya sendiri bisa melakukannya. Setelah mengamati dan tahu, saya…

Spirit Belajar di Tahun Baru

BERAKHIRNYA-liburan natal dan tahun baru, tentu menyisakan tanda tanya mendalam. Apakah spirit perubahan ada pada kita semua, tidak terkecuali para pelajar dalam hal belajar? 

Pertanyaan ini penulis tekankan agar jangan sampai kehadiran tahun baru sekadar berlalunya kalender bulan Desember yang lama (old) menuju lembaran bulan Januari baru (new) yang nihil dari aktivitas dan semangat belajar. Justru tahun baru adalah tahun merumuskan strategi kehidupan untuk setahun yang akan datang tidak terkecuali kepada para pelajar dalam hal sukses belajarnya. Tujuannya, guna menjemput kesuksesan hidup yang diimpikan. Sehingga, peralihan zaman now –tahun baru– menjadi pemantik diri untuk memperbaiki segala usaha (ikhtiar maupun doa) sebagai langkah memperbarui mindset (pola pikir) guna mewujudkan goal tujuan kehidupan yang diimpikan melalui implementasi nyata melalui spirit baru belajar.

Tentang belajar bagi para pelajar pasca liburan, yang diperlukan adalah menciptakan lingkungan pembelajar. Lingku…